Amerika Serikat (AS) dan Jepang bekerja sama mendorong penguatan yen dalam salah satu pemulihan nilai tukar terbesar sejak mata duit Negeri Sakura itu mengalami tren pelemahan selama bertahun-tahun. Sebelumnya, depresiasi yen memicu lonjakan inflasi di Jepang sekaligus memberi akibat ke pasar finansial global.
Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan New York, Jumat (31/7) yen menguat ke level 157,40 per dolar AS, menjadi posisi terbaik sejak awal Mei. Padahal, dua hari sebelumnya mata duit tersebut sempat berada di kisaran terlemah sejak 1986. Kondisi itu memicu kekhawatiran di Tokyo lantaran kenaikan biaya impor menekan bumi upaya dan rumah tangga.
Penguatan yen dipicu oleh kombinasi intervensi pembelian yen, komunikasi otoritas kepada sejumlah bank nan aktif memperdagangkan mata duit tersebut, serta pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Bessent, nan mempunyai pengalaman panjang di industri hedge fund, memberi sinyal bahwa nilai tukar yen saat ini terlalu lemah.
Berbeda dengan upaya sebelumnya nan hanya bisa mengangkat yen dalam waktu singkat sebelum kembali melemah, koordinasi antara AS dan Jepang kali ini dinilai sebagai nan paling erat dalam beberapa dasawarsa terakhir. Situasi tersebut meningkatkan akibat bagi pelaku pasar nan selama ini bertaruh terhadap pelemahan yen.
Komitmen Bessent terlihat dari foto kitab catatannya nan diunggah Reuters saat rapat kabinet di Camp David, Jumat. Dalam bagian berjudul “To Do”, tertulis catatan: “Buy Japanese Yen (JPY) $5-10 bil.”
“Pasar telah meremehkan otoritas,” kata Michiyoshi Kato, penasihat senior tim pengguna kurs asing dan suku kembang di Sumitomo Mitsui Trust Bank, Tokyo.
“Kemungkinan sekarang menjadi lebih susah bagi spekulan untuk menjual yen. Jika ada intervensi lagi, nilai tukar dolar terhadap yen kemungkinan bakal turun di bawah 155 yen,” imbuhnya.
Menurut sumber nan mengetahui persoalan tersebut, otoritas Jepang membeli yen dan menjual dolar AS pada perdagangan New York, Jumat. Harian Nikkei melaporkan pemerintah Jepang berbareng Bank of Japan melakukan intervensi pembelian yen untuk hari kedua berturut-turut.
Di sisi lain, Financial Times melaporkan Federal Reserve Bank of New York menjual euro untuk membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS. Sedikitnya dua bank besar di AS juga diminta Federal Reserve Bank of New York memeriksa nilai tukar yen terhadap euro pada hari nan sama, menurut dua sumber nan mengetahui persoalan tersebut kepada Bloomberg.
Sebelumnya, Bessent juga menarik perhatian pasar setelah menyatakan dalam wawancara dengan Fox Business pada Kamis bahwa yen “very undervalued” dan “excess volatility” isn’t healthy.
Hingga Jumat malam waktu setempat, Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Sementara itu, pejabat Kementerian Keuangan Jepang juga belum memberikan pernyataan pada Sabtu di Tokyo.
Selama ini, yen tertekan oleh kenaikan nilai minyak, defisit anggaran Jepang nan berkepanjangan, serta selisih suku kembang nan lebar antara Jepang dengan AS maupun negara ekonomi utama lainnya.
Pelemahan yen dinilai tidak hanya menjadi persoalan domestik Jepang. Gejolak di pasar finansial negara tersebut kerap merembet ke pasar global. Bahkan, volatilitas obligasi pemerintah Jepang tahun ini telah mempengaruhi pasar obligasi pemerintah AS (US Treasuries), nan disebut memicu kekesalan Bessent.
Selain itu, pelemahan yen nan memperbesar untung perdagangan Jepang terhadap AS juga berpotensi memicu ketidakpuasan Presiden Donald Trump.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·