Wapres Gibran Lihat Orangutan Terdampak Asap Karhutla

Sedang Trending 48 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah memberi kesempatan kepada pemerintah memandang langsung akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) terhadap satwa.

CEO BOSF Jamartin Sihite mengatakan Gibran memandang kondisi orangutan nan berada di tengah paparan asap, termasuk satwa nan mengalami gangguan kesehatan dan memerlukan penanganan menggunakan nebulizer.

“Kami berpikir, seeing is believing,” kata Jamartin.

Menurut Jamartin, kunjungan langsung tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan nan dihadapi lembaga konservasi ketika kualitas udara memburuk.

BOSF kudu meningkatkan intensitas perawatan ketika terjadi penurunan kualitas udara. Beberapa orangutan mengalami masalah pernapasan dan mempunyai kondisi kesehatan nan membikin mereka lebih rentan terhadap perubahan cuaca dan paparan asap.

Penanganan terhadap orangutan juga mempunyai tantangan tersendiri. Penggunaan nebulizer, misalnya, tidak dapat dilakukan dengan masker seperti pada manusia sehingga memerlukan penggunaan obat nan lebih banyak.

Selain perawatan, BOSF memasang pipa dan sprinkler di sekitar kandang untuk membantu menurunkan suhu serta mengurangi partikel polusi ketika asap menyelimuti kawasan.

Jamartin mengapresiasi perhatian Gibran terhadap persoalan satwa liar.

“Beliau memberikan perhatian nan cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” ujarnya.

Dia mengatakan orangutan bukan satu-satunya satwa nan menghadapi ancaman akibat karhutla. Kondisi orangutan dapat menjadi gambaran persoalan nan juga dialami satwa liar lainnya ketika kediaman mereka terdampak kebakaran.

Karena itu, Jamartin berambisi perhatian pemerintah bersambung dalam corak kebijakan nan lebih sistematis, terutama untuk memperkuat sistem peringatan awal (early warning system).

Menurut dia, sistem tersebut diperlukan agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum kondisi karhutla memasuki tahap krisis.

“Pengalaman karhutla nan terus berulang semestinya menjadi dasar untuk membangun sistem kesiapsiagaan nan lebih rapi,” kata Jamartin.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita