ilustrasi sekolah rakyat.(MI)
WAKIL Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan program Sekolah Rakyat dibentuk sebagai langkah pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Melalui program tersebut, anak-anak dari family miskin diharapkan memperoleh akses pendidikan nan lebih baik sekaligus kesempatan memperbaiki masa depan mereka.
"Tujuan Sekolah Rakyat itu dimaksudkan Presiden untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarganya miskin, anaknya kita ambil, negara sekolahkan," kata Agus Jabo di Jakarta, Jumat (22/5).
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat menerapkan konsep boarding school alias sekolah berasrama. Model ini dipilih agar siswa mendapatkan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari pendidikan, pembinaan karakter, pemenuhan gizi, hingga lingkungan belajar nan lebih kondusif.
Menurutnya, banyak anak dari family miskin tetap hidup di lingkungan dengan sanitasi nan kurang baik dan keterbatasan asupan gizi. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi tumbuh kembang anak andaikan hanya mengandalkan sistem sekolah reguler.
"Kalau sekolah reguler, setelah pulang mereka kembali ke lingkungan nan sanitasinya kurang baik, gizinya kurang, dan itu mempengaruhi perkembangan anak. Karena itu dibuat boarding agar anak-anak ini betul-betul mendapatkan perhatian penuh," ujarnya.
Pemerintah mencatat saat ini terdapat 166 titik Sekolah Rakyat nan telah beraksi di beragam daerah. Jumlah itu melampaui sasaran awal Presiden nan menargetkan 100 sekolah melangkah pada tahun pertama program.
Untuk sementara, penyelenggaraan Sekolah Rakyat tetap memanfaatkan aset milik negara, seperti sentra dan balai milik Kementerian Sosial, gedung kementerian lain, hingga akomodasi pemerintah wilayah sembari menunggu pembangunan sekolah permanen.
Agus Jabo menegaskan program ini diprioritaskan bagi anak-anak dari family miskin kategori desil 1 dan desil 2 berasas Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Proses seleksi dilakukan secara langsung melalui verifikasi ke rumah calon siswa guna memastikan support tepat sasaran. "Tidak ada titipan. Tim bakal datang langsung mengecek kondisi family calon siswa. Jadi betul-betul untuk family miskin," tegasnya.
Selain pendidikan tanpa biaya, para siswa juga memperoleh beragam akomodasi penunjang, seperti seragam, tempat tinggal di asrama, makan tiga kali sehari, laptop, dan perlengkapan sekolah lainnya. Menurut Agus Jabo, pemerintah mau memastikan anak-anak dari family kurang bisa tetap mendapatkan akomodasi pendidikan terbaik.
Tak hanya berfokus pada pendidikan anak, pemerintah juga menyiapkan program pemberdayaan bagi orangtua siswa. Kementerian Sosial berbareng sejumlah kementerian dan lembaga mengenai bakal memberikan training keterampilan, support usaha, hingga program perbaikan rumah tidak layak huni. "Anaknya disekolahkan, orangtuanya diberdayakan, rumahnya diperbaiki. Jadi penanganannya menyeluruh," ujarnya.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat diharapkan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak dari family miskin agar lebih berani bermimpi dan mempunyai angan baru terhadap masa depan mereka. "Yang tadinya tidak percaya diri, sekarang mulai berani bicara di depan umum, mulai punya cita-cita. Itu nan paling penting," tuturnya. (Fik/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·