BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Berpotensi Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Sebagai upaya mitigasi, BMKG memperkuat langkah preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting). Faisal menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.

BMKG juga melakukan pemantauan dan prediksi suasana secara berkala, memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, serta memantau hotspot, sebaran asap, dan potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan. Pihaknya juga memperkuat diseminasi info peringatan awal serta melakukan monitoring dan pertimbangan terhadap efektivitas operasi nan telah dilaksanakan.

Saat ini, operasi modifikasi cuaca berjalan di sejumlah wilayah prioritas dengan support Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Di Riau, operasi nan dimulai pada 28 Maret 2026 hingga 11 April 2026 menunjukkan hasil signifikan, sementara operasi di Natuna pada 1–5 April 2026 juga meningkatkan curah hujan.

"Di Posko Riau, dari 23 sorti penerbangan, kita sukses menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik. Di Natuna, tiga sorti penerbangan meningkatkan curah hujan sebesar 36 persen alias sekitar 1,4 juta meter kubik," jelas Faizal.

Ia menegaskan, BMKG mendapat pengarahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca dalam strategi nasional pengendalian karhutla.

"Semoga kita semua dapat bersinergi dalam langkah nan sama untuk mengatasi kebakaran rimba dan lahan di Indonesia tahun 2026," kata Faizal.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita