Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana ekspor beras Indonesia ke Malaysia tetap tertahan di tahap negosiasi harga. Hingga kini, kedua pihak belum mencapai kesepakatan lantaran perbedaan nilai nan tetap cukup lebar.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pembahasan dengan Malaysia saat ini tetap tertahan oleh proses tawar-menawar harga. Sementara dari sisi kualitas, dia menyatakan Malaysia sudah cocok dengan beras Indonesia, alias dalam perihal ini tidak ada persoalan.
"Kami nego untuk nilai kemarin. Nah nilai nan belum cocok, lantaran jika kualitas mereka sudah oke, nggak ada masalah," ungkap Rizal saat ditemui di instansi Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, nilai nan diajukan Malaysia tetap jauh di bawah ekspektasi Indonesia.
"Tinggal nilai nan menurut kami agar dinaikkan lagi. Karena nilai nan mereka minta terlalu rendah. Masih di bawah Rp10.000 (per kg)," katanya.
Padahal, nilai beras di dalam negeri saja sudah berada di atas nomor tersebut. Untuk beras SPHP misalnya, harganya mencapai Rp12.500 per kg, sedangkan beras premium nilai satuan tertinggi (HET)-nya Rp14.500 per kg, untuk wilayah area 1.
"Kalau kita kan.. nilai di kita saja nilai beras SPHP-nya Rp12.500 (per kg)," ucap dia.
Sementara beras nan direncanakan ekspor tersebut merupakan beras premium, dengan nilai nan ditawarkan Bulog berada di kisaran Rp13.000-Rp14.000 per kg.
"Ya, sekitar Rp13.000-Rp14.000 lah (harga nan ditawarkan Bulog ke Malaysia) sekitar situ. Karena kelasnya kan kelas premium. Premiumnya pecahannya 5%. Sedangkan premium lokal kita saja pecahannya 15% harganya Rp14.500 (per kg). Mereka nawarnya di bawah Rp10.000," jelasnya.
Dengan selisih nilai tersebut, Rizal menegaskan kesepakatan belum mungkin tercapai dalam waktu dekat.
"Ya segitulah, tetap nggak mungkin lah. Kalau segitu kan nggak mungkin. Masa kita subsidi ke negara lain, kan gak mungkin," tegas dia.
Meski begitu, minat Malaysia terhadap beras Indonesia disebut cukup besar, ialah mencapai 200 ribu ton.
"Mereka minatnya 200 ribu ton," ungkap Rizal.
Jika merujuk pada nilai nan diharapkan Bulog sekitar Rp14.500 per kilogram, potensi nilai transaksi tersebut terbilang jumbo. Dengan dugaan 200.000 ton alias setara 200 juta kilogram, total nilai ekspor bisa mencapai sekitar Rp2,9 triliun.
Namun demikian, realisasi nomor tersebut tetap berjuntai pada satu perihal utama, ialah kesepakatan nilai nan hingga sekarang belum tercapai.
"Belum deal harga," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·