Gunung Ungaran di Kota Semarang, Jawa Tengah, viral di media sosial setelah kejadian seorang bayi alias balita nan mengalami hipotermia ketika mendaki gunung tersebut. Dalam video nan beredar, seorang balita berumur 1,5 tahun menangis kedinginan diduga mengalami hipotermia.
Syukurnya, balita tersebut sukses diselamatkan lewat respons sigap Tim SAR Semarang. Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan membenarkan peristiwa tersebut. Balita berumur 1,5 tahun itu naik Gunung Ungaran pada Sabtu (11/4) berbareng kedua orang tuanya hingga tiba di Puncak Bondolan pada siang hari.
"Peristiwa ini terjadi ketika satu family ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian dan tiba di puncak sekitar pukul 14.00 WIB," ujar Bergas kepada wartawan, Senin (13/4).
Namun, saat sampai di puncak, cuaca memburuk disertai hujan. Bayi itu terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda hipotermia alias kedinginan ekstrem.
"Suhu tubuh balita tersebut menurun drastis hingga mengalami indikasi hipotermia," jelas dia.
Karakteristik Gunung Ungaran
Gunung Ungaran adalah salah satu gunung berapi stratovolcano nan mempunyai ketinggian 2.050 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Nama Ungaran diduga berasal dari kata "Wungaran" nan dalam bahasa Jawa berfaedah "pucuk" alias "ujung".
Hal ini merujuk pada posisi gunung nan menjulang tinggi di antara wilayah sekitarnya.
Ada juga nan menyebut bahwa nama gunung ini berasal dari kata "Ngungar" nan berfaedah terangkat, sesuai dengan karakter gunungnya nan tampak terangkat di atas dataran sekitarnya.
Gunung Ungaran mempunyai empat jalur pendakian, ialah Basecamp Mawar, Candi Gedong Songo, Promasan, dan Perantunan. Jalur Basecamp Mawar menjadi nan paling terkenal lantaran aksesnya cukup mudah dari area Umbul Sidomukti, Bandungan.
Gunung Ungaran mempunyai tiga puncak utama, ialah Gendol, Botak, dan Ungaran sebagai puncak tertingginya. Dari sini, Anda bisa memandang pemandangan Kota Semarang, Laut Jawa, hingga deretan gunung lain, seperti Merbabu, Merapi, Telomoyo, hingga Sindoro dan Sumbing.
Dikutip dari laman Perhutani, dari titik awal pendakian di Dusun Perantunan, pendaki bakal disambut dengan hamparan perkebunan teh nan hijau dan udara segar unik pegunungan.
Perjalanan kemudian bersambung ke dalam rimba tropis nan rimbun, menghadirkan suasana tenang jauh dari kebisingan kota. Jalur dapat dikatakan cukup menantang lantaran mempunyai beberapa tanjakan curam dan trek nan tetap alami, tetapi keelokan nan ditawarkan sepadan dengan upaya nan dikeluarkan.
Jalur Perantunan mempunyai salah satu daya tarik tersendiri, ialah adanya beberapa air terjun mini nan menyegarkan. Air terjun ini sering menjadi tempat peristirahatan bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalur, bunyi kicauan burung dan gemercik air menambah kesan alami nan jarang ditemukan di jalur pendakian lain nan lebih ramai.
Ketika nyaris mencapai puncak, pendaki bakal disuguhi pemandangan spektakuler dari ketinggian. Jika keberuntungan berpihak kepada pendaki, mentari terbit dapat terlihat dengan latar belakang Gunung Sumbing, Sindoro, dan Merbabu nan berdiri gagah di kejauhan.
Puncak Gunung Ungaran sendiri menawarkan pemandangan 360 derajat nan memukau, termasuk lanskap Kabupaten Semarang dan Rawa Pening nan terlihat dari puncak.
Meskipun jalur Perantunan menawarkan keelokan nan luar biasa, pendaki perlu mempersiapkan diri dengan baik.
Menurut pendaki sekaligus personil Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Harley B. Sastha, secara vegetasi, karakter hutannya disebut tidak terlalu lebat, terutama di beberapa jalur utama. Namun tetap terdapat area rimba tropis, kebun, dan jalur alami.
"Kalau buat pemula mungkin ya, jika misalnya baru awal sih misalnya. Ya cocok sih lah ya, misalnya medannya-lah ya. Hutan tropisnya memang nggak terlalu lebat, hanya tetap ada lah," ujar Harley saat dihubungi kumparan pada Senin (13/4).
Harley mengatakan, bahwa waktu pendakian menuju puncak Gunung Ungaran juga terbilang relatif singkat. Karena gunung ini bisa digapai dalam waktu kurang lebih tiga jam.
Meski cocok untuk pemula, Harley menegaskan pendaki bukan berfaedah bisa mendaki gunung ini tanpa persiapan.
"Jadi secara umum menurut saya, karakter jalur pendakian bervariasi landai dan tanjakan. Walaupun cocok untuk pemula, tapi bisa lumayan bikin ngos-ngosan," ujar Harley.
Medan Gunung Ungaran terdiri dari jalur tanah, tanjakan sedang, area batuan menjelang puncak, serta beberapa jalur lebih panjang dan menantang. Menjelang puncak, medan condong berbatu lantaran Ungaran merupakan jejak gunung api.
"Oh ya mendaki ungaran banyak melewati batuan juga ya menuju puncak dan terbuka dan padang sabana alias rumput. Jadi, jika anginnya besar lumayan dingin, siangnya panas banget," ungkapnya.
Gunung Ungaran merupakan gunung favorit di Jawa Tengah dengan akses mudah, jalur variatif, dan cocok untuk pendaki pemula. Namun pendakian tetap memerlukan perlengkapan standar, kesiapan fisik, serta kewaspadaan terhadap cuaca dingin dan perubahan kondisi alam.
Penjelasan Dokter soal Balita Naik Gunung
dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB menegaskan balita sangat rentan mengalami hipotermia saat berada di area pegunungan, terutama pada letak dengan suhu dingin, lembap, dan berada di ketinggian tertentu.
Ia menyoroti kasus balita nan mengalami hipotermia saat pendakian di Gunung Ungaran. Menurutnya, akibat hipotermia pada balita jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa.
“Naik gunung saja sudah punya potensi hipotermia. Apalagi balita dibawa ke tempat tinggi dan lembap, tentu risikonya bisa dua kali lipat,” ujarnya saat dihubungi kumparan pada Senin (13/4).
Iqbal menjelaskan, balita dan bayi mempunyai daya tahan tubuh nan belum sempurna sehingga lebih mudah terserang gangguan kesehatan. Selain suhu dingin, kondisi pegunungan juga berisiko memicu jangkitan saluran pernapasan atas (ISPA), alergi akibat serbuk tumbuhan, serta dehidrasi.
“Kulit bayi lebih tipis dibanding orang dewasa, sehingga udara dingin lebih mudah masuk ke tubuh. Kebutuhan cairan mereka juga lebih tinggi,” lanjutnya.
Ia menilai balita usia 1,5 tahun belum ideal diajak mendaki gunung, terlebih ke area dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut.
“Belum saatnya dia naik gunung seperti itu. Risiko hipotermianya bisa tiga sampai empat kali lebih besar,” jelasnya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·