Sejumlah penduduk rela datang dari Depok dan Tangerang untuk menghabiskan akhir pekan di Monas, Jakarta. Namun, rencana tersebut batal setelah mereka baru mengetahui akses ke tugu ditutup sementara untuk perawatan.
Salah satunya Anton (48), penduduk Depok. Dia datang berbareng keluarganya dengan niat membujuk anak-anak naik ke Tugu Monas. Namun, setibanya di lokasi, dia baru mengetahui akses menuju tugu ditutup.
"Iya, baru tahu pas sudah sampai sini. Kita sebenarnya sudah niat dari rumah. Anak-anak juga sudah senang mau naik ke atas Monas," kata Anton saat ditemui di area Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anton mengaku tidak mengetahui info mengenai penutupan Tugu Monas. Dia baru menyadari tugu ditutup setelah tiba di lokasi.
"Saya nggak tahu. Saya juga nggak lihat informasinya, berita-berita. Tahunya pas sudah di sini, rupanya bagian tugunya nggak bisa dimasuki lantaran sedang ada perawatan," ujarnya.
Anton juga sempat heran lantaran kereta wisata nan biasanya mengantar visitor menuju Tugu Monas tidak beroperasi.
"Makanya tadi kan biasanya ada kereta nan buat antar kita sampai tugu. Ini kok nggak ada," lanjutnya.
Dia mengaku kecewa lantaran anak-anaknya sudah antusias mau naik ke Tugu Monas. Meski begitu, Anton memahami penutupan dilakukan untuk kepentingan perawatan.
"Ya, kecewa pasti, anak-anak sih terutama. Namanya sudah jauh-jauh datang, apalagi bawa anak. Kita pikir bisa masuk ke tugu, rupanya ditutup. Tapi ya mau gimana lagi, jika memang sedang dirawat berfaedah demi kebaikan juga kan," jelasnya.
Anaknya apalagi sempat mempertanyakan rencana mereka nan batal naik ke Monas.
"Ya sempat kecewa. Tadi anak saya bilang, 'Ayah, katanya mau naik Monas.' Saya bilang memang lagi ditutup, jadi kita cari aktivitas lain saja di sini. Duduk-duduk sembari lihat pemandangan," ucapnya.
Anton mengaku pernah naik ke Tugu Monas sebelumnya. Namun, kunjungan tersebut sudah cukup lama. Sebab itu, dia mau kembali sekaligus mengenalkan Monas kepada anak-anaknya.
"Pernah, tapi sudah lama. Makanya sekarang pengin datang lagi. Sekalian ngajak anak agar tahu Monas seperti apa," katanya.
Menurut Anton, perawatan Tugu Monas tetap diperlukan agar gedung ikonik Jakarta tersebut tetap terjaga. Dia berambisi info mengenai penutupan Tugu Monas dapat disampaikan lebih luas sehingga masyarakat nan hendak berjamu bisa mengetahui kondisi terbaru sebelum datang.
"Ya semoga perawatannya sigap selesai dan jika sudah dibuka lagi informasinya disampaikan luas. Jadi masyarakat tahu kapan bisa masuk lagi," tuturnya.
Hal serupa dialami Nuning (38), penduduk Tangerang. Dia datang berbareng family dengan niat naik ke Tugu Monas dan memandang pemandangan Jakarta dari atas.
"Iya. Memang dari kemarin niat mau naik ke atas Monas. Penasaran mau lihat Jakarta dari atas. Jadi kita pikir hari ini waktunya pas," kata Nuning.
Namun, sesampainya di Monas, Nuning baru mengetahui Tugu Monas sedang ditutup. Informasi tersebut dia dapat dari petugas di lokasi.
"Iya, kita baru tahu setelah sampai. Tadi dikasih tahu sama petugasnya. Tadi sempat bingung juga lantaran rupanya ada perawatan," ujarnya.
Nuning mengaku sedikit kecewa lantaran sudah menempuh perjalanan dari Tangerang berbareng anaknya. Meski demikian, dia memahami argumen penutupan tersebut.
"Ya agak kecewa. Soalnya perjalanan dari Tangerang lumayan. Kita sudah siap dari pagi. Anak juga sudah semangat. Tapi ya setelah tahu alasannya lantaran perawatan, kita bisa mengerti sih," katanya.
Nuning pun lantas berencana membujuk keluarganya melanjutkan perjalanan ke Lapangan Banteng usai tak bisa naik ke Tugu Monas.
"Nanti paling kita coba ke Lapangan Banteng aja lenyap ini. Mau lihat-lihat, katanya ada aktivitas juga di sana," tuturnya.
Nuning menilai perawatan Monas memang penting. Menurutnya, sebagai salah satu ikon Jakarta, Tugu Monas kudu dirawat agar tetap terjaga.
"Ya kan perawatan gini penting. Justru saya setuju. Monas itu kan ikon Jakarta. Kalau tidak dirawat kelak malah rusak. Jadi saya nggak mempermasalahkan ditutup untuk perawatan," ujarnya.
Dia juga menilai aspek keselamatan visitor kudu menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan perawatan. Meski begitu, Nuning berambisi info mengenai penutupan bisa disampaikan lebih gencar kepada masyarakat.
"Yang krusial kondusif untuk pengunjung. Jangan lantaran mengejar agar tetap buka malah membahayakan kan," kata Nuning.
"Ya itu tadi, informasinya kudu lebih gencar. Bisa dari media sosial, papan pengumuman, alias info di pintu masuk. Jadi masyarakat nggak kecewa," pungkasnya.
(bel/amw)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·