Waspada, Ini Karakteristik Abu Vulkanik Anak Krakatau

Sedang Trending 42 menit yang lalu
Warga mengenakan masker saat beraktivitas di sekitar Halte Bundaran Hotel Indonesia, Selasa (12/12/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Banten, Jawa Barat, hingga Jakarta.

Masyarakat di area terdampak diminta meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan perlindungan diri untuk mengurangi akibat gangguan kesehatan.

Anggota IABI Dr. Daryono menjelaskan, abu vulkanik mempunyai karakter berbeda dengan debu biasa. Partikelnya merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran sangat mini sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan.

“Berbeda dari debu biasa nan lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm),” kata Daryono, Minggu (6/9).

Menurutnya, paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat memicu gangguan pernapasan hingga iritasi mata.

“Dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata,” ujarnya.

Daryono menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan selama terjadi sebaran abu. Jika kudu keluar rumah, penduduk dianjurkan menggunakan masker dengan tingkat filtrasi tinggi.

“Untuk meminimalkan akibat tersebut, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi saat terjadi sebaran abu. Jika terpaksa kudu beraktivitas di luar, penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti jenis N95 alias KN95, sgt dianjurkan lantaran masker kain biasa tidak bisa menahan partikel mikroskopis ini,” jelasnya.

Sejumlah penumpang KRL Commuter Line mengenakan masker di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin (12/62023). Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Warga Diminta Pakai Masker dan Pelindung Mata

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik nan telah terdeteksi mencapai wilayah Jakarta pada Minggu (6/9).

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan abu vulkanik mempunyai karakter berbeda dengan debu biasa. Partikel abu berukuran sangat mini dan dapat membawa kandungan silika serta material kaca vulkanik nan berkarakter abrasif.

“Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik nan telah terdeteksi mencapai wilayah Jakarta,” kata Ani dalam keterangan nan diterima kumparan, Minggu (6/9).

“Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya berukuran sangat mini dan dapat mengandung silika serta material kaca vulkanik nan berkarakter abrasif. Jika terhirup alias mengenai bagian tubuh tertentu, abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit,” sambungnya.

Menurut Ani, paparan abu vulkanik dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, di antaranya batuk, iritasi tenggorokan, hingga sesak napas. Abu juga berpotensi memperburuk kondisi penduduk nan mempunyai penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Pada mata, paparan abu dapat menyebabkan rasa perih, mata merah, hingga sensasi mengganjal. Sementara pada kulit, abu vulkanik dapat memicu gatal dan iritasi.

Dinkes DKI meminta penduduk mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika konsentrasi abu meningkat. Masyarakat juga diminta menutup rapat pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.

Bagi penduduk nan kudu bepergian, Ani mengimbau penggunaan masker KN95 alias N95 untuk membantu menyaring partikel abu nan berukuran halus.

Selain masker, penduduk disarankan menggunakan kacamata pelindung untuk mengurangi akibat abu mengenai mata.

“Setelah kembali ke rumah, mandi dan keramas serta segera mengganti pakaian. Cuci busana nan terpapar abu secara terpisah. Bila diperlukan, bilas mata dan hidung dengan air bersih,” ujar Ani.

Warga menyapu abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau di Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Foto: Sammy/REUTERS

Cara Membersihkan Abu Vulkanik

Dinkes DKI juga mengingatkan penduduk nan kudu membersihkan abu vulkanik di rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar agar tetap menggunakan perlindungan diri.

Warga diminta mengenakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, busana lengan panjang, dan sepatu tertutup sebelum melakukan pembersihan.

Ani mengingatkan abu vulkanik sebaiknya tidak langsung disapu dalam kondisi kering. Aktivitas tersebut dapat membikin partikel abu kembali beterbangan sehingga meningkatkan akibat terhirup.

Sebelum disapu, abu dapat diperciki air secukupnya agar lebih berat dan tidak mudah beterbangan. Namun, penduduk tidak disarankan menyiram abu secara berlebihan lantaran gumpalan abu dapat menyumbat saluran air dan memicu genangan.

Setelah selesai membersihkan, penduduk juga disarankan melepas masker di luar rumah sebelum masuk, kemudian mandi dan keramas serta mengganti pakaian. Pakaian nan terkena abu juga perlu dicuci secara terpisah.

“Warga juga disarankan membilas mata dan hidung dengan air bersih serta mengkonsumsi air putih nan cukup,” kata Ani.

Warga menunjukkan abu vulkanik akibat erupsi dari Anak Gunung Krakatau di Bandar Lampung, Lampung, Minggu (6/9/2026). Foto: Ardiansyah/ANTARA FOTO

Dinkes DKI meminta golongan rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.

Jika mengalami sesak napas, batuk nan semakin berat, nyeri dada, alias gangguan penglihatan, masyarakat diminta segera mendapatkan pertolongan medis di akomodasi pelayanan kesehatan terdekat.

“Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung,” tutup Ani.

Sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau juga berakibat pada operasional penerbangan. Empat airport lumpuh sementara akibat sebaran abu vulkanik tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan