“Ah, hanya berbual kok.”
Kalimat ini mungkin jadi salah satu nan paling sering terdengar di lingkungan manapun termasuk lingkungan siswa SMP. Di lorong sekolah, di dalam kelas, apalagi di grup WhatsApp. Sekilas terdengar ringan, tapi jika dipikir-pikir lagi, benarkah semua berbual semenyenangkan itu?
Di usia remaja, terutama SMP, masa di mana mereka sedang mencari jati diri, berbual sering jadi langkah paling mudah untuk merasa dekat dengan teman. Bercanda membikin suasana cair, terasa akrab, dan kadang jadi “tiket masuk” agar dianggap bagian dari "circle". Tapi tanpa disadari, berbual juga bisa berubah jadi sesuatu nan melukai.
Bagi nan melontarkan candaan, niatnya sering kali tidak jahat. Ada nan sekadar mau lucu, ada nan mau mencairkan suasana, dan ada juga nan hanya ikut-ikutan lantaran takut dianggap tidak seru. Di kelas, perihal ini sering terlihat dari kebiasaan memanggil kawan dengan julukan berasas fisik, memanggil kawan dengan inisial orangtua, menirukan langkah bicara kawan untuk ditertawakan, alias mengomentari nilai dengan nada berbual seperti, “yah, Anda pasti remed lagi.” Awalnya mungkin semua tertawa, tapi ketika perihal itu dilakukan terus-menerus, tanpa sadar batasnya mulai hilang.
Di sisi lain, orang nan menjadi bahan candaan belum tentu betul-betul merasa lucu. Ada nan ikut tertawa, tapi sebenarnya hanya menutupi emosi tidak nyaman. Ada siswa nan mulai lebih banyak tak bersuara di kelas lantaran sering diejek soal penampilannya. Ada nan memilih ke toilet sebentar, bukan lantaran perlu, tapi lantaran mau menenangkan diri setelah ditertawakan. Bahkan ada nan akhirnya menarik diri dari pergaulan lantaran takut jadi bahan candaan berikutnya. Sayangnya, banyak dari mereka memilih tak bersuara lantaran tidak mau dicap “baper”.
Yang menarik, di sekitar mereka sebenarnya ada banyak kawan nan menyadari bahwa candaan itu sudah keterlaluan. Mereka melihat, mereka mendengar, mereka tahu, tapi memilih diam. Di grup chat kelas, misalnya, ketika ada nan mengirim meme nan menyinggung salah satu teman, nan lain hanya membalas dengan emoji tertawa. Saat ada kawan nan ditertawakan ketika presentasi, tidak ada nan betul-betul membela. Bukan lantaran tidak peduli, tapi lantaran takut ikut jadi sasaran berikutnya alias merasa itu bukan urusannya. Padahal, tak bersuara sering kali justru nan mengakibatkan candaan itu terus berulang.
Dari sisi guru, hal-hal seperti ini sering terlihat mini dan biasa saja. Tawa di perspektif kelas, bisik-bisik saat ada nan maju ke depan, alias sorakan ketika kawan salah menjawab. Semuanya tampak seperti bagian dari dinamika remaja. Namun, jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berubah menjadi budaya nan tidak sehat di kelas. Tantangannya, tidak semua siswa mau jujur tentang apa nan mereka rasakan, dan tidak semua luka terlihat di permukaan.
Lalu sebenarnya, di mana batasnya? Bercanda tentu saja boleh, apalagi krusial dalam pertemanan. Tapi berbual nan sehat semestinya tidak membikin orang lain merasa malu, tidak menyentuh hal-hal sensitif seperti bentuk alias keluarga, dan tidak dilakukan terus-menerus kepada orang nan sama. Ketika sebuah candaan perlu diakhiri dengan kalimat, “eh jangan baper ya,” mungkin itu tanda bahwa candaan tersebut sudah melewati batas.
Di masa SMP, semua orang sedang belajar, termasuk belajar memahami emosi orang lain. Hal sederhana seperti berpikir sebelum berbicara, memperhatikan reaksi teman, alias berakhir ketika memandang kawan mulai tidak nyaman, bisa membikin perbedaan besar. Bahkan keberanian mini untuk berkata, “udah, jangan gitu,” saat memandang kawan diejek bisa mengubah suasana kelas menjadi lebih kondusif dan nyaman.
Dunia remaja itu penuh warna. Ada tawa, ada cerita, ada kebersamaan. Tapi jangan sampai tawa kita jadi argumen orang lain terluka. Akan lebih bagus jika tawa itu tidak kudu dibayar dengan emosi orang lain. Karena pada akhirnya, kawan nan baik bukanlah nan paling lucu, melainkan nan bisa membikin orang di sekitarnya merasa kondusif dan merasa diterima.
Jadi, gimana Anda di kelas hari ini, mau tetap berbual tanpa batas, mau paling kocak tapi saling menjatuhkan alias mulai menjaga satu sama lain?
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·