Sejak pandemi COVID-19, rumah tangga di Inggris telah membangun alas finansial nan dapat digunakan saat dibutuhkan. Kini, tampaknya saat itu telah tiba. Perang di Timur Tengah telah mendorong nilai bahan bakar naik sekitar 20 persen sejak Februari dan menghapus angan bakal penurunan suku kembang oleh Bank of England. Biaya angsuran pemilikan rumah (KPR) meningkat, inflasi menggerus pertumbuhan upah, dan lapangan pekerjaan baru semakin susah diperoleh. Meski kondisi tersebut suram, konsumen nan menyumbang sekitar 60 persen aktivitas ekonomi Inggris itu tetap terpantau terus berbelanja. Data penjualan ritel bulanan melampaui ekspektasi sebanyak lima kali sepanjang tahun ini, sementara shopping menggunakan kartu meningkat pada laju tercepat dalam 11 bulan terakhir berkah Piala Dunia 2026 dan cuaca cerah nan mendorong permintaan. Setelah menabung jauh lebih banyak dari perkiraan sejak 2022, masyarakat Inggris sekarang mulai mengurangi tabungan dan kembali berbelanja, dengan menggunakan simpanan mereka untuk menyerap akibat lonjakan biaya daya sekaligus mempertahankan standar hidup. Perubahan pola shopping tersebut membantu menopang perekonomian secara keseluruhan serta memberi Perdana Menteri Andy Burnham lebih banyak waktu dan ruang fiskal untuk memenuhi janjinya memberikan lebih banyak “ruang bernapas” bagi kondisi finansial rumah tangga. Kepala Ekonom Inggris Pantheon, Rob Wood, mengatakan konsumen meratakan akibat pelemahan pertumbuhan pendapatan riil nan terjadi dengan langkah mengurangi tabungan. “Mereka memperlakukan guncangan pendapatan ini sebagai sesuatu nan berkarakter sementara, bukan permanen. Hal ini juga sejalan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi nan tetap tangguh,” ujar Wood, dikutip dari Bloomberg, Jumat (31/7).
Analisis Bloomberg terhadap info sentimen GfK menunjukkan bahwa di kalangan rumah tangga dengan pendapatan tahunan 35.000 poundsterling alias sekitar USD 46.500 alias lebih, niat untuk menabung turun ke level terendah dalam sekitar dua tahun terakhir. Pada saat nan sama, kemauan untuk melakukan pembelian berbobot besar relatif tetap kuat, terutama di golongan berpendapatan tinggi. Sementara info Bank of England menunjukkan rumah tangga hanya menambah sekitar 6,3 miliar poundsterling ke dalam simpanan tunai dan simpanan bank pada Juni, turun 20 persen dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Nilai itu memang lebih tinggi dibandingkan Mei, tetapi sebagian besar peningkatan berasal dari masyarakat nan memilih menyimpan duit tunai dibandingkan menambah saldo rekening tabungan, nan menurut Wood mengindikasikan mereka berencana membelanjakan duit tersebut dalam waktu dekat. Hal ini juga sejalan dengan info resmi nan menunjukkan tabungan rumah tangga turun menjadi 44,5 miliar poundsterling pada kuartal I, alias 14 persen lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Meski tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi COVID-19, rasio tabungan rumah tangga sekarang turun di bawah 9 persen, setelah sempat berada di atas dua digit hingga 2024. Ketahanan konsumen membantu melindungi perekonomian Inggris dari akibat terburuk lonjakan nilai energi. Aktivitas sektor swasta Inggris tumbuh pesat pada Juli, antara lain didorong oleh shopping selama Piala Dunia, ketika tim nasional Inggris mencapai babak semifinal serta meningkatnya liburan domestik. Data pertumbuhan ekonomi resmi juga melampaui ekspektasi perlambatan pada Mei. Seperti Amerika Serikat (AS), Inggris menjadi semakin berbentuk “K” sejak pandemi COVID-19. Rumah tangga berpendapatan tinggi terus membelanjakan duit untuk perjalanan dan rekreasi sekaligus tetap menambah tabungan, sementara golongan masyarakat lainnya kudu berjuang menghadapi kenaikan biaya hidup. Kelompok berpenghasilan tinggi memberikan akibat nan sangat besar terhadap perekonomian lantaran 20 persen rumah tangga teratas menyumbang sekitar 40 persen total pengeluaran.
Selain kebutuhan pokok, Direktur Consumer Insights GfK, Neil Bellamy, mengatakan golongan ini juga mendukung penjualan produk-produk berbobot besar secara umum, terutama produk premium seperti mesin kopi premium dan produk sejenis. Namun, alas tabungan tersebut bisa jadi tidak cukup andaikan gencatan senjata jangka panjang antara AS dan Iran tidak terwujud. Indikator Royal Automobile Club menunjukkan nilai bensin tetap berada di kisaran 158 pence per liter, tidak jauh dari puncak nilai tahun ini nan tercatat pada Mei. Sementara itu, meski pelemahan pasar tenaga kerja mulai mereda, perusahaan tetap mengurangi perekrutan dan hanya menawarkan kenaikan bayaran nan lebih terbatas. Kondisi tersebut pun mempersulit upaya Burnham untuk menekan biaya hidup masyarakat. Sejak menjabat, dia telah memangkas pajak sebesar 5 persen atas tagihan energi, membatasi tarif bus, serta menurunkan pungutan bagi pub, klub, dan tempat intermezo langsung. Kebijakan-kebijakan tersebut memang populer, tetapi belum cukup signifikan untuk betul-betul mengubah apakah masyarakat Inggris menjadi lebih sejahtera alias justru sebaliknya. “Meski tingkat kepercayaan golongan berpendapatan tinggi memperkuat lebih baik, mereka tetap menghadapi kenaikan nilai pangan nan berkelanjutan,” ucap Bellamy. “Namun, kemungkinan aspek nan lebih besar memengaruhi mereka adalah kenaikan nilai energi,” lanjutnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·