Warning RI Cs, Konflik AS-Iran Bisa Picu Krisis Moneter Asia 1997?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia -Ancaman krisis daya di bumi semakin tinggi. Ini setelah prasarana vital Arab Saudi dihantam serangan Iran. 

Dalam pernyataan Rabu, kerajaan mengungkap gimana "pipa kritis" Arab Saudi ke Laut Merah menderita serangan baru-baru ini nan berakibat pada pemotongn aliran minyak sebanyak 700.000 barel per hari. Ini mengenai hantaman rudal ke stasiun pompa pipa Timur-Barat nan merupakan jalur utama ekspor Arab Saudi ke negara lainnya saat Selat Hormuz diblokade Iran.

Tak hanya itu, serangan pada akomodasi produksi Manifa dan Khurais juga telah memangkas output kerajaan sebesar 600.000 barel per hari. Hal ini menambah "luka" pada pasokan daya global.

Fakta baru ini menjadi gangguan pasokan minyak terburuk sejak embargo minyak Arab tahun 1970-an, akibat Perang Yon Kipur, antara Arab dan Israel. Lalu akankah penderitaan ekonomi nan mulai menyebar luas itu, bakal membikin krisis moneter Asia 1997 terulang kembali?

'Hantu' krisis 1997 memang sulit untuk diabaikan. Apalagi geopolitik dunia membikin mata duit Asia sekarang berada di bawah tekanan dahsyat nan memicu akibat arus modal keluar.

Lonjakan biaya daya telah mendorong pemerintah meluncurkan langkah darurat, sementara bank sentral mulai menguras persediaan devisa mereka. Di Thailand, kreator kebijakan mulai menjatah bensin sementara Filipina telah menyatakan keadaan darurat nasional akibat lonjakan nilai bahan bakar di pompa bensin.

Meski demikian seorang peneliti senior di Chatham House, David Lubin, menyatakan meski ada kemiripan, struktur krisis kali ini sepenuhnya berbeda. Karena ekonomi Asia sekarang jauh lebih terlindungi berkah warisan krisis akhir 1990-an.

"Krisis dapat mengambil banyak bentuk, dan corak krisis [Iran] ini sangat berbeda," ujarnya dimuat CNBC International Jumat (10/9/2026).

"Krisis 1997 didorong oleh campuran berbisa dari nilai tukar tetap, tingkat utang luar negeri jangka pendek nan tinggi, dan tingkat persediaan devisa nan rendah," tambahnya.

Hal sama juga dikatakan manajer investasi pendapatan tetap di Aberdeen Investments, Fesa Wibawa. Ia menambahkan bahwa arsitektur finansial area ini telah berevolusi secara substansial dengan pasar lokal nan lebih dalam.

"Hal tersebut mengurangi akibat pelarian modal mendadak dan deleveraging paksa nan mendefinisikan krisis 1997," ujar Wibawa.

Financial Shock vs Physical Shock

Brad Setser, peneliti senior di Council on Foreign Relations, menjelaskan bahwa jika krisis 1997 adalah guncangan pada akun finansial. Tapi, krisis saat ini adalah guncangan bentuk alias pasokan pada akun melangkah lantaran terhentinya aliran minyak.

"Satu adalah guncangan finansial, nan lainnya adalah guncangan bentuk alias pasokan. Dan bagi ekonomi Asia nan paling parah terkena dampaknya, krisis 97/98 adalah guncangan nan jauh lebih besar," kata Setser.

Blokade efektif di Selat Hormuz saat ini telah mencekik sekitar sepertiga pasokan minyak nan dibutuhkan untuk ekonomi regional. Sultan Ahmed Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC), menegaskan bahwa meskipun ada pembicaraan gencatan senjata, jalur pelayaran tersebut tetap tidak aman.

"Momen ini memerlukan kejelasan. Jadi mari kita perjelas: Selat Hormuz tidak terbuka. Akses sedang dibatasi, diberi syarat, dan dikendalikan," tegas Al Jaber.

Benteng Cadangan Devisa

Berbeda dengan kondisi tiga dasawarsa lalu, negara-negara Asia sekarang mempunyai tembok pertahanan nan lebih kuat. Berdasarkan info Federal Reserve AS, persediaan devisa Korea Selatan (Korsel) mencapai lebih dari US$ 400 miliar pada akhir Januari, melonjak drastis dibandingkan saat krisis 1997 nan hanya berkisar US$ 30 miliar hingga US$ 40 miliar.

Direktur China di Eurasia Group, Dan Wang, mengatakan bahwa reformasi nilai tukar telah memperkuat ketahanan kawasan. Karena mata duit sekarang dibiarkan bergerak lebih bebas untuk menyerap tekanan.

"Selama guncangan minyak ini, persediaan nan cukup, terutama di Thailand dan Filipina, telah menghindari kebutuhan bakal kenaikan suku kembang nan garang untuk mempertahankan mata uang. Masalah nan dihadapi negara-negara tersebut sekarang adalah kemungkinan stagflasi, tetapi sistem finansial tetap utuh," tutur Wang.

Risiko Stagflasi Mengintai?

Meski begitu kepala ahli ekonomi untuk Asia Pasifik di Natixis Bank, Alicia García-Herrero, memperingatkan bahwa ruang fiskal saat ini jauh lebih terbatas dibandingkan tahun 1997 lantaran tingkat utang publik nan sudah tinggi. Indonesia dan Filipina dinilai paling rentan terhadap akibat arus keluar modal dan tekanan pada nilai tukar Rupiah serta Peso.

"Belum ada pelarian modal secara luas nan terlihat. Investor memosisikan diri secara hati-hati di seluruh area daripada panik," jelas García-Herrero.

Indonesia sendiri menghadapi tekanan pada anggaran subsidi daya 2026 sebesar Rp 381,3 triliun nan disusun dengan dugaan nilai minyak US$ 70 per barel, jauh di bawah nilai pasar saat ini nan sempat menyentuh US$ 97 per barel. Rob Subbaraman, kepala ahli ekonomi di Nomura Bank, menekankan bahwa deeskalasi kudu segera dilakukan sebelum akibat ekonomi menjadi tidak terkendali.

"Jika AS melakukan eskalasi lebih jauh dan/atau menempatkan pasukan di lapangan, lonjakan inflasi awal dapat dengan sigap berubah menjadi guncangan pertumbuhan," kata Subbaraman.

Matt Smith, analis minyak di Kpler, menambahkan bahwa produsen minyak Teluk telah menghentikan sekitar 13 juta barel per hari produksi akibat kekacauan di selat tersebut.

"Selat Hormuz tetap tertutup sampai perkembangan lebih lanjut dengan Iran," pungkas Smith.

(tps/șef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News