Wanita Indramayu Jadi Korban TPPO Modus Pengantin Pesanan di China

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Darkem, Ibu dari Kusnia korban TPPO dengan modus "Pengantin Pesanan" Saat menunjukan foto anak Kusnia sembari menangis, (12/5/2026). Foto: kumparan

Sebuah rekaman video singkat nan viral di media sosial menjadi saksi bisu penderitaan Kusnia (21), gadis asal Desa Jambak, Indramayu. ‎Dalam video berdurasi pendek tersebut, dia menyampaikan pesan terbuka kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM.

‎‎Dengan bunyi bergetar dan mata nan berkaca-kaca, Kusnia mengungkap realita pahit nan dia alami di China. Ia mengaku bukan sekadar menikah, melainkan menjadi korban perdagangan orang namalain TPPO.

‎"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kepada nan terhormat Gubernur Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan nama saya Kusnia, saya dari Indramayu, Jawa Barat. Saya sekarang berada di negeri China. Saya adalah salah satu korban pengantin pesanan, Pak. Tolong saya, saya mau pulang, Pak. Saya tersiksa di sini," ujar Kusnia dalam video nan diterima kumparan.

‎Kusnia juga membeberkan kekejaman dan intimidasi nan dialaminya selama berada di bawah kekuasaan suami dan agennya.

‎‎"Saya sering kali mendapatkan kekerasan seksual. Jika saya tidak menuruti kemauan dia, dan berkas-berkas saya semua termasuk paspor saya ditahan dan saya tidak boleh ke mana-mana, Pak," ujarnya.

"‎Dan saya dibawa oleh dua WNI. Ketika saya mengadu kepadanya, saya tidak nyaman dan saya sering kali mendapatkan kekerasan seksual, mereka malah menakut-nakuti kembali saya, Pak. Tolong saya, saya mau pulang, Pak. Saya mau kembali berbareng keluarga, Pak. Saya mau pulang, saya tersiksa di sini. Terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," tambahnya.

Dari Restoran ke Pelaminan

Daskem saat berbincang dengan awak media di kediamannya di Blok Tiga, Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, (12/5/2026). Foto: kumparan

‎‎Sang ibu, Darkem (53), menceritakan gimana putrinya itu masuk ke dalam lubang hitam ini. Semuanya bermulai dari niat mulia Kusnia untuk mencari nafkah setelah ayahnya tiada.

‎"Awalnya ada tawaran dari temannya namanya Reni, katanya ada lowongan kerja di restoran di China. Kusnia tertarik lantaran mau bantu ibu cari uang," tutur Darkem saat ditemui di kediamannya. Selasa (12/5).

‎‎Namun, setibanya di Tangerang untuk proses administrasi, modus berubah. Seorang pemasok berjulukan Meli mulai melancarkan tipu daya agar Kusnia mau dijadikan pengantin pesanan.

‎‎"Meli bilang kerjanya jadi pengantin saja di China, iming-iminya banyak nan enak-enak. Tapi pas Kusnia mau nolak alias minta pulang, dia langsung diancam. Katanya jika mau pulang kudu bayar denda Rp 7 juta," ungkap Darkem.

‎‎Mahar Fantastis Senilai Rp 400 Juta

Daskem saat berbincang dengan awak media sembari meneteskan air mata di kediamannya di Blok Tiga, Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, (12/5/2026). Foto: kumparan

‎‎Di Cina, Kusnia baru mengetahui bahwa dirinya telah dihargai dengan nomor nan dahsyat oleh para sindikat tersebut. ‎Sementara dia hanya menerima sebagian kecil.

‎"Kusnia cerita, dia dikasih duit mahar Rp 22 juta dari pemasok berjulukan Ivo di sana. Tapi pas dia nanya suaminya soal duit bulanan buat family di Indonesia, suaminya marah. Suaminya bilang sudah kasih mahar Rp 400 juta ke agen. Makanya Kusnia dilarang pulang sebelum tiga tahun," jelas sang ibu.

‎‎Saat ini, kondisi Kusnia berada di titik nadir. Ia tidak lagi tinggal di rumah suami, melainkan di panti jompo di wilayah Anhui, China, dalam kondisi tanpa duit dan arsip identitas.

‎‎"Anak saya sekarang di panti jompo. Makannya hanya roti sekali sehari. Itu juga lantaran ada penjaga jompo nan kasihan. Dia nanya ke anak saya 'Gimana Anda bisa WhatsApp?', anak saya jawab 'Gak tahu, saya gak ngerti'. Jadi dia hanya dapat angan dari orang nan iba saja," kata Darkem sembari menyeka air mata.

Darkem mengatakan pihak KBRI di China tetap menunggu surat pisah selesai dan sehingga anaknya bisa pulang secepatnya.

‎‎Namun ada ganjalan buat Darkem, lantaran untuk memulangkan Kusnia kudu dengan tiket alias ongkos sendiri.

‎‎"Pihak KBRI katanya sudah ngomong, 'Kamu jangan kabur, entar jika kabur dijemput polisi, dibalikin lagi ke suami kamu'. Katanya kelak tanggal 17 (Mei 2026) surat pisah turun, terus diminta cepat-cepat pulang, takutnya izin tinggal habis, tiket dipasrahin ke family katanya begitu," jelas Darkem menirukan info nan dia terima dari Kusnia.

Kusnia berambisi anaknya bisa segera kembali ke family di Indramayu. ‎"Saya pengin anak saya bisa pulang. Itu saja," kata Darkem sembari meneteskan air mata.‎

‎Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat Indramayu dan sekitarnya bakal ancaman sindikat pengantin pesanan nan kerap mengincar wanita muda dengan iming-iming mahar besar, namun berhujung pada penyekapan dan eksploitasi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan