Warga di Pinggiran Rel Nikmati Air Bersih dari Program Master Meter

Sedang Trending 14 jam yang lalu

Surakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Kampung Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, mulai mendapatkan akses air bersih. Melalui program Master Meter, sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) nan tinggal di area padat masyarakat tersebut sekarang menikmati jasa air perpipaan langsung ke dalam rumah.

Suwarno selaku Ketua RT 1 RW 10 kelurahan Gilingan menjadi salah satu nan merasakan faedah program Master Meter. Dia mengaku dapat menghemat setelah mendapatkan air dari jaringan Master Meter dengan biaya rata-rata sebesar Rp 25 ribu per bulan.

"Ngirit sekali. Dulu (kebutuhan air) pakai galon. Sekarang tidak. Air direbut, didinginkan. Sebulan 4 galon. Bagi saya pengaruh sekali, berfaedah sekali," jelas dia di kediamannya, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Kamis (8/10/2026).

Dia berambisi Master Meter dapat berkembang karena program ini mendapatkan permintaan nan tinggi di masyarakat. Apalagi saat ini sedang musim tandus di mana sumber air mulai berkurang.

"Seperti musim ini, kita ketar-ketir lantaran sumber air berkurang. Sekarang tidak cemas lagi," tegas Suwarno.

Diketahui program Master Meter dijalankan Coca-Cola Foundation Indonesia melalui kerja sama dengan PDAM Toya Wening Kota Solo dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) serta menggandeng Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Program nan melangkah sejak Oktober 2025 ini merupakan kombinasi dari sambungan PDAM dan sambungan nan berbasis masyarakat.

Melalui program Master Meter, sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) nan tinggal di area padat masyarakat tersebut sekarang menikmati jasa air perpipaan langsung ke dalam rumah/Khoirul Anam

Dalam mekanismenya PDAM bertanggung jawab terhadap meter besar dari Master Meter nan dipasang sebelumnya jaringan pengedaran ke masyarakat. Sementara itu masyarakat nan diwakili oleh KSM bertanggung jawab terhadap jaringan pengedaran setelah meter.

Secara terpisah, Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia Triyono Prijosoesilo menjelaskan akses dan kebutuhan air bersih tetap menjadi tantangan masyarakat termasuk di kota-kota besar. Program Master Meter pun dirancang untuk menjembatani antara masyarakat dan air bersih.

Triyono menjelaskan Master Meter nan dikelola secara kolektif ini menjembatani sekitar 50 kepala family di wilayah Margorejo. Sebanyak 50 kepala family tersebut pun mendapatkan akses air bersih secara rutin.

"Tentunya mendukung pemberdayaan masyarakat dan menciptakan social infrastrukturnya sehingga pengelolaannya bisa berjalan. Alhamdulillah kelihatannya manfaatnya sudah mulai terasa," ujar dia.

Sementara itu, Manajer Air Limbah PDAM Toya Wening Kota Solo Bayu Tunggul mengungkapkan Master Meter menyasar masyarakat dengan keterbatasan legalitas lahan dan keahlian ekonomi. Melalui skema jaringan kolektif, masyarakat dapat memperoleh akses air minum dengan tarif nan lebih terjangkau.

"Kalau di Margorejo, kelurahan Gilingan itu banyak sekali rumah tinggal nan berada di posisi tanah PT KAI. nan kedua bahwa jika status tanahnya belum legal, kebanyakan kami memberi support untuk hidran umum," jelas Bayu.

Di samping itu Master Meter menjawab keterbatasan legalitas lahan dan ancaman kesehatan air tanah. Sebelum program ini masuk, penduduk setempat terpaksa mengandalkan sumur dangkal nan tinggi cemaran kuman E. coli.

"Karena memang jika mengandalkan sumur dangkal sekarang di kota Surakarta sudah banyak sekali sumo dangkal nan tercemar kuman ecoli. Bahkan di kelurahan gilingan sendiri sebagai lokus penurunan nomor stunting," tambah dia.

Dia pun mengapresiasi akomodasi Master Meter tersebut. Apalagi selama setahun melangkah akomodasi tersebut, belum terdapat keluhan masyarakat mengenai akses bersih.

"Semoga ke depan teman-teman foundation nan lain bisa menduplikasi ini. Karena memang salah satu tanggung jawab masyarakat pelibatan melalui teman-teman foundation itu," pungkas Bayu.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑