Wakil Presiden AS JD Vance(AFP)
WAKIL Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan para pengawas nuklir "pasti" bakal diizinkan untuk kembali ke Iran. Hal itu sebagai bagian dari kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri perang.
Dalam wawancaranya berbareng NBC News pada Senin, Vance menegaskan pengawasan internasional menjadi salah satu poin krusial dalam nota kesepahaman (MoU) nan telah disepakati kedua belah pihak.
“Faktanya, salah satu bagian inti dari perjanjian tersebut adalah bahwa [Badan Energi Atom Internasional/IAEA] dan Amerika Serikat bakal membantu Iran memusnahkan persediaan uranium nan diperkaya tingkat tinggi, dan perihal itu dijabarkan dengan sangat jelas,” ujar Vance.
Kendati demikian, ketentuan spesifik mengenai masa depan program nuklir Iran dalam kesepakatan tersebut tetap belum sepenuhnya benderang. Detail arsip belum dirilis ke publik, dan sejauh ini kedua belah pihak tetap memberikan keterangan nan berbeda mengenai apa saja nan telah disepakati.
Pihak Pakistan selaku mediator dilaporkan menyatakan pembicaraan mendalam mengenai rumor nuklir ini tetap bakal terus bersambung selama 60 hari ke depan di bawah koridor perjanjian gencatan senjata. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump berulang kali menegaskan sikap kerasnya bahwa Iran tidak bakal pernah diizinkan mempunyai senjata pemusnah massal tersebut. Trump apalagi menakut-nakuti AS bisa saja melanjutkan serangan militer jika Iran kandas mencapai kesepakatan nuklir nan memuaskan.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump kembali mempertegas komitmen sepihak nan diklaimnya telah disetujui oleh Teheran.
“Iran telah setuju untuk tidak pernah mempunyai Senjata Nuklir! Selain itu, cerita bahwa AS bayar Iran 300 juta Dolar adalah Berita Bohong, nan disebarkan oleh kaum Dumokrat!!!” tulis Trump.
Dalam unggahan tersebut, Trump tidak hanya menegaskan status program nuklir Iran, tetapi juga langsung membantah laporan media mengenai rumor sensitif mengenai insentif keuangan. Trump menyangkal rumor bahwa Washington tengah mempertimbangkan pembentukan biaya investasi raksasa senilai US$300 miliar (Trump menulis US300 juta dalam unggahannya) bagi Iran jika negara tersebut mematuhi poin-poin penyelesaian akhir perang. (The Guardian/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·