Liputan6.com, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah M. Irfan Yusuf mengungkapkan, ada potensi kenaikan biaya haji tahun ini akibat naiknya nilai avtur dan bentrok di Timur Tengah.
"Kenaikan nilai avtur global, serta pelemahannya nilai tukar rupiah, biaya tersebut meningkat signifikan. Kondisi politik juga memungkinkan lakukan rerouting penerbangan untuk menghindari wilayah udara konflik," kata Irfan dalam rapat Komisi VIII DPR, Rabu (8/4/2026).
Dia menyebut, adanya perubahan rute penerbangan membikin beban biaya membengkak dan kudu ditanggung jemaah.
"Garuda mengusulkan tambahan 7,9 juta per jemaah," kata dia.
"Sedangkan Saudi Airlines mengusulkan tambahan sebesar 480 US dollar per jemaah," sambungnya.
Sementara, kata Irfan, andaikan menggunakan skenario tanpa perubahan rute, biaya haji diproyeksikan tetap meningkat.
"Kondisi ini menegaskan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini berada dalam tekanan aspek dunia nan semakin kompleks sehingga diperlukan penguatan efisiensi, koordinasi, dan mitigasi untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan haji," ungkapnya.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·