Denpasar, CNN Indonesia --
Seorang laki-laki penduduk negara Australia berinisial SDJ (57) nan ditemukan tewas berbareng kedua anaknya berinisial ADS (7) dan LKS (4) di sebuah bungalow di area Jalan Three Brothers, Legian Tengah, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Kedua anaknya ditemukan tewas tergeletak di dalam bungalow. Sementara SDJ ditemukan tewas dalam kondisi tergantung.
Diduga korban SDJ membekap dan mencekik kedua anaknya hingga tewas sebelum mengakhiri hidup dengan langkah gantung diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dugaannya seperti itu. Tapi kepastian menunggu hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, Selasa (15/9).
Ariasandy menyebut kedua anaknya nan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, meninggal bumi diduga akibat kekerasan nan dilakukan oleh korban SDJ.
"Akibat kekerasan nan diduga dilakukan oleh korban nan gantung diri. Namun untuk kepastian kita menunggu hasil lidik dan dari pihak rumah sakit untuk memastikan kematian korban," ujarnya.
Kapolresta Denpasar Kombes Pol Leonardo D Simatupang membenarkan kejadian tersebut nan terjadi pada Minggu (13/9) sekitar pukul 10.14 WITA.
"Korban SDJ diketahui merupakan penduduk negara Australia, sedangkan kedua anaknya berkewarganegaraan Indonesia," kata Leonardo.
Peristiwa bermulai sekitar pukul 08.30 WITA, salah seorang saksi, berjulukan Nur Khamid (51), menerima telepon dari seseorang nan mengaku sebagai istri korban nan berada di Jakarta.
Dalam sambungan telepon tersebut, saksi diminta membantu mengecek kondisi suami dan kedua anaknya nan tinggal di bungalow lantaran tidak dapat dihubungi.
Menindaklanjuti permintaan tersebut, saksi kemudian mendatangi bungalow dan mencoba memandang ke dalam melalui jendela. Namun, tidak terlihat adanya aktivitas maupun orang di dalam.
Kemudian, saksi menemui pemilik bungalow dan menyampaikan info nan diterimanya. Keduanya kemudian kembali menuju bungalow untuk melakukan pengecekan.
"Setibanya di lokasi, keduanya kembali mencoba memandang ke dalam melalui jendela, namun tidak menemukan tanda-tanda aktivitas," imbuhnya.
Kemudian, pemilik bungalow menghubungi e kepala lingkungan (Kelian) dan beberapa menit kemudian, Kelian berbareng sejumlah tetangga mendatangi lokasi. Warga sempat mengetuk dan menggedor pintu sembari memanggil penunggu bungalow. Namun, tidak mendapat respons dari dalam.
Selanjutnya, lantaran cemas terjadi sesuatu, pintu akhirnya dibuka secara paksa, Setelah pintu terbuka, penduduk mendapati SDJ berada dalam kondisi tergantung pada terali besi jendela menggunakan kabel setrika berwarna putih.
Sementara itu, kedua anak korban ditemukan tergeletak di lantai bilik dengan posisi tubuh saling bertindihan. Petugas kepolisian nan tiba di letak kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan awal berbareng tim identifikasi Polresta Denpasar.
"Dari hasil pemeriksaan luar terhadap kondisi ketiga korban dan dari pemeriksaan awal diduga bahwa kedua anak korban meninggal akibat tindakan kekerasan. Sementara SDJ diduga meninggal bumi dengan langkah gantung diri," jelasnya.
(Foto: Dok. CNNIndonesia)
Saat ini ketiga jenazah telah berada di RSUP Ngoerah Denpasar untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,.
Polsek Kuta kemudian melakukan penyelidikan, termasuk olah TKP, pemeriksaan rekaman CCTV di TKP dan pemeriksaan terhadap para saksi. Termasuk terhadap istri korban untuk memastikan penyebab kematian para korban.
Selain itu polisi juga telah melakukan koordinasi dengan Konsulat Australia mengenai korban nan merupakan penduduk negara Australia.
Hasil CCTV
Sementara hasil pemeriksaan CCTV dan pemeriksaan istri korban, sang suami diduga telah melakukan pembunuhan kepada kedua anaknya. SJD diduga menderita gangguan kesehatan mental berupa kekhawatiran berlebih dan emosional.
"Dari perkembangan analisa CCTV nan ada dan keterangan dari pada istri korban, memang diduga bahwa suaminya ini melakukan pembunuhan terhadap kedua anaknya, lampau mengakhiri hidup dengan bunuh diri (dengan) gantung diri," katanya.
Dari keterangan istri, dia dan suami sempat cekcok di tahun 2022 dan rumah tangga mereka kurang harmonis.
Kemudian di tanggal 10 September 2026, sekitar pukul 09:00 WITA istrinya pergi ke Jakarta untuk menemui orang tuanya.
"Bahwa tahun 2022 menurut keterangan dari istrinya, mereka pernah cekcok dan dari saat ini mereka kurang harmonis. Istrinya berangkat ke Jakarta untuk menjenguk orang tuanya, lantaran orang tuanya di Jakarta," jelasnya.
Kendati demikian, kata Leonardo, kepergian istrinya ke Jakarta bukan lantaran pertengkaran lantaran belakangan hubungan mereka baik-baik saja.
"Oh tidak. Belakangan ini mereka baik-baik saja. Tapi memang tingkat kekhawatiran dari pada suaminya nan tinggi. Jadi kekhawatiran sehingga ada condong merasa dia itu mau bunuh diri. Tapi, belum pernah dilakukan pengecekan ke psikiater oleh istri," lanjutnya.
Kemudian, sampai di Jakarta istrinya memandang dari CCTV melalui aplikasi ponsel ada kejanggalan di tempat menginapnya sehingga dilaporkan ke kepala lingkungan dan pemilik bungalow.
"Dari keterangan istrinya, suaminya ini mempunyai rasa resah nan tinggi. Dan ini tidak pernah dilakukan pengobatan. Istrinya juga menyampaikan, bulan lampau suaminya ini pernah mencoba melakukan bunuh diri dengan mengunci di bilik dan mengikatkan lehernya di tali ataupun kabel setrika. Namun kandas lantaran suaminya keluar kembali dari kamar," ungkapnya.
Leonardo mengungkap pihak istri berinisial TY (32) menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah suami dan kedua anaknya.
Hasil koordinasi dari Polsek Kuta dengan Konsulat Australia untuk jenazah dari ketiganya diserahkan kepada pihak istri.
"Diserahkan tanggung jawab itu ke istrinya. Istrinya sudah membikin pernyataan dan meminta tidak dilakukan autopsi, mengingat semuanya sudah jelas ada di CCTV. Dia mengetahui suaminya itu mempunyai sedikit kelainan ialah tingkat kekhawatiran nan tinggi dan mudah emosi," kata Leonardo.
Terhadap kasus ini, kata Leonardo, bakal dilakukan SP3, alias penghentian investigasi lantaran terduga pembunuhan telah meninggal dunia.
(kdf/isn)
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·