Warga Manggarai Meninggal di Posko Pengungsian

Sedang Trending 43 menit yang lalu
Warga Manggarai Meninggal di Posko Pengungsian Pengungsi gempa NTT(MI/Marianus Marselus)

KEKHAWATIRAN terhadap gempa susulan membikin family dan penduduk memilih tetap memperkuat di tenda pengungsian. Di tengah kondisi tersebut, seorang penduduk terdampak gempa di Kampung Rebuk, Dusun Watu Lencung, Desa Perak, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, meninggal bumi pada Sabtu, 5 September 2026.

Warga nan meninggal bumi tersebut diketahui berjulukan Sofia Rinik, 57. Jenazah Sofia kemudian disemayamkan di posko pengungsian berdikari lantaran rumahnya mengalami keretakan akibat gempa. Warga juga tetap cemas terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Sofia diketahui telah tinggal di tenda pengungsian sejak hari pertama gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Selama nyaris tiga pekan berada di posko, kondisi Sofia disebut relatif baik dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

Tetangga Sofia, Alber Cangkung, mengatakan Sofia mempunyai riwayat penyakit glukosuria dan jantung. Sebelum gempa terjadi, Sofia apalagi sempat menjalani perawatan di Puskesmas Beamese, salah satu akomodasi kesehatan terdekat dari kampung tersebut.

“Selama di posko pengungsian berdikari kurang lebih tiga pekan, almarhum aman-aman saja. Makan seperti biasa, hanya suaranya sedikit hilang. Saya juga kurang tahu bunyi lenyap lantaran apa,” kata Alber, Sabtu (5/9).

Meninggal Saat Hendak Sambung Air

Alber mengatakan Sofia meninggal bumi setelah tiba-tiba terjatuh di laman rumah saat hendak menyambungkan selang air dari keran umum menuju rumahnya. Jarak keran umum tersebut sekitar 15 meter dari rumah Sofia.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Sebelumnya, wilayah Flores kembali diguncang gempa susulan berkekuatan magnitudo 4,1 pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 Wita.

Menurut Alber, penduduk nan berada di sekitar letak langsung panik ketika memandang Sofia terjatuh. Sejumlah penduduk kemudian berteriak meminta pertolongan dan segera mengangkat Sofia menuju rumah.

“Saat kejadian kami juga kaget, lantaran selama di posko pengungsian berdikari almarhum aman-aman saja. Saat kejadian almarhum jatuh. Sejumlah penduduk langsung mengangkat dan membawanya ke rumah. Sampai di rumah, almarhum sudah dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya.

Rumah Retak, Jenazah Disemayamkan di Tenda

Setelah Sofia meninggal dunia, family dan penduduk menghadapi persoalan lain. Rumah nan semestinya menjadi tempat untuk menyemayamkan jenazah tidak lagi dianggap kondusif lantaran mengalami keretakan akibat gempa.

Kondisi tersebut diperparah dengan gempa susulan nan tetap terjadi hingga kini. Warga cemas jika jenazah disemayamkan di dalam rumah, mereka justru menghadapi akibat andaikan gempa kembali mengguncang wilayah tersebut.

“Tidak mungkin disemayamkan di rumah pribadi almarhum. Rumahnya saat ini mengalami keretakan akibat gempa pertama, belum lagi gempa susulan ini. Semua family takut gempa susulan terjadi. Mau di mana lagi, satu-satunya pilihan ya di posko pengungsian mandiri,” kata Alber.

Jenazah Sofia akhirnya disemayamkan di tenda pengungsian berdikari nan selama nyaris tiga pekan menjadi tempat penduduk berlindung dari ancaman gempa susulan.

Peristiwa ini sekaligus menggambarkan kondisi penyintas gempa di wilayah pedesaan Manggarai nan hingga sekarang tetap dihantui rasa takut. Kerusakan rumah dan aktivitas gempa susulan membikin sebagian penduduk belum berani kembali sepenuhnya ke rumah mereka.

Sementara itu, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Manggarai, Ody Jemat, menyampaikan bahwa hingga 3 September 2026, jumlah korban meninggal bumi akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai mencapai 54 orang.(MM/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia