Waspada, 32 Daerah di Jawa Tengah Alami Puncak Kemarau di Bulan Agustus

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Waspada, 32 Daerah di Jawa Tengah Alami Puncak Kemarau di Bulan Agustus Seorang penduduk membawa galon berisi air dari tandon nan disalurkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat pendistribusian support air bersih di Desa Kunden, Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2026)(ANTARA/Mohammad Ayudha)

KEKERINGAN sebagai akibat tandus di Jawa Tengah menjadi ancaman serius, penduduk mulai kelimpungan untuk mendapatkan sumber air bersih, hingga support terus digelontorkan ke ratusan ribu family di ratusan desa terdampak. 

Pemantauan Media Indonesia Minggu (2/8) meskipun tetap ada hujan turun di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, namun kekeringan sebagai akibat tandus panjang madih menjadi ancaman serius di sejumlah daerah, apalagi ribuan penduduk hanya dapat mengandalkan support air bersih untuk kebutuhan konsumsi lantaran tidak adanya sumber mata air di desanya. 

"Setiap tandus kami selalu kesulitan air bersih, apalagi penduduk acapkali  menggali sumur bor tidak keluar air membikin kondisi semakin berat, " kata Sekretaris Desa Banjardowo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan Hadi Sukanto. 

Hal serupa juga diungkapkan Rochmad, penduduk Desa Pengkoljagong, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora mengaku selalu mengalami kesulitan air bersih saat terjadi tandus panjang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan untuk konsumsi hanya dapat mengandalkan support air bersih dari pemerintah. "Sumur dan mata mengering, apalagi kami mencari air bersih cukup jauh masuk hutan" imbuhnya. 

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan kekeringan di Jawa Tengah hibgga awal Agustus ini telah melanda 24 kabupaten/kota, sehingga support air bersih terus digelontorkan untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu penduduk terdampak. 

Hingga akhir Juli, menurut Bergas Catursasi Penanggungan, sebanyak 5,7 juta liter support air bersih telah disalurkan kepada 184.643 jiwa (61.139 keluarga) nan tersebar di 148 desa, jumlah ini meningkat dibanding awal Juli lampau karena tak 1,6 juta liter nan mencatat diberikan kepada 35.727 jiwa (12.208 keluarga) di 49 desa.

"Klaten menjadi wilayah dengan pengedaran air bersih terbesar mencapai 1,74 juta liter, diikuti Pemalang 918 ribu liter, Banjarnegara 432 ribu liter, Grobogan 315 ribu liter, Banyumas 210 ribu liter, Purbalingga 145 ribu liter, Jepara 138 ribu liter, Cilacap 137 ribu liter, Sukoharjo 130 ribu liter dan Boyolali 118 ribu liter, " ujar Bergas Catursasi Penanggungan. 

Puncak Kemarau di 32 Daerah

Sementara itu dalam rilisnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan pada Agustus ini, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprediksi mengalami puncak musim kemarau, setidaknya ada 32 dari 35 wilayah (83, 3 persen)di provinsi ini berpotensi dilanda kemarau. 

Berikut wilayah di Jawa Tengah dilanda tandus pada Agustus 2026: Kota Tegal Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Magelang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal Kabupaten, Kendal Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara.

Selain  itu Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, sebagian besar wilayah Kabupaten Pemalang, sebagian besar wilayah Kabupaten Pekalongan, sebagian besar wilayah Kabupaten Batang, sebagian besar wilayah Kabupaten Pati, sebagian besar wilayah Kabupaten Rembang 

Selanjutnya sebagian besar wilayah Kabupaten Grobogan, sebagian besar wilayah Kabupaten Boyolali, sebagian besar wilayah Kabupaten Sukoharjo, sebagian besar wilayah Kabupaten Wonogiri, sebagian wilayah Kabupaten Demak, sebagian wilayah Kabupaten Sragen, sebagian wilayah Kabupaten Karanganyar, sebagian mini wilayah Kabupaten Kudus serta sebagian mini wilayah Kabupaten Blora. 

Antisipasi Karhutla

Tidak hanya kekeringan, tandus panjang ini juga berakibat terjadinya musibah kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di beragam daerah, BPBD Jawa Tengah mencatat hingga akhir Juli terdampat 37 kejadian karhutla di 16 kabupaten/kota nan menelan 42 hektare lahan dengan wilayah terbesar di Sukoharjo, Blora, Klaten dan Sragen. 

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Yuliyanto mengatakan sebagai antisipasi karhutla terus memperkuat langkah-langkah pencegahan dengan mengerahkan personil di seluruh polres jejeran untuk melakukan monitoring dengan meningkatkan patroli di area hutan, perkebunan, lahan pertanian, serta wilayah lain nan mempunyai tingkat kerawanan tinggi.

“Selain melakukan patroli, jani pantau hotspot berbasis info satelit juga terus dioptimalkan, setiap titik panas nan terdeteksi segera diverifikasi oleh personel di lapangan agar kondisi sebenarnya dapat diketahui secepat mungkin, " kata Yuliyanto. 

Sebagian besar kebakaran lahan pada musim kemarau, ungkap Yuliyanto, dipicu oleh aktivitas manusia nan kurang memperhatikan aspek keselamatan, terutama saat membersihkan lahan alias membakar sisa hasil panen, hembusan angin mempercepat penyebaran kebakaran semula mini menjadi besar hingga susah dikendalikan.

Polda Jawa Tengah bakal terus memperkuat patroli, demikian Yuliyanto, meningkatkan pemantauan hotspot, juga mempererat koordinasi dengan BPBD, TNI, Perhutani, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga golongan masyarakat, lantaran keberhasilan mencegah karhutla  tidak hanya berjuntai pada abdi negara penegak hukum, tetapi juga memerlukan kesadaran dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia