Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengatakan kapal nan membawa input pertanian krusial kudu segera mulai melewati Selat Hormuz untuk mencegah akibat lonjakan nilai pangan nan rawan di akhir tahun ini, nan dapat memicu serangkaian pengaruh serupa dengan akibat krisis pandemi COVID-19.
Selat Hormuz jadi titik panas dalam perang AS-Israel dengan Iran. Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump menakut-nakuti memblokade Selat Hormuz lantaran perundingan tenteram nan digelar di Islamabad, Pakistan, buntu.
"Waktu terus berjalan, dan almanak tanam menempatkan negara-negara miskin pada akibat nan besar akibat kelangkaan dan mahalnya pupuk dan input energi," kata Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, dalam siaran podcast berbareng Direktur Divisi Ekonomi Pangan dan Pertanian FAO, David Laborde, dikutip Selasa (14/4).
"Hal nan paling tidak kita inginkan adalah hasil panen nan lebih rendah dan dan nilai komoditas nan lebih tinggi, serta inflasi pangan untuk tahun depan," kata Torero.
Menurut Torero, perihal itu kemungkinan bakal memaksa negara-negara untuk menetapkan kebijakan menurunkan nilai pangan, memicu suku kembang nan lebih tinggi, dan hasilnya potensi pertumbuhan ekonomi jadi lebih lambat di seluruh dunia.
Blokade Selat Hormuz Bikin Petani Dihadapkan pada Pilihan nan Sulit
Indeks Harga Pangan FAO terbaru mencakup bulan Maret dan relatif stabil berkah pasokan sebagian besar komoditas pangan nan melimpah, utamanya sereal.
Namun, tekanan meningkat pada April dan bakal semakin intensif pada Mei lantaran para petani bakal mengambil keputusan apakah bakal mengubah pilihan penanaman untuk beradaptasi dengan kesiapan pupuk, serta apakah bakal mengalokasikan lebih banyak lahan dan sumber daya untuk biofuel guna mendapat untung dari nilai minyak nan tinggi tapi mengurangi pasokan pangan global.
"Kita berada dalam krisis input; kita tidak mau menjadikannya bencana. Perbedaannya tergantung pada tindakan nan kita ambil," kata Laborde.
FAO mendesak seluruh negara untuk mempertimbangkan dengan saksama mandat biofuel dan nan terpenting menghindari pembatasan ekspor daya dan pupuk.
Jika kebuntuan di Selat Hormuz tidak segera diakhiri, langkah antisipatif kudu dipertimbangkan, khususnya meminta lembaga multilateral untuk menyediakan pembiayaan kepada negara-negara nan berisiko kehilangan akses terhadap input pupuk dasar mengingat masa tanam telah dimulai.
Fasilitas neraca pembayaran dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Jendela Guncangan Pangan (Food Shock Window), mengikuti Fasilitas Pembiayaan Impor nan disarankan FAO pada 2022, dapat digunakan sebagai akomodasi pembiayaan input nan memungkinkan negara-negara nan hari ini memerlukan pupuk untuk mendapatkannya segera tanpa memicu persaingan subsidi nan mendistorsi.
FAO telah mengembangkan prioritas negara berasas almanak tanam, berasas kapan dan berapa banyak pupuk nan mereka butuhkan.
"Risikonya sangat jelas. Jika tidak dipercepat, risikonya bakal semakin parah," kata Torero.
FAO mengatakan ekspor antara 20 dan 45 persen dari input pangan berbasis pertanian utama berjuntai pada jalur laut melalui Selat Hormuz. Jika petani memproduksi input nan lebih sedikit, maka bakal terjadi penurunan hasil panen pada akhir tahun ini dan pada 2027, dengan nilai komoditas pangan nan lebih tinggi dan inflasi pangan ritel kemungkinan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
Sebagian besar petani telah menghadapi margin untung nan tipis dan jika mereka bangkrut, maka situasi pasokan pangan bumi bakal memburuk dalam jangka waktu nan lebih lama.
Pembatasan perdagangan dan ekspor memperburuk lonjakan nilai pangan pada krisis-krisis sebelumnya, lantaran upaya untuk mengisolasi pasar dalam negeri dari pasar bumi memperparah kondisi global.
Pasar pupuk dan daya berkarakter inelastis, sehingga nilai dapat naik jauh lebih tinggi daripada perubahan volume perdagangan. Pasar kemungkinan dapat bereaksi dengan sigap jika kapal tidak segera melewati Selat Hormuz.
Torero mengatakan tidak seperti musibah alam alias tekanan suasana seperti El Nino, blokade Selat Hormuz merupakan sesuatu nan dapat dan kudu diselesaikan oleh pemerintah.
Petani telah menghadapi margin untung nan tipis dan jika mereka bangkrut, situasi pasokan pangan bakal memburuk dalam jangka waktu nan lebih lama.
Risiko hari ini lebih besar dibandingkan pada 2022, dan kondisi ini memungkinkan terjadinya "badai sempurna" jika turut dipengaruhi oleh El Nino nan kuat alias melampaui krisis pandemi.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·