Yayasan Ungkap Awal Mula Penemuan Senjata Api di Sekolah Jaksel

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kuasa Hukum Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) Hermawanto mengungkap, kronologi awal penemuan senjata, narkoba, hingga rekaman video pornografi di ruangan mantan ketua yayasan. Dia mengatakan, penemuan pertama kali pada 10 Juli 2026.

"Awal peristiwa tanggal 10 bulan Juli tahun 2026, ketika penemuan pertama senjata itu berasal dari ruangan itu kuncinya dibawa oleh Pak IWD dan kawan-kawan," kata dia kepada wartawan, Minggu (9/8/2026).

Hermawanto mengklaim, pihaknya tidak mempunyai akses kepada ruangan tersebut. Karena itu, pihak yayasan saat ini meminta kepada mantan ketua yayasan ialah IWD untuk membuka ruangan tersebut dengan surat resmi.

Selanjutnya, dia mengaku pengelola yayasan nan baru telah mengirimkan surat permohonan tersebut hingga tiga kali, namun tidak direspon oleh pihak IWD.

"Sampai akhirnya kita meminta surat nan ketiga, kita kasih pemisah waktu. Kalau tanggal 10 bulan Juli Anda tidak membuka ruangan itu, maka kami nan bakal membukanya," jelas dia.

"Jadi saya perlu tegaskan, jika kami punya akses terhadap ruangan tersebut, jika kunci itu ada di tangan kami, kami nggak perlu minta izin untuk masuk. Kami nggak perlu berkirim surat untuk membuka ruangan itu," sambungnya.

Hermawanto membantah narasi bahwa IWD tidak mempunyai akses terhadap ruangan tersebut lantaran sudah dikuasai oleh pengelola yayasan nan baru.

Menurutnya, kunci ruangan tersebut tetap dipegang oleh pihak IWD, termasuk ruangan nan ditemukan senjata pada 5 Agustus 2026 dan ruangan bagian keuangan. Hermawanto juga menuturkan bahwa ruangan nan dibuka pada 10 Juli 2026 dibuka oleh salah satu staf IWD.

"Jadi sampai hari ini kami memang mengelola sekolah, tapi tetap ada beberapa ruangan nan kami tidak bisa membuka lantaran info kunci, minta maaf, lantaran kunci itu dipegang sama Pak IWD dan kawan-kawan," kata Hermawanto.

Kini, tetap ada beberapa ruangan nan tetap belum dibuka, dua di anraranya terpasang police line. Sementara itu, satu lainnya hanya ruangan bagian keuangan.

"Kalau sekarang totalnya itu ada dua ruangan nan tetap di-police line, gitu ya, nan di-police line. Tapi jika ruangan ada satu lagi ruangan nan tidak di-police line, tapi itu ruangan bagian finansial nan isinya terlihat jika dari luar, dari kaca, itu data-data buku-buku saja," tuturnya.

Selain akses ruangan, Hermawanto menyebut dokumen-dokumen sekolah tetap berada di tangan IWD. Pihak yayasan nan baru disebut telah meminta arsip tersebut, namun hingga saat ini belum diberikan.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita