WHO: 92 Persen Manusia akan Terdampak Kanker setidaknya Sekali Seumur Hidup

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
 92 Persen Manusia bakal Terdampak Kanker setidaknya Sekali Seumur Hidup Pita pink, simbol kepedulian pada kanker payudara.(Dok. Magnific)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa nyaris seluruh masyarakat bumi diperkirakan bakal terdampak oleh kanker setidaknya satu kali sepanjang hidupnya. Dampak tersebut tidak selalu berfaedah seseorang didiagnosis menderita kanker, tetapi juga dapat dirasakan ketika personil keluarga, pasangan, alias orang terdekat menghadapi penyakit tersebut.

Temuan tersebut diungkap dalam Global Status Report on Cancer 2026 nan dirilis WHO berbareng International Agency for Research on Cancer (IARC) pada Rabu (8/7) kemarin, sebagaimana dilansir dari The Economic Times.

Menurut laporan tersebut, sekitar satu dari lima orang bakal mengembangkan kanker selama hidupnya. Namun, jika memperhitungkan akibat penyakit ini terhadap family dan lingkungan sekitar pasien, sekitar 92 persen populasi bumi diperkirakan bakal tersentuh oleh kanker setidaknya sekali dalam seumur hidup.

WHO menyebut nomor tersebut menunjukkan bahwa kanker bukan lagi persoalan individu, melainkan tantangan kesehatan masyarakat nan memengaruhi nyaris setiap family di dunia.

Hampir 10 Juta Orang Meninggal akibat Kanker

Laporan itu juga menunjukkan beban kanker di bumi terus meningkat. Sepanjang tahun lalu, diperkirakan terdapat 20,6 juta kasus baru kanker dengan nyaris 10 juta kematian akibat penyakit tersebut.

Kanker sekarang menjadi penyebab kematian terbesar kedua di bumi setelah penyakit kardiovaskular. Rata-rata lebih dari 26.000 orang meninggal setiap hari akibat beragam jenis kanker.

WHO memperingatkan bahwa tanpa upaya pencegahan dan pengendalian nan lebih kuat, jumlah kasus baru kanker diproyeksikan meningkat menjadi nyaris 35 juta kasus per tahun pada 2050, alias lebih dari 40% lebih tinggi dibandingkan saat ini.

Selain tingginya jumlah kasus, WHO menyoroti kesenjangan besar dalam akses jasa kanker di beragam negara.

Di negara berpendapatan tinggi, sekitar 87% wanita dengan kanker tetek bisa memperkuat hidup setidaknya lima tahun setelah diagnosis. Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya mencapai 42%.

Kurangnya akses terhadap jasa kesehatan menjadi salah satu penyebab utama. Saat ini, kurang dari sepertiga negara di bumi telah memasukkan jasa kanker ke dalam sistem agunan kesehatan universal. Bahkan, hanya 28% negara nan menyediakan paket jasa dasar penanganan kanker dalam faedah agunan kesehatannya.

Perbedaan juga terlihat pada kesiapan obat-obatan. Dari 20 obat kanker prioritas WHO, tingkat ketersediaannya di negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah hanya berkisar 9 hingga 54%, sedangkan di negara berpendapatan tinggi mencapai 68 hingga 94%.

Di beberapa negara, tingginya biaya pengobatan membikin hingga 90% pasien tidak bisa menyelesaikan terapi nan dijalani.

Asia Menanggung Beban Kanker Terbesar

Secara global, Asia menjadi wilayah dengan beban kanker terbesar pada 2024. Kawasan ini menyumbang sekitar 50,7% dari seluruh kasus kanker baru dan 56,5% kematian akibat kanker di dunia, sejalan dengan jumlah penduduknya nan sangat besar.

Sementara itu, Eropa nan hanya dihuni sekitar 9% populasi bumi menyumbang 21% kasus kanker dan 20% kematian dunia akibat penyakit tersebut.

Laporan juga menyoroti India sebagai salah satu dari enam negara nan secara bersama-sama menyumbang dua dari setiap lima anak di bumi nan kehilangan ibu akibat kanker. Sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh kanker tetek dan kanker serviks, dengan nyaris separuh kasus terjadi di Asia.

Empat dari Sepuluh Kanker Bisa Dicegah

WHO memperkirakan nyaris 40% kasus kanker berangkaian dengan aspek akibat nan sebenarnya dapat dicegah.

Beberapa aspek tersebut meliputi jangkitan virus dan kuman seperti HPV, hepatitis B, hepatitis C, dan Helicobacter pylori, serta kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kelebihan berat badan, dan kurangnya aktivitas fisik.

Direktur IARC, Elisabete Weiderpass, mengatakan perkembangan dalam upaya pencegahan tetap terlalu lambat. Menurutnya, pola kanker saat ini semakin dipengaruhi oleh meningkatnya nomor obesitas, style hidup kurang aktif, pola makan nan tidak sehat, serta polusi udara.

Meski menghadapi tantangan besar, laporan WHO juga mencatat sejumlah perkembangan positif. Penggunaan tembakau secara dunia telah menurun sekitar 27% sejak 2010, sehingga membantu mengurangi kasus kanker paru-paru di beberapa wilayah.

Semakin luasnya program vaksinasi HPV, peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta bertambahnya negara nan mempunyai rencana nasional pengendalian kanker juga menjadi capaian penting.

Saat ini, sekitar 82% negara telah mempunyai strategi nasional pengendalian kanker, naik dari 50% pada 2010. Namun, cakupan vaksin HPV dosis pertama pada anak wanita baru mencapai 31%, tetap jauh dari sasaran dunia sebesar 90% pada 2030.

WHO menilai kemajuan tersebut belum cukup untuk menekan nomor kematian akibat kanker secara signifikan. Hingga kini, hanya 12 negara nan berada di jalur untuk mencapai sasaran pengurangan sepertiga kematian awal akibat kanker pada 2030, sementara 48 negara justru mengalami peningkatan nomor kematian dini.

(WHO, The Economic Times/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia