Wamendikdasmen Fajar: Buya Syafii Meneladankan Kritik tanpa Permusuhan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Buya Syafii Meneladankan Kritik tanpa Permusuhan Ilustrasi(Dok Istimewa)

WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa salah satu warisan terpenting Buya Syafii Maarif adalah keteladanan dalam menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat, tanpa memutus komunikasi, dan tanpa menjadikan perbedaan sebagai permusuhan.

Hal itu disampaikan Fajar dalam forum Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif dengan tema “Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa” nan diselenggarakan Maarif Institute dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) di Jakarta, Jumat (19/6).

“Buya mengajarkan bahwa seseorang bisa tetap kritis tanpa memutus silaturahmi kebangsaan. Kritik kudu menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan bersama, bukan memperuncing perpecahan dan melahirkan kebencian,” ungkap Fajar, nan pernah menjabat Direktur Eksekutif Maarif Institute periode 2010–2016.

Fajar menilai, kekuatan Buya terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara idealisme, logika sehat, dan realitas politik. Buya tetap membuka ruang perbincangan dengan beragam pihak, tetapi tidak pernah menukar prinsip-prinsip keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan nan diyakininya.

Dalam paparannya, Fajar mengulas posisi Buya Syafii di antara para pembaru Islam Indonesia nan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah disebut sebagai “Tiga Pendekar dari Chicago”, ialah Nurcholish Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syafii Maarif. Menurutnya, ketiga tokoh tersebut menghadirkan dentuman pembaruan Islam nan kuat dalam kehidupan intelektual dan kebangsaan Indonesia, meskipun menempuh pendekatan perjuangan nan berbeda.

Amien Rais memilih jalur politik praktis melalui pendirian Partai Amanat Nasional. Sementara Buya Syafii memilih pendekatan perjuangan nan berbeda. Ia tidak terjun langsung ke politik praktis, tetapi aktif memengaruhi arah kebangsaan melalui pemikiran, pendidikan, kaderisasi, pembelaan publik, dan kritik nan berkeadaban.

“Buya tidak anti terhadap kekuasaan, tetapi juga tidak pernah larut di dalam kekuasaan. Beliau bisa menjaga komunikasi dengan para pemimpin lintas sektor, namun tetap mempunyai keberanian moral untuk menyampaikan kritik ketika memandang ada ketidakadilan,” ungkap Fajar.

Menurut Fajar, Buya tidak hanya berbincang tentang perubahan, tetapi juga mendorong kader-kader muda nan mempunyai kapabilitas dan integritas untuk berdiaspora masuk ke ruang-ruang strategis, termasuk pemerintahan. Harapannya, nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nan memberi faedah bagi masyarakat luas.

Dalam konteks kebijakan saat ini, Fajar menyebut arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian besar pada agenda pemerataan dan keberpihakan kepada golongan rentan. Di Kemendikdasmen, semangat tersebut diterjemahkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melalui penguatan pendidikan berbobot untuk semua, peningkatan kompetensi guru, serta pembangunan budaya belajar nan lebih mendalam dan berkeadilan.

“Karena itu, kami tidak berpikir setiap pergantian kepemimpinan kudu selalu diikuti perubahan kurikulum. nan lebih krusial adalah memastikan kebijakan melangkah berkelanjutan, pembimbing mempunyai kompetensi nan baik, dan setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan nan berbobot hingga ujung negeri,” tegas Fajar.

Menurutnya, salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pengembangan Pembelajaran Mendalam sebagai corak pendidikan transformatif. Pendekatan ini mendorong peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mempunyai keahlian berpikir kritis, reflektif, dan bisa menghubungkan pengetahuan dengan realitas kehidupan.

“Pembelajaran mendalam pada hakikatnya adalah pendidikan nan transformatif. Pendidikan nan tidak berakhir pada pengetahuan, tetapi melahirkan kesadaran, karakter, dan tindakan nan membawa kemaslahatan,” ujarnya.

Fajar menegaskan, warisan terbesar Buya Syafii bukan hanya tulisan alias pidato, melainkan keteladanan dalam menjaga logika sehat, nurani, dan keberanian moral di tengah kehidupan publik.

“Bangsa ini memerlukan lebih banyak orang nan berani berpikir jernih, bersikap adil, serta tetap bisa membangun jembatan di tengah perbedaan. Itulah salah satu keteladanan terbesar nan saya dapatkan dari Buya nan kudu kita rawat berbareng dan kita teruskan di beragam lini pengabdian,” pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia