Jakarta -
Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono mendukung penguatan literasi finansial bagi generasi muda penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan memperluas kesempatan untuk berperan-serta dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Hal itu disampaikan Agus Jabo saat menerima audiensi Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) di Ruang Rapat Lantai 6 Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (3/9). Audiensi tersebut membahas rencana kerjasama INDISI berbareng Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam aktivitas 'Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas' nan bakal melibatkan sekitar 210 siswa penyandang disabilitas dari tujuh SLB di Jakarta.
Ketua Harian INDISI, Citragama Prameswari menjelaskan INDISI berdiri sejak 2020 dan selama ini telah membangun kerjasama dengan beragam lembaga dan bumi upaya dalam pengembangan program bagi penyandang disabilitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu konsentrasi INDISI tahun ini adalah program 'Disabilitas Menuju Siap Kerja', nan ditujukan untuk mempersiapkan siswa penyandang disabilitas, khususnya jenjang SMA, agar lebih siap memasuki bumi kerja.
Menurut Citragama, pengalaman berbincang dengan guru-guru SLB menunjukkan bahwa keahlian akademik siswa sebenarnya telah berkembang dengan baik. Namun, terdapat aspek lain nan perlu diperkuat sebelum mereka memasuki lingkungan kerja, terutama soft skill dan keahlian interpersonal.
"Anak-anak tidak hanya perlu mempunyai keterampilan, tetapi juga perlu memahami budaya organisasi di tempat kerja, bisa berkomunikasi, dan mempersiapkan diri menghadapi wawancara kerja," ujar Citragama dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).
Program tersebut dikembangkan agar siswa mempunyai kepercayaan diri dan kesiapan nan lebih baik ketika memasuki proses rekrutmen. INDISI juga berupaya memperkenalkan bumi kerja secara lebih konkret sehingga penyandang disabilitas tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga bisa beradaptasi dan berkembang di lingkungan kerja.
Citragama juga menyampaikan bahwa pada 16 Juli 2026, INDISI berbareng tujuh SLB di Jakarta mencatat pengalaman krusial dengan membuka akses bagi 162 siswa penyandang disabilitas untuk mengunjungi Istana Negara. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang inklusi dan memastikan penyandang disabilitas dapat mengakses ruang-ruang publik secara setara.
Selain kesiapan kerja, INDISI memandang pentingnya memperkenalkan literasi finansial dan investasi sejak dini. Karena itu, kerjasama dengan BEI melalui aktivitas 'Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas' diarahkan untuk memberikan pemahaman sederhana mengenai pasar modal dan pentingnya perencanaan finansial kepada generasi muda penyandang disabilitas.
Selain itu, Citragama mengatakan pengenalan investasi tidak dimaksudkan sekadar untuk mengenalkan produk keuangan, tetapi menjadi bagian dari pendidikan menuju kemandirian finansial.
"Sejak awal anak-anak perlu memahami bahwa mempersiapkan masa depan bukan hanya dengan menabung, tetapi juga mengenal gimana mengelola dan mengembangkan finansial secara bijak," katanya.
Kegiatan nan direncanakan pada 21 September 2026 itu bakal diikuti sekitar 210 siswa dari tujuh SLB di Jakarta berbareng pembimbing pendamping. Selain literasi pasar modal, aktivitas juga bakal diisi dengan pembekalan 'Disabilitas Menuju Siap Kerja'.
Menanggapi perihal tersebut, Agus Jabo menilai inisiatif tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Sosial dalam memperkuat pemberdayaan penyandang disabilitas.
Agus Jabo menjelaskan, berasas mandat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Kemensos mempunyai kegunaan dalam tiga bagian utama, ialah perlindungan dan agunan sosial, rehabilitasi sosial, serta pemberdayaan sosial. Penyandang disabilitas menjadi salah satu golongan nan mendapatkan perhatian dalam penyelenggaraan kegunaan tersebut.
"Penanganan penyandang disabilitas tidak berakhir pada perlindungan. Kita juga kudu memastikan mereka mendapatkan rehabilitasi, kesempatan berkembang, dan ruang untuk menjadi mandiri," katanya.
Dalam menjalankan mandat tersebut, Agus Jabo menjelaskan Kemensos mempunyai 12 Pemerlu Atensi Sosial (PAS) sebagai golongan sasaran nan memerlukan perhatian dan intervensi sosial. Penyandang disabilitas termasuk di dalam golongan tersebut.
Program Kemensos bagi penyandang disabilitas pun mencakup beragam corak intervensi, mulai dari rehabilitasi sosial hingga support untuk meningkatkan keberfungsian sosial dan kemandirian.
Namun, menurut Agus Jabo, penanganan golongan disabilitas ke depan perlu semakin diarahkan pada pendekatan nan memberdayakan.
"Kita mau support dan pelayanan sosial menjadi jalan menuju kemandirian. Mereka memang memerlukan support dan pendampingan, tetapi kesempatan untuk berkembang kudu dibuka seluas-luasnya," ujarnya.
Agus Jabo menekankan bahwa penyandang disabilitas pada dasarnya tidak menginginkan perlakuan nan diskriminatif. Mereka memerlukan akses dan kesempatan nan setara untuk belajar, bekerja, mengembangkan kemampuan, serta berperan-serta dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, dia memandang kerjasama antara pemerintah, bumi usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan filantropi menjadi penting. Pemerintah mempunyai mandat dan program, sementara beragam pihak dapat memperkuat akses dan kesempatan nan dibutuhkan penyandang disabilitas.
"Yang mereka perlukan bukan belas kasihan, melainkan kesempatan nan setara. Dukungan tetap diperlukan, tetapi jangan sampai support itu justru membikin mereka kehilangan kesempatan untuk mandiri," tuturnya.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan arah pemberdayaan sosial Kemensos nan berupaya menggeser paradigma dari support nan berkarakter pasif menuju intervensi nan membikin penerima faedah lebih produktif dan berdaya.
Agus Jabo mengatakan, Kemensos terus berupaya memastikan golongan rentan, termasuk penyandang disabilitas, tidak tertinggal dalam beragam agenda pembangunan nasional.
Salah satunya melalui Sekolah Rakyat, program pendidikan berasrama nan dirancang untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Agus Jabo menjelaskan, penyandang disabilitas nan berasal dari family miskin dan memenuhi kriteria mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Di Sekolah Rakyat tidak ada seleksi akademik sebagai dasar utama. nan menjadi perhatian adalah kondisi sosial ekonomi keluarga. Karena itu, anak penyandang disabilitas nan memenuhi kriteria juga mempunyai kesempatan untuk menjadi siswa," jelasnya.
Sekolah Rakyat, lanjut dia, merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memberikan angan baru kepada anak-anak dari family miskin melalui pendidikan nan terintegrasi dengan pemenuhan kebutuhan dasar.
Selain pendidikan, Kemensos juga menjalankan program support sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan support pangan, serta program rehabilitasi dan atensi bagi golongan nan memerlukan penanganan khusus.
Agus Jabo menegaskan, keseluruhan program tersebut perlu ditempatkan dalam satu kerangka besar, ialah memastikan masyarakat nan berada dalam kondisi rentan memperoleh perlindungan sekaligus mempunyai jalan untuk meningkatkan taraf hidup.
"Kita mau masyarakat nan selama ini rentan tidak merasa menjadi golongan nomor dua. Negara kudu hadir, dan kehadiran itu kudu diwujudkan dalam corak perlindungan, pelayanan, kesempatan, dan pemberdayaan," katanya.
Karena itu, Agus Jabo menyambut baik rencana aktivitas 'Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas'. Menurutnya, pengenalan literasi finansial kepada siswa penyandang disabilitas merupakan corak ekspansi akses nan dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju kemandirian.
Lebih lanjut, dia berambisi audiensi tersebut tidak berakhir pada rencana satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi kerja sama nan lebih luas dan berkelanjutan.
"Kalau pemerintah, bumi usaha, organisasi masyarakat, dan filantropi bisa duduk bersama, saya percaya ruang kesempatan bagi penyandang disabilitas bakal semakin besar. nan kita bangun bukan sekadar program, tetapi kemandirian dan harapan," pungkasnya.
(prf/ega)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·