Beli obat online sekarang jadi pilihan sigap saat Anda butuh obat alias vitamin. Kamu cukup buka marketplace, ketik nama obat, lampau pilih nilai termurah. Masalahnya, tidak semua produk itu aman. Kasus obat tiruan tetap tinggi dan sering tidak disadari. Karena itu, Anda perlu mengerti langkah memastikan keamanan obat sebelum membeli.
Namun, apakah Anda pernah mempertanyakan: apakah obat tersebut betul-betul asli?
Ini bukan untuk menimbulkan rasa takut, tetapi sebuah realita nan kudu kita hadapi bersama. Obat tiruan bukanlah masalah nan hanya terjadi di negara-negara berkembang alias di pasar nan tidak resmi. Pada era maraknya shopping online, siapa pun bisa menjadi korban tanpa menyadarinya.
Seberapa Nyata Ancaman Ini?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), nyaris 10,5% obat-obatan nan beredar di seluruh bumi berada di bawah standar alias dipalsukan.
Di area Asia Tenggara, situasinya lebih mengkhawatirkan. Sebuah studi nan dikutip dalam Pharmaceutical Journal STIKES Sambas (2025) menemukan bahwa antara 38% hingga 53% obat nan dijual di toko obat dan toko obat di area ini merupakan produk tiruan alias substandar apalagi ada nan sudah dilengkapi stiker hologram tiruan.
Di Indonesia sendiri, BPOM mencatat sepanjang Januari–November 2024, ditemukan 271 kasus obat dan makanan terlarangan dengan nilai ekonomi mencapai Rp483 miliar. Sebanyak 113 kasus di antaranya berangkaian langsung dengan produk farmasi termasuk obat tidak terdaftar, obat substandar, dan obat palsu.
Obat Apa Saja nan Paling Sering Dipalsukan?
Berdasarkan hasil pengawasan intensif BPOM hingga awal 2026, terdapat 8 produk nan paling rawan dipalsukan di pasaran, yaitu: Viagra, Cialis (obat disfungsi ereksi), Ventolin Inhaler (asma), Dermovate krim dan salep, Ponstan, Tramadol Hydrochloride, Hexymer, dan Trihexyphenidyl Hydrochloride.
Obat-obat ini dipilih para pemalsu lantaran permintaan tinggi, nilai jual menggiurkan, dan keluhan konsumen atas pengaruh negatifnya sering kali minim alias datang terlambat.
Kenali Tanda-Tanda Obat nan Patut Dicurigai
Menurut pedoman teknis BPOM (2020), identifikasi obat tiruan secara bentuk dapat dilakukan dengan memperhatikan pola cetakan blister/sterip, kualitas kemasan, konsistensi label, hingga kesesuaian nomor batch. Penyimpanan nan tidak sesuai, seperti perubahan warna alias kebocoran juga bisa menjadi tanda produk substandar.
Secara praktis, berikut tanda peringatan nan bisa langsung Anda cek:
Harga jauh di bawah nilai pasaran nan wajar
Kemasan buram, tulisan tidak tegas, alias ada kesalahan ejaan
Tidak ada nomor izin edar BPOM (awalan TR, SD, FF, alias MD)
Tanggal kedaluwarsa tidak jelas alias seperti ditempel ulang
Klaim berlebihan seperti "ampuh 100%" alias "sembuh dalam 1 hari"
Dijual tanpa resep untuk obat keras nan semestinya perlu resep
BPOM mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip CekKLIK: periksa Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli alias mengonsumsi obat. Verifikasi nomor izin edar bisa dilakukan melalui cekbpom.pom.go.id alias aplikasi BPOM Mobile.
Risikonya Bukan Sekadar Rugi Uang
BPOM menegaskan bahwa obat tiruan bisa tidak mengandung unsur aktif sama sekali, mengandung bahan nan keliru, alias mempunyai dosis nan tidak sesuai standar. Dampaknya bukan hanya kegagalan pengobatan melainkan keracunan, pengaruh samping berat, resistensi obat, ketergantungan, hingga kematian.
Jurnal ilmiah dari NCBI (Pathak et al., 2023) berjudul Tackling Counterfeit Drugs: The Challenges and Possibilities memperkuat temuan ini, bahwa obat tiruan merupakan ancaman multidimensi medis, ekonomi, dan sosial nan memerlukan pendekatan lintas sektor.
Tips Aman Beli Obat Online
Beli hanya di toko obat online berstatus PSEF (Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi) berlisensi Kemenkes
Verifikasi nomor izin edar di cekbpom.pom.go.id alias aplikasi BPOM Mobile
Hindari membeli obat keras tanpa resep dokter, meski penjual memperbolehkan
Curiga jika nilai terlalu murah, obat bermerek mempunyai nilai pasar nan relatif stabil
Jika menemukan indikasi obat palsu, laporkan ke HALOBPOM 1-500-533
Belanja obat online memang praktis, tetapi kepraktisan tidak boleh mengalahkan keselamatan. Selangkah mini untuk mengecek izin edar, membandingkan harga, memilih platform terpercaya bisa membikin perbedaan besar bagi kesehatan Anda dan keluarga.
Ingat: obat bukan sekadar produk biasa, dia masuk ke dalam tubuhmu. Pastikan nan masuk adalah nan betul-betul asli.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·