Ada hal-hal mini dalam family nan baru terasa maknanya setelah kita dewasa. Salah satunya adalah weton.
Dulu, weton sering muncul dalam obrolan nan sederhana. Tidak selalu dibicarakan dengan suasana serius. Kadang hanya disebut ketika orang tua mengingat hari lahir anaknya. Kadang terdengar saat simbah menyebut pasaran seseorang. Kadang pula muncul ketika family sedang membicarakan kelahiran, hajatan, alias tanggal tertentu nan dianggap penting.
“Lair dina opo?”
“Pasarane opo?”
Pertanyaan seperti itu terdengar biasa. Namun di baliknya ada langkah lama masyarakat Jawa mengingat waktu. Kelahiran seseorang tidak hanya ditandai dengan tanggal, bulan, dan tahun. Ada hari. Ada pasaran. Ada neptu. Ada susunan waktu nan dulu sangat dekat dengan kehidupan keluarga.
Weton Berawal dari Obrolan Rumah
Bagi sebagian orang, weton mungkin hanya dianggap sebagai hitungan lama. Sesuatu nan pernah berkawan dengan orang tua, tetapi terasa jauh dari kehidupan sekarang.
Namun bagi banyak family Jawa, weton bukan sekadar angka. Ia sering menjadi bagian dari ingatan rumah. Ada orang tua nan tetap mengingat weton anaknya. Ada simbah nan bisa menyebut pasaran cucunya. Ada family nan mungkin lupa tanggal komplit sebuah peristiwa, tetapi tetap ingat bahwa hari itu jatuh pada Jumat Kliwon, Minggu Pon, alias Rabu Wage.
Ingatan seperti ini menarik. Ia tidak hanya hidup di kalender, tetapi juga di kepala keluarga.
Weton menjadi semacam tanda kecil. Ia menghubungkan seseorang dengan hari lahirnya, dengan cerita keluarga, dan dengan langkah lama orang Jawa membaca waktu.
Hari, Pasaran, dan Neptu
Dalam tradisi Jawa, weton lahir dari pertemuan antara hari tujuh dan pasaran lima. Hari tujuh adalah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Pasaran lima adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Dari pertemuan keduanya, muncullah susunan seperti Senin Legi, Selasa Pahing, Rabu Pon, Jumat Kliwon, dan seterusnya.
Di dalam weton, orang juga mengenal neptu. Neptu adalah nomor nan melekat pada hari dan pasaran. Dalam masyarakat lama, neptu sering dipakai dalam beragam pertimbangan tradisional.
Namun semua itu tidak perlu dibaca dengan tegang. Hari, pasaran, dan neptu bisa dipahami sebagai bagian dari pengetahuan budaya. Ia menunjukkan bahwa masyarakat Jawa punya langkah sendiri untuk menandai kelahiran dan membaca hari.
Dari Kalender Dinding ke Layar Digital
Dulu, orang bisa mengetahui weton dari almanak Jawa nan tergantung di rumah. Kalender seperti itu biasanya tidak hanya memuat tanggal Masehi, tetapi juga pasaran, tanggal Jawa, apalagi kadang wuku.
Di banyak rumah, almanak tembok pernah menjadi barang sehari-hari. Orang memandang tanggal, mencatat aktivitas keluarga, mencari hari tertentu, sekaligus membaca pasaran.
Sekarang, keadaan berubah. Tidak semua rumah tetap menyimpan almanak Jawa lengkap. Anak muda lebih sering memandang tanggal lewat ponsel. Jadwal family beranjak ke aplikasi. Catatan ulang tahun masuk ke pengingat digital.
Namun rasa mau tahu tentang weton tidak lenyap begitu saja.
Sekarang, ketika almanak Jawa tidak selalu tersedia di rumah, sebagian orang memilih mencari tahu hari dan pasaran kelahiran lewat ruang digital untuk memahami kembali weton dari tanggal lahir.
Perubahan ini tidak selalu berfaedah tradisi hilang. Kadang tradisi hanya pindah tempat.
Dari almanak tembok ke layar ponsel.
Dari obrolan simbah ke pencarian digital.
Dari ingatan family ke rasa mau tahu generasi sekarang.
Tidak Perlu Dibaca sebagai Vonis
Salah satu perihal nan perlu dijaga dalam membicarakan weton adalah langkah membacanya. Weton sering kali terlalu sigap dikaitkan dengan ramalan alias kepastian nasib. Akibatnya, sebagian orang merasa takut. Sebagian lain langsung menolaknya lantaran dianggap kuno.
Padahal, weton tidak kudu ditempatkan di dua sisi ekstrem itu.
Ia bisa dibaca sebagai bagian dari warisan budaya. Sebagai langkah memahami gimana orang Jawa dulu menandai waktu, mengingat kelahiran, dan menyusun percakapan tentang hari.
Hari lahir bisa menjadi tanda. Pasaran bisa menjadi bagian dari tradisi. Neptu bisa menjadi sistem hitungan budaya. Namun hidup manusia tetap lebih luas daripada hitungan apa pun.
Seseorang tetap dibentuk oleh pilihan, pengalaman, keluarga, pendidikan, lingkungan, usaha, doa, dan langkah membawa diri.
Karena itu, weton lebih sehat dibaca sebagai bahan mengenal tradisi, bukan sebagai vonis hidup.
Ingatan Budaya nan Masih Dicari
Weton tetap dicari lantaran dia dekat dengan rumah. Ia mengingatkan orang pada obrolan keluarga, almanak nan pernah tergantung di dinding, bunyi orang tua, dan pertanyaan mini nan dulu mungkin tidak terlalu diperhatikan.
Ada nan mencarinya lantaran mau tahu hari lahirnya menurut hitungan Jawa. Ada nan mau memahami pasaran. Ada nan penasaran dengan neptu. Ada pula nan mencari lantaran pernah mendengar istilah itu dari keluarga, tetapi belum sempat memahaminya.
Rasa mau tahu seperti itu penting. Dari sana, tradisi bisa dikenali kembali tanpa kudu dibaca dengan rasa takut.
Barangkali, weton memperkuat bukan lantaran semua orang memahaminya secara lengkap. Ia memperkuat lantaran tetap ada nan bertanya. Masih ada nan mau tahu. Masih ada nan merasa bahwa bagian mini dari tradisi family tidak semestinya lenyap begitu saja.
Pada akhirnya, weton bukan hanya tentang hitungan.
Ia juga tentang hari lahir.
Tentang pasaran.
Tentang keluarga.
Tentang langkah orang Jawa mengingat waktu dengan lebih pelan.
Mugi Rahayu Sagung Dumadi
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·