Di tengah narasi bahwa ekonomi Indonesia tetap stabil, muncul kejadian nan kian nyata: banyak Gen Z mau bekerja di luar negeri. Dari Jepang hingga Australia, kesempatan dunia terlihat lebih menjanjikan dan terus ramai diperbincangkan di media sosial.
Secara makro, kondisi ekonomi memang relatif terjaga. Inflasi tetap terkendali, pertumbuhan berada di kisaran 5 persen, dan kebijakan Bank Indonesia condong berhati-hati dalam menjaga stabilitas.
Namun di level nyata, tidak semua anak muda merasakan perihal nan sama. Lapangan kerja umum nan berbobot tetap terbatas, sementara jumlah lulusan baru terus meningkat setiap tahun.
Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat. Tidak sedikit Gen Z nan bekerja tidak sesuai bidangnya alias masuk ke sektor informal demi bertahan.
Di sisi lain, akses info dunia membikin Gen Z lebih sadar peluang. Mereka dengan mudah membandingkan gaji, karier, dan kualitas hidup di beragam negara.
Ketika kesempatan di luar negeri terlihat lebih menjanjikan, keputusan untuk merantau menjadi rasional, apalagi strategis, bukan sekadar mengikuti tren.
Fenomena ini tentu mempunyai dua sisi. Di satu sisi, pekerja migran menyumbang devisa melalui remitansi nan membantu ekonomi family dan negara.
Namun di sisi lain, jika tren ini didominasi tenaga muda terdidik, Indonesia berisiko mengalami brain drain nan dapat melemahkan daya saing jangka panjang.
Pada akhirnya, kejadian ini bukan sekadar tren biasa. Ini adalah sinyal bahwa stabilitas ekonomi perlu diiringi dengan kesempatan nyata agar generasi muda tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di negerinya sendiri.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·