Waspada! Zulhas Bilang Kondisi Paceklik, Sawah Tak Lagi Berproduksi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui nilai beras di pasar mulai mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi lantaran pasokan beras dari petani menipis seiring masuknya musim tandus kering.

Zulhas mengatakan, kondisi tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Pada 2025, Indonesia mengalami tandus basah sehingga hujan tetap turun hingga akhir tahun dan petani tetap bisa menanam padi. Sementara tahun ini, kondisi lebih kering sehingga produksi petani ikut terganggu.

"Tapi tahun ini kering, nyaris tidak ada lagi sawah alias petani nan berproduksi. Kita sebut paceklik alias gadu, sehingga tidak ada produksi," kata Zulhas dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Menipisnya pasokan tersebut kemudian mulai mendorong nilai beras di pasar. Zulhas menyebut kenaikannya saat ini sudah mencapai sekitar Rp100-Rp200

"Oleh lantaran itu, lantaran supply menipis dan tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada kenaikan Rp100-Rp200," ujarnya.

Untuk meredam kenaikan harga, pemerintah memutuskan menambah pasokan beras subsidi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton.

Tambahan tersebut diberikan setelah alokasi SPHP sebelumnya sebesar 828 ribu ton nyaris habis. Dari alokasi itu, stok nan tersisa sekitar 80 ribu ton.

"Kita tambah lagi 1 juta ton SPHP medium. Jadi beras subsidi nan dijual di pasar kira-kira harganya Rp12.000 (per kg), paling mahal Rp12.500 per kg," ucap dia.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal mengatakan, tambahan 1 juta ton tersebut lebih besar dari usulan awal Bulog. Semula, Bulog mengusulkan tambahan 400 ribu ton untuk mengantisipasi kebutuhan beras hingga akhir tahun.

"Untuk beras SPHP, kami mengusulkan penambahan awalnya 400 ribu ton untuk mengantisipasi kondisi ke depan. Sebab, stok beras SPHP nan sekarang ada di gudang-gudang Bulog tinggal sekitar 100 ribu ton untuk menghadapi September, Oktober, November, dan Desember," ujar Rizal, ditemui usai konvensi pers.

Namun, pemerintah akhirnya menyetujui tambahan hingga 1 juta ton. Rizal mengatakan, pasokan tersebut juga menjadi mitigasi lantaran panen berikutnya diperkirakan baru berjalan pada Maret 2027.

"Jadi, kebutuhan kami sebenarnya untuk September, Oktober, November, Desember. Tapi dari pengarahan Pak Menko dan Pak Mentan, pada Januari dan Februari kan belum ada panen. Panen kelak di bulan Maret. Oleh lantaran itu, usulan kami nan awalnya 400 ribu ton dilipatgandakan menjadi 1 juta ton," jelasnya.

Rizal memastikan tambahan SPHP bakal disebar melalui beragam jalur distribusi, mulai dari Rumah Pangan Kita (RPK) hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

"Ke semua, pokoknya 10 saluran, sampai ke RPK dan KDKMP masuk itu semua," sebut dia.

Selain beras, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah lain untuk menjaga pasokan pangan selama periode kering, termasuk menyalurkan 150 ribu ton jagung SPHP kepada peternak mini dan menengah, serta mengolah beras Bulog nan turun mutu menjadi bahan baku tepung.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News