Ilustrasi(magnific)
BAYI yang lahir secara prematur alias mempunyai berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perhatian ekstra, tidak hanya pada masa awal kelahiran, tetapi juga dalam jangka panjang. Salah satu akibat kesehatan nan mengintai adalah gangguan kegunaan ginjal akibat proses pembentukan organ nan belum sempurna.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi dari Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, menjelaskan bahwa organ ginjal mempunyai masa pembentukan nan spesifik selama di dalam kandungan. Proses ini dimulai sejak usia kehamilan delapan minggu dan baru mencapai tahap sempurna saat mendekati usia 36 minggu.
"Kita tahu bahwa ginjal itu juga terbentuk ada masanya. Jika bayi lahir prematur (sebelum 36 minggu), berfaedah kegunaan ginjalnya belum selesai pembentukannya," ujar Henny dalam sebuah obrolan kesehatan di Jakarta, dikutip Minggu (21/6).
Kekurangan Jumlah Nefron
Inti dari persoalan ginjal pada bayi prematur terletak pada jumlah nefron. Nefron adalah unit fungsional terkecil dalam ginjal nan bekerja menyaring darah dan membuang unsur sisa metabolisme. Bayi nan lahir sebelum waktunya condong mempunyai jumlah nefron nan lebih sedikit dibandingkan bayi nan lahir cukup bulan.
Kondisi ini memaksa ginjal nan ada untuk bekerja lebih keras (hiperfiltrasi) sepanjang hidup anak. Beban kerja nan berlebih ini meningkatkan akibat munculnya beragam masalah kesehatan di masa depan, seperti tekanan hipertensi (hipertensi) hingga penyakit ginjal kronik (PGK) saat mereka beranjak dewasa.
Tabel: Risiko Ginjal pada Bayi Prematur & BBLR
| Lahir < 36 Minggu | Proses pembentukan organ ginjal terhenti/tidak optimal. |
| Defisit Nefron | Jumlah penyaring darah lebih sedikit dari normal. |
| Beban Kerja Ginjal | Ginjal bekerja lebih berat untuk mengompensasi kekurangan nefron. |
| Efek Jangka Panjang | Risiko hipertensi dan penyakit ginjal kronik di usia dewasa. |
Pentingnya Deteksi Dini
Meskipun kemajuan teknologi medis saat ini memungkinkan bayi prematur memperkuat hidup hingga dewasa, dr. Henny mengingatkan bahwa pemantauan kesehatan ginjal tidak boleh diabaikan. Penyakit ginjal pada anak sering kali berkarakter "senyap" alias tidak menunjukkan indikasi nan unik pada tahap awal.
Dokter nan juga aktif dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini mengimbau para orang tua untuk rutin memantau tumbuh kembang anak secara berkala. Pemeriksaan kesehatan rutin menjadi kunci agar jika terdapat penurunan kegunaan ginjal, penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
"Anak-anak dengan aspek akibat perlu dipantau lebih awal agar jika ada gangguan kegunaan ginjal dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin," pungkas lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·