Waspada Dampak El Nino: BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan di Indonesia

Sedang Trending 1 hari yang lalu
 BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan di Indonesia Warga mencuci busana di sumber mata air Sumur Bendung, Gunung Batur, Kota Cilegon, Banten, Rabu (15/7/2026). Warga di area perbukitan tersebut mengalami kesulitan memperoleh air bersih.(ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi kekeringan, kebakaran rimba dan lahan (karhutla), serta angin kencang bakal meningkat dalam sepekan ke depan seiring menguatnya kejadian El Nino. Hingga Dasarian II Juli 2026, musim tandus telah meluas ke 509 Zona Musim alias sekitar 72,8% wilayah Indonesia.

BMKG mencatat kondisi kering semakin mendominasi dengan curah hujan kategori rendah mencakup 92,93% wilayah Indonesia. Sementara itu, sebanyak 89,97% wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.

"Dampak kondisi kering mulai terlihat dari adanya laporan kekeringan pada periode 24–27 Juli 2026 di Jawa Tengah serta kejadian kebakaran rimba dan lahan di sejumlah wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan," tulis BMKG, Selasa (28/7). 

BMKG menjelaskan penguatan El Niño menjadi aspek utama nan memperparah kondisi kering di Indonesia. Indeks Niño 3.4 tercatat mencapai +2,26 dengan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28,2, nan mengindikasikan El Niño berintensitas kuat dan tetap berpotensi menguat.

"Kondisi ini dapat menghalang proses pembentukan awan hujan dan semakin memperkuat kecenderungan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia," ujar BMKG.

Meski demikian, hujan tetap berpotensi terjadi secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik.

Dalam periode 28-30 Juli, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di Sulawesi Selatan. Hujan dengan intensitas sedang juga diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Bali, sebagian besar Kalimantan, Maluku, dan sejumlah wilayah Papua.

Selain hujan, angin kencang juga berpotensi melanda Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, dan Papua Selatan. 

Kondisi serupa tetap bersambung pada periode 31 Juli hingga 4 Agustus dengan wilayah terdampak meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air di wilayah nan mulai mengalami kekeringan serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan.

"Apabila menemukan titik api alias indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berkuasa agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas," tulis BMKG.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta tetap mewaspadai potensi hujan lokal nan dapat disertai petir dan angin kencang. BMKG mengingatkan masyarakat menghindari berlindung di bawah pohon, baliho, maupun gedung rentan saat cuaca buruk, serta rutin memantau info prakiraan cuaca dan peringatan awal resmi BMKG.

(P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia