Jakarta -
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkap penyebab langit Jakarta nan tampak tertutup kabut. DLH DKI menegaskan perihal itu bukan akibat dari asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Kondisi langit Jakarta nan tampak tertutup ini ramai diperbincangkan di media sosial. Dilihat detikcom di salah satu akun Threads, Jumat (16/10/2026), penduduk mempertanyakan langit Jakarta nan berkabut. Sejumlah penduduk menduga kondisi tersebut berangkaian dengan karhutla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, mengatakan berasas info pemantauan kualitas udara dan hasil pemodelan arah angin hingga 14 Oktober 2026, belum ada indikasi kondisi polusi udara Jakarta dipengaruhi asap karhutla dari Sumatera dan Kalimantan.
"Data pengukuran kualitas udara DKI Jakarta dari stasiun Reference, terkhususnya parameter kritis, ialah PM2.5 menunjukkan pola perubahan konsentrasi nan cukup normal sebagaimana pola perubahan nan terjadi di DKI Jakarta sehari-harinya. Data dari 1 - 14 Oktober menunjukkan rentang terendah hingga tertinggi sebesar 35 - 75 ug/m3," kata Yogi kepada wartawan.
Yogi menjelaskan, tren harian PM2.5 menunjukkan pola perubahan naik-turun nan tetap tergolong normal seperti kondisi nan biasa terjadi di Jakarta. Dia mengatakan hingga 14 Oktober, belum terlihat peningkatan tajam pada konsentrasi parameter pencemar udara tersebut.
DLH DKI juga melakukan pemodelan menggunakan Hybrid Single-Particle Lagrangian Integrated Trajectory (HYSPLIT) dengan info dunia periode 1-14 Oktober 2026, untuk mengetahui potensi pergerakan polutan dari luar wilayah Jakarta. Hasilnya, kata dia, belum ada potensi asap karhutla terbawa ke Jakarta.
"Hingga per tanggal 14 Oktober 2026, hasil pemodelan HYSPLIT menunjukkan belum adanya arah angin nan berpotensi membawa polutan ke Jakarta nan berasal dari kejadian Karhutla, ialah Sumatera dan Kalimantan," jelasnya.
Dia mengatakan, pada ketinggian permukaan, 1.000 meter, dan 2.000 meter, arah angin nan berpotensi menjadi lintasan polutan skala besar tetap berasal dari timur hingga tenggara. Hal itu, kata Yogi, mengikuti pola angin dunia di Indonesia.
"Arah angin pada setiap ketinggian nan dimodelkan (permukaan, 1000m, dan 2000m) menunjukkan arah angin nan berpotensi menjadi lintasan polutan skala besar tetap berasal dari arah Timur hingga Tenggara, mengikuti pola angin dunia di Indonesia saat ini nan bergerak menuju atas (monsoon Australia)," ungkapnya.
"Lintasan polutan ini menunjukkan bahwa mini kemungkinan polusi di Jakarta saat ini (per 14-15 oktober 2026) dipengaruhi oleh Karhutla nan terjadi di Sumatera dan Kalimantan," imbuh dia.
(amw/eva)
18 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·