Jakarta, CNBC Indonesia - Jauh sebelum Malaysia berdiri sebagai negara merdeka, sempat muncul pendapat besar untuk menyatukan wilayah Nusantara dan Malaya dalam satu negara berjulukan Indonesia Raya. Wacana tersebut mencuat pada masa-masa akhir pendudukan Jepang di Asia Tenggara dan melibatkan sejumlah tokoh nasionalis dari kedua wilayah.
Dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945, sejumlah tokoh pergerakan Melayu apalagi disebut mendukung pendapat penyatuan tersebut. Dukungan itu ditunjukkan lewat pengibaran bendera Merah Putih serta pernyataan kesediaan berasosiasi dengan Indonesia merdeka.
Gagasan Indonesia Raya mencakup wilayah Indonesia, Malaya, Singapura, Brunei, hingga Kalimantan Utara. Ide ini berkembang di tengah semangat anti-kolonialisme dan kemauan membentuk satu tanah air bagi rumpun Melayu di area Asia Tenggara.
Momentum krusial itu terjadi ketika Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat berjumpa dengan tokoh nasionalis Melayu di Perak, Malaya. Pertemuan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian krusial dalam sejarah hubungan Indonesia dan Malaysia.
Kisah ini bermulai pada 12 Agustus 1945, ketika tiga tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, ialah Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat, dipanggil ke Dalat, Vietnam. Mereka berjumpa dengan Hisaichi Terauchi, pemimpin militer Jepang di Asia Tenggara, nan menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus 1945.
Dalam perjalanan pulang, rombongan Soekarno sempat singgah di Singapura sebelum melanjutkan perjalanan ke Taiping, Perak. Di sana, mereka berjumpa dengan tokoh nasionalis Melayu, Ibrahim Yaacob dan Burhanuddin Al-Helmy.
Keduanya merupakan pemimpin organisasi pergerakan Kesatuan Melayu Muda (KMM) dan Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung (KRIS), nan sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Malaya dari kekuasaan Inggris. Pertemuan ini menjadi salah satu momen krusial dalam wacana penyatuan Indonesia dan Malaya di masa menjelang kemerdekaan.
Pertemuan tersebut melahirkan pendapat Negara Indonesia Raya, nan mencakup Indonesia, Malaya, Singapura, Brunei, dan Kalimantan Utara. Menurut peneliti Graham Brown dalam risetnya tahun 2005, buahpikiran ini lahir dari kerjasama tokoh lokal dengan Jepang.
Dalam kesempatan itu, Soekarno mengatakan: "Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka nan berdarah Indonesia."
Ibrahim Yaacob pun menjawab: "Kami orang Melayu bakal setia menciptakan tanah air dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia nan merdeka."
Namun, rencana penyatuan itu tidak mendapat persetujuan penuh. Sejarawan Boon Kheng Cheah menulis dalam Red Star Over Malaya (1983), ada kemungkinan Mohammad Hatta dan tokoh lain menolak buahpikiran persatuan tersebut.
Tak lama berselang, Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Situasi itu mendorong golongan muda di Jakarta mendesak proklamasi kemerdekaan segera dilakukan. Setelah drama Rengasdengklok, Indonesia akhirnya merdeka pada 17 Agustus 1945, lebih sigap dari rencana Jepang.
Sejak saat itu, pendapat Indonesia Raya pun kandas. Ibrahim Yaacob kudu mengubah arah perjuangannya, sementara Malaysia baru meraih kemerdekaan 12 tahun kemudian, tepatnya pada 31 Agustus 1957.
(fab/fab)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·