Kabar masyarakat ramai-ramai menjual emas mencuat di tengah pergerakan nilai emas nan belakangan menurun. Kondisi tersebut disebut-sebut apalagi membikin sejumlah toko emas mulai membatasi pembelian dari masyarakat.
Untuk mengecek kebenaran berita tersebut, kumparan langsung meninjau aktivitas jual beli emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat. Berdasarkan pantauan kumparan, sejumlah pedagang justru menyatakan kondisi di toko emas belum menunjukkan adanya lonjakan penjualan emas oleh masyarakat.
Salah satu penjual emas di Cikini Gold Center, Hilda, tidak memandang adanya lonjakan masyarakat nan datang untuk menjual emasnya. Ia justru mengungkap transaksi di tokonya saat ini condong lebih sunyi dibandingkan bulan sebelumnya, terutama terlihat dari menurunnya jumlah masyarakat nan datang untuk membeli emas.
“Kalau di sini [ramai] jual enggak sih untuk sekarang lantaran nilai emas lagi turun, nilai jualnya juga, mungkin enggak seramai bulan kemarin jadi sekarang sempet turun,” kata Hilda saat dijumpai kumparan, Rabu (2/9).
Menurutnya, ketika nilai emas turun, masyarakat justru condong menahan pembelian, sehingga tingkat pembelian emas di tokonya pun ikut menurun.
“Kalau bulan sekarang lebih menurun. Kalau beli cukup ramai, [tapi] enggak kayak bulan-bulan sebelumnya lantaran mungkin nilai emas lagi turun,” ujarnya.
Hilda menambahkan, nilai emas perhiasan tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan emas batangan seperti Antam, lantaran turut dipengaruhi biaya pembuatan. Saat ini, nilai emas perhiasan kadar 75 persen di tokonya berada di kisaran Rp 1,95 juta.
Kondisi berbeda justru terlihat di salah satu toko emas di Plaza Melawai. Penjual di toko tersebut mengatakan penurunan nilai emas malah membikin aktivitas pembelian meningkat.
“Ada nan beli, malah banyak beli lantaran harganya lagi turun,” ujarnya.
Menurutnya, bagi masyarakat nan membeli emas sebagai investasi, penurunan nilai justru menjadi momentum untuk menambah aset, dengan prinsip membeli saat nilai rendah dan menjual saat nilai naik.
“Bagusnya begitu, lagi murah beli, lagi mahal jual. Itu jika orang nan investasi. Kalau buat kebutuhan paling beli-beli sedikit. Kalau lagi tanggal muda, mungkin jika lagi pegang duit, beli,” ujarnya.
Sementara itu salah satu visitor Cikini Gold Center, Rahma, mengatakan dirinya justru datang untuk membeli emas, bukan menjual simpanannya.
Ia mengaku rutin membeli emas logam mulia setiap bulan sebagai tabungan, sedangkan pembelian emas perhiasan tidak dilakukan secara rutin dan lebih berjuntai pada kebutuhan serta kondisi keuangannya. “
Kalau logam mulia pasti beli 1 gram saja, 1 gram nabung tiap bulan. Tapi jika perhiasan enggak selalu. Kalau ada nan lucu, uangnya cukup, ya beli,” ujarnya.
Rahma menjelaskan, emas nan dikumpulkannya ditujukan sebagai tabungan jangka panjang, termasuk untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Karena itu, dia tidak menjadikan naik-turunnya nilai dalam jangka pendek sebagai argumen untuk menjual emas.
“Kalau tabungan jangan dijual jangka pendek. Insyaallah untung, bisa jadi duit kepepet. Tapi jika beli tiga bulan dijual lagi rugi sih kayaknya. Kalau saya memang buat tabungan anak-anak, kelak jika mereka sekolah dijualin LM-nya. Tapi lihat nilai dulu. Kalau harganya turun, ya enggak mau,” tutupnya.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·