Sejumlah kapal Indonesia tetap tertahan di sekitar Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dengan Iran. Wamenlu Arif Havas Oegroseno mengatakan, salah satu aspek kapal-kapal tetap tertahan di sana adalah lantaran asuransi.
"Jadi jika untuk kapal, itu dalam industri kapal keputusan untuk navigasi dalam bentrok itu pertama tentunya ada agunan dari negara. Negara maksudnya nan berkonflik di situ. Tapi ada satu lagi nan tidak banyak diketahui adalah asuransi. Jadi saat ini kondisinya adalah asuransi itu asuransi kapal, ya. Tidak ada nan mau menanggung jika dia masuk Selat Hormuz," kata Havas di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).
Havas mengatakan ada banyak kapal nan tidak mau jalan lantaran tidak ada asuransi nan mau meng-cover perjalanan kapal.
"Lalu nan ketiga adalah kapten. Keputusan kapten seperti apa untuk keselamatan kapal, kan? Lalu nan keempat kargo owner. Jadi aspek itu semua kudu align gitu," ujarnya.
Menurut Havas, pemerintah sudah melakukan beragam upaya. Namun, asuransi memang jadi salah satu aspek kapal-kapal tetap tertahan di sana.
"Tapi persoalannya, kan, juga ada persoalan dengan asuransi. Asuransi posisinya jelas. Pokoknya jika kapalnya hanya parkir, ya, dia tetap di-cover asuransi. Tapi begitu kapal-kapal itu bergerak masuk ke Selat Hormuz, nan di atas, ya. Kan, ada nan di bawah itu, kan," jelasnya.
"Iya Hormuz, kan, luas. Jadi ada nan jika dia parkir di pulau alias di pantai itu, ya, di-cover asuransi. Ini bertindak semua, ya. Nggak hanya di Indonesia saja. Jadi begitu kapal itu dia masuk ke dalam selat nan sempit, asuransi langsung tidak mau menanggung," jelasnya lagi.
Havas sempat bertanya ke beberapa rekan di industri kapal dan pengacara maritim. Berdasarkan penjelasan mereka, ada beberapa kasus di mana asuransi mau membayar, tapi pemilik kargo tidak mau ambil risiko.
"Jadi jika saya tanya beberapa industri kapal, ya, saya ada beberapa kenalan juga dan juga dari teman-teman saya, lawyer maritim di Eropa, mereka mengatakan pertama cover asuransi itu seperti apa? nan kedua, kargo owner. Kadang-kadang ada kasus di mana asuransi mau bayar tapi kargo owner-nya nggak mau, nggak mau ambil risiko. Karena keselamatan gitu. Tetap kargo-nya dia," tuturnya.
"Ternyata industri kapal itu tidak terlalu sederhana gitu, ya. Jadi banyak sekali elemen-elemen nan kudu align, nan kudu satu arah gitu lah. Jadi bukan hanya soal agunan dari negara itu, semuanya satu elemen," lanjutnya.
Havas memastikan lobi-lobi dan komunikasi tetap terus dilakukan. Namun lantaran kondisi geopolitik nan memanas, Kemlu tetap terus memantau.
Sementara mengenai nilai dan pasokan minyak di dalam negeri, Havas mengatakan pemerintah saat ini menerapkan strategi mendapatkan pasokan minyak dari area nan pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.
"Jadi kita banyak kerja sama dengan Aljazair, Nigeria, Angola di Afrika. Jadi banyak pasokan minyak dari Afrika. Jadi so far oke. So far so good. Dan kita juga baru saja mendapatkan izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela. Kita bakal coba investasi di daerah-daerah sekitar Latin Amerika begitu," pungkasnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·