Komisi V DPR RI rapat kerja dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi, KNKT, hingga KAI mengenai tabrakan kereta dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur bulan lalu. Sejumlah perihal terungkap mengenai tragedi tersebut.
Ketua Komisi V DPR Lasarus mengingatkan agar kejadian serupa tak terjadi lagi. Dia meminta ada pertimbangan besar sebagai bahan mitigasi sehingga tak ada kecelakaan serupa kembali.
"Sebagaimana kita tahu terjadi perdebatan di publik apakah tidak ada ruang bagi sistem nan dimiliki oleh kereta api alias sistem nan dikendalikan oleh operator PT KAI dari kereta api ini untuk bisa kendalikan situasi? Hal ini pak bakalan terjadi lagi alias tidak? Itu jadi pertanyaan masyarakat," kata Lasarus saat mengawali rapat, Kamis (21/5/2026).
Komisi V DPR juga mendorong KAI segera membenahi double-double track (DDT) di jalur Jabodetabek. Komisi V DPR meminta pembangunan DDT tak perlu menunggu rekomendasi KNKT.
"DDT kurang lebih Jakarta sana itu kurang lebih sekitar 17 kiloan. Jadi enggak boleh lagi ada rumor enggak ada anggaran, Pak Presiden sudah ngasih Rp 7 T gitu. Rp 7 T saya kira unik untuk jalur Jabodetabek nan high season ini sudah langsung aja pakai pembangunan DDT untuk memisahkan jalur itu," tutur Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda.
Kecelakaan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek (kini berjulukan KA Anggrek) di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin (27/4) malam. Kecelakaan ini menewaskan belasan orang dan puluhan orang lainnya terluka.
Semua korban adalah penumpang KRL, sementara penumpang KA Argo Bromo Anggrek tak ada korban. Evakuasi korban dilakukan tim SAR campuran selama sekitar 12 jam alias selesai pada Selasa (28/4) pagi hari.
Rapat kerja Komisi V DPR berbareng Menhub, KNKT, KAI, Kamis (21/5/2026). (Foto: Matius Alfons/detikcom)
Kronologi KA Tabrak KRL di Bekasi Timur
Menhub Dudy Purwagandhi menjelaskan kronologi komplit kecelakaan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Dudy mengungkap kecelakaan bermulai dari adanya taksi nan mogok di perlintasan sebidang.
Berikut ini kronologinya:
Senin, 27 April 2026
Pukul 20.34 WIB
KRL 5568A Tiba di Stasiun Bekasi
Dia menjelaskan kereta Commuter Line 5568A tiba lebih awal satu menit di Stasiun Bekasi pada pukul 20.34 WIB. Selanjutnya, KA Sawunggalih 116B tiba pukul 20.35 WIB di stasiun nan sama dalam kondisi terlambat lima menit dari jadwal.
"KA Sawunggalih diberangkatkan pukul 20.37 dari Stasiun Bekasi dan melintas Stasiun Bekasi Timur pukul 20.39," kata Dudy.
Pukul 20.48 WIB
Taksi Hijau Mogok Lalu Tertemper KRL di Bekasi Timur
Awalnya, taksi berwarna hijau dilaporkan mogok di tengah rel area Bekasi Timur. Pada pukul 20.48 WIB, KRL 5181B nan menuju Jakarta melintas dan tertemper dengan taksi mogok tersebut.
Menurut Dudy, kejadian itu memicu kerumunan penduduk di sekitar letak lantaran banyak orang berakhir untuk memandang kejadian.
Pukul 20.49 WIB
KRL 5568A Tiba di Stasiun Bekasi Timur
Pada jalur berlawanan (tujuan Cikarang), KRL 5568A diberangkatkan dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.45 WIB. KRL tersebut mengalami keterlambatan perjalanan selama delapan menit.
KRL menuju Cikarang itu tiba di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.49 WIB. KRL itu dalam kondisi terlambat sembilan menit.
KRL Terhenti Kerumunan Imbas Taksi Tertemper KRL
Dudy mengatakan, saat itu, KRL 5568A sempat melangkah dari Stasiun Bekasi Timur. Namun, KRL itu berakhir lantaran ada kerumunan penduduk nan memandang kejadian taksi hijau tertemper KRL.
Pukul 20.52 WIB
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL Arah Cikarang
Kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melintasi Stasiun Bekasi pada pukul 20.51 WIB alias lebih awal tiga menit dari jadwal. KA Argo Bromo Anggrek nan melaju dengan kecepatan mencapai 108 km/jam lampau menabrak KRL 5568A di sekitaran Stasiun Bekasi Timur sekitar pukul 20.52 WIB.
"Tumburan terjadi pada jam 20.52 WIB," ujar Dudy.
KA Anggrek Dapat Sinyal Hijau Sebelum Tabrak KRL
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan KA Argo Bromo Anggrek (kini berjulukan KA Anggrek) tetap mendapat sinyal hijau meskipun ada KRL nan berakhir di Stasiun Bekasi Timur. Ia membeberkan, KA Anggrek pada pukul 20.50.43 WIB bergerak di jalur 3 Stasiun Bekasi.
Ia membeberkan saat itu KA Anggrek mendapatkan sinyal hijau ketika melintasi titik J12. KA Anggrek bergerak ke arah timur alias dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Bekasi Timur.
Kemudian, pada pukul 20.52.12 WIB, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL 5568A nan tengah berakhir di Stasiun Bekasi Timur.
Ketua Komisi V DPR Lasarus lampau memotong penjelasan Soerjanto. Ia mempertanyakan apakah betul KA Argo Bromo Anggrek mendapatkan sinyal hijau ketika melintas di jalur antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur.
"Sebentar, sebentar, Pak. Kita tidak mencari siapa nan salah Pak ya. Berarti konklusi nan didapat oleh KNKT waktu terjadi tabrakan antara kereta dengan mobil, terus bergeraklah kereta Argo Bromo Anggrek dan terjadilah menabrak kereta Commuter Line itu sinyalnya sudah hijau Pak ya?" tanya Lasarus.
"Sinyalnya hijau, Pak," jawab Soerjanto.
"Sinyal hijau, hijau, hijau. Di Argo Bromo Anggrek sinyalnya hijau," tutur Lasarus.
Soerjanto kembali menekankan sinyal nan diberikan di Stasiun Bekasi berwarna hijau. "Hijau di Stasiun Bekasinya, Pak. Hijau," tuturnya.
Lasarus menyebut semestinya sinyal jalur tersebut merah lantaran ada KRL 5568A nan berakhir di Stasiun Bekasi Timur. KRL menuju Cikarang itu berakhir lantaran ada kerumunan penduduk setelah kejadian KRL tertemper taksi hijau di jalur arah Jakarta.
Pascakecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, petugas campuran terus melakukan penelusuran terhadap gerbong nan mengalami kerusakan parah, Selasa (28/4/2026). Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada korban nan tetap tertinggal di dalam rangkaian kereta nan ringsek. (Foto: Nasywa Fauziah/detikcom)
"Harusnya merah kan Pak ya? Karena di depan ada obstacle," tutur Lasarus.
"Nanti kami jelaskan berikutnya," timpal Soerjanto.
"Berarti di situ itu kesimpulannya sinyalnya hijau maka dia bergerak?" tanya Lasarus.
"Maka dia bergerak," jawab Soerjanto.
Lasarus lampau bertanya apakah tabrakan taksi dan KRL di jalur arah Jakarta sudah terjadi ketika KA Argo Bromo Anggrek bergerak dari Stasiun Bekasi lantaran sinyal hijau.
"Nah waktu dia bergerak itu temperan sudah terjadi belum?" tanya Lasarus.
Soerjanto menyebut KA Anggrek melaju dari Stasiun Bekasi pada pukul 20.50 WIB dan sudah terjadi KRL tertemper taksi hijau di jalur sebaliknya nan kemudian memicu kerumunan warga. Insiden KRL tertemper taksi hijau terjadi sekitar pukul 20.48 WIB.
"Di saat 20:50:43 sudah terjadi Pak," jawab Soerjanto.
Jeda 3 Menit 43 Detik Antara Taksi Tertemper KRL dan Tabrakan KA-KRL
KNKT menyampaikan kecelakaan taksi tertemper KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL hanya berselang 3 menit 43 detik. Soerjanto mengatakan tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL terjadi pukul 20.52 WIB.
"Jadi 20:52:12 terjadi tabrakan," kata Soeranto.
KRL arah Cikarang nan memuat banyak penumpang itu berakhir di Stasiun Bekasi Timur lantaran ada kecelakaan taksi dan KRL nan lebih dulu terjadi di jalur sebaliknya alias arah Jakarta.
"Jadi antara tabrakan KA 5181 dengan taksi dan jarak waktu dengan KA Bromo Anggrek tabrakan dengan Commuter Line 5568 sekitar 3 menit 43 detik," imbuh dia.
Masinis KA Argo Bromo Diminta Rem Sedikit Sebelum Tabrak KRL
KNKT mengungkap masinis berupaya menghentikan laju KA Argo Bromo Anggrek sebelum menabrak KRL. Namun, pengereman dilakukan sedikit-sedikit atas pengarahan pusat kendali.
"Sebetulnya masinis, saya mau ceritakan masinis sudah mulai ngerem di 1,3 km sebelum letak tabrakan, Pak. Dia tahunya lantaran diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek," kata Soerjanto.
Dia mengatakan upaya mengerem KA Argo Bromo Anggrek 1,3 kilometer dari letak KRL. Dia menjelaskan, sebenarnya kereta bisa maksimal menghentikan lajunya pada jarak 900 meter hingga 1 kilometer.
Taksi tertemper sebelum tabrakan dua kereta di Stasiun Bekasi Timur. (Dok. akun TMC Polda Metro Jaya)
Soerjanto lampau menjelaskan masinis kandas menghentikan laju KA Argo Bromo Anggrek lantaran pengarahan pusat kendali hanya sekadar mengerem sedikit-sedikit dan sembari membunyikan klakson.
"Tapi lantaran dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, Anda melangkah direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35 artinya banyak banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum, lantaran info nan diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sembari bunyikan klakson," jelas Soerjanto.
Ketua Komisi V DPR Lasarus lampau heran dengan pengarahan tersebut lantaran KA Argo Bromo Anggrek tetap punya 300 meter jika pengereman dilakukan secara maksimal.
"Baik ini menarik ini, 1,3 km sudah ngerem?" tanya Lasarus.
"Tapi disuruh ngerem dikit-dikit?" tanya Lasarus lagi.
"Iya," timpal Soerjanto.
"Padahal jika dia ngerem betul 900 meter-1 km sudah bisa berhenti? Masih ada space 300 meter," memberondong Lasarus lagi.
"Iya," jawab Soerjanto.
Lasarus pun geram dengan kebenaran tersebut. Dia mengaku heran dengan SOP nan dimiliki operator KAI.
"Harusnya Pak, sudahlah Pak, ini mungkin teman-teman sekalian, ini kan kudu kita baca perincian penjelasan beliau, kita simpulkan saja Pak, Bapak bisa nggak jawab pertanyaan saya konklusi saya bahwa kejadian ini sistem jalan nggak? Menurut konklusi nan bapak dapat, sistem nan ada pengendali berfaedah nggak? Kesimpulan nan Bapak dapat," tutur Lasarus.
KNKT menjelaskan argumen pusat pengendali (Pusdal) perjalanan KA di Manggarai meminta masinis Argo Bromo rem dikit-dikit sebelum kecelakaan terjadi.
"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima buletin bahwa di depan ada temperan masinis sudah melakukan pengereman, hanya lantaran situasinya di Pusdal itu tidak tahu nan sebenarnya lantaran komunikasinya kan lewat bunyi saja, lewat voice, jadi kondisi lapangannya seperti apa dia nggak tahu," kata Soerjanto.
KNKT tetap mendalami penyebab kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL tersebut. Soerjanto lantas menjelaskan argumen Pusdal di Manggarai meminta masinis rem sedikit-sedikit.
"Ya lantaran memnag di Pusdal kan temperan seperti apa mereka belum tahu kondisi lapangan seperti apa. Maka dia positif thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan 35 alias memberi klakson lah," tuturnya.
(jbr/rfs)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·