XPeng Ungkap Alasan Belum Buka Pusat R&D Mendalam di Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Headquarter dan pabrik XPeng di Guangzhou, China. Foto: Sena Pratama/kumparan

Pabrikan kendaraan listrik jenama China, XPeng membeberkan strategi dan struktur riset dan pengembangan (R&D) produknya dalam mengekspansi pasar global, termasuk Indonesia. Meski seluruh pengembangan teknologi utama telah dilakukan secara berdikari di markas pusatnya di China, porsi R&D di Indonesia saat ini diakui tetap berada di tahap awal.

Vice President Marketing XPeng Indonesia, Hari Arifianto, menjelaskan bahwa level Riset dan Pengembangan di Tanah Air belum memasuki taraf mendalam seperti di negara asalnya.

"R&D-nya di Indonesia mungkin levelnya belum terlalu dalam ya. Masih banyak info nan diambil di Indonesia kemudian diolah di China, seperti itu," ujar Hari saat ditemui di Tangerang, Senin (31/8/2026).

Aktivitas R&D nan berjalan di Indonesia saat ini murni berfokus pada pengumpulan info lapangan serta pemrosesan awal. Seluruh info tersebut kemudian disalurkan ke pusat R&D utama di China untuk dianalisis lebih lanjut.

"Kemudian kendaraan kita sendiri juga mempunyai akomodasi Over-The-Air. Jadi setiap kali kendaraan mengalami satu pembaharuan alias mengalami satu situasi, itu juga dijadikan sarana pembaharuan alias riset nan dilakukan di China," katanya.

Headquarter dan pabrik XPeng di Guangzhou, China. Foto: Sena Pratama/kumparan

"Jadi tetap terlalu awal ya untuk membahas R&D nan dilakukan di Indonesia. Masih pada taraf awal seperti pengambilan info dan processing ringan, seperti itu," lanjutnya.

Hari menegaskan bahwa pengumpulan info dari unit kendaraan nan beraksi di jalan raya tidak mengambil info individual pemilik. XPeng konsentrasi mengoleksi info operasional kendaraan dan respons mobil terhadap kondisi suasana Indonesia.

"Kita pastikan info aman, kan bukan info individual nan dikumpulkan, tapi info vehicle-nya. Misalnya melalui panas, seberapa panas ekstrem di Indonesia. Ekstremnya di Indonesia panasnya seperti apa, terus salah satu nan dilihat tuh humidity, kelembapan. Kelembapan nan di Indonesia seperti apa gitu, lantaran kan unik ya situasi climate-nya kayak gitu," papar Hari.

Lebih lanjut Hari menjelaskan, info variabel lingkungan seperti kelembapan dan suhu ekstrem tersebut dinilai sangat vital untuk diolah oleh tim R&D pusat. Langkah ini dilakukan agar insinyur XPeng dapat menyesuaikan spesifikasi dan durabilitas komponen bentuk maupun sistem kepintaran buatan (AI) agar cocok dengan kondisi jalanan Indonesia.

Tampilan XPeng X9 terbaru. Foto: Dok. Xpeng Indonesia

"Enggak ada spesifik apakah baterai alias sasis maupun nan lainnya. Tapi info nan dikumpulkan lebih ke karakter environment-nya sehingga betul-betul kendaraannya bisa terus continuous dicek apakah ada masalah alias tidak, gitu," lanjutnya.

Selain pengumpulan info R&D, penyesuaian fitur canggih juga memertimbangkan kesiapan prasarana lokal. Hal inilah nan membikin XPeng belum memboyong teknologi kemudi otonom penuh maupun armada robotaxi ke pasar domestik.

"Ya, tentunya kondisi unik dari masing-masing negara bakal menjadi salah satu aspek nan dipertimbangkan. Itulah sebabnya XPeng sebelum mengenalkan produk ke Indonesia juga melakukan testing terlebih dahulu. Kita juga enggak memaksa misalnya di China ada namanya autonomous, robotaxi misalnya alias autonomous driving. Ya di Indonesia enggak diterapkan, meskipun mobilnya mempunyai keahlian itu," ujarnya

"Karena memang situasi lampau lintas di Indonesia dan prasarana pendukungnya belum demikian bagus seperti halnya di China, begitu," pungkas Hari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan