Surabaya, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafii menjenguk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam nan menjalani perawatan di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo, Jawa Timur, akibat dugaan keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Syafii turut memberikan santunan kepada masing-masing santri sekaligus menyampaikan semangat dan angan agar mereka segera sembuh. Ia juga melanjutkan kunjungan ke Pesantren Manbaul Hikam dan diterima oleh KH Abdul Wahid Harun.
Syafii menegaskan program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan terus memberi faedah bagi pesantren dan madrasah. Ia menilai kejadian di Ponpes Manbaul Hikam perlu menjadi bahan pertimbangan untuk memastikan penyebabnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari kunjungan ke santri tadi, mereka menunggu dan sangat memerlukan MBG. Program ini sudah melangkah beberapa bulan dari SPPG nan sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini terjadi masalah. Karena itu, kudu ada investigasi untuk mengetahui penyebabnya," kata Syafii, Jumat (4/9).
Syafii menyebut berasas info awal, keluhan para santri terutama berangkaian dengan menu telur dan sayuran. Meski demikian, penyebab pastinya tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.
"Yang perlu kita pastikan adalah penyebabnya apa. Apakah proses memasaknya alias agenda makannya nan tidak sesuai dengan ketentuan dalam juknis. Ini nan perlu kita selesaikan," katanya.
Tapi, Syafii menegaskan pertimbangan itu bukan untuk mempertanyakan keberlanjutan program MBG, melainkan untuk memastikan kualitas, keamanan, dan standar pengolahan makanan bagi penerima faedah tetap terpenuhi.
"Bukan investigasi nan masuk ke wilayah perlu alias tidaknya MBG, tetapi kita mau mengetahui ada apa. Apa Lagi dari dapur nan sama, untuk anak-anak nan sama, setelah melangkah sekian bulan, baru terjadi hari ini. Tentu kudu ada investigasi," ujarnya.
Ia mengatakan para santri pada dasarnya tetap antusias menerima MBG. Berdasarkan keterangan nan diperolehnya saat kunjungan, para santri justru menunggu dan memerlukan makanan nan disediakan melalui program tersebut.
"Artinya, MBG-nya, semuanya mengatakan mereka sangat senang dan menunggu datangnya makanan dari MBG," ujarnya.
Di sisi lain, Kementerian Agama terus mendorong agar semakin banyak pesantren dan madrasah memperoleh faedah MBG. Syafii mau berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar menjangkau wilayah terpencil.
"Kita sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren nan tidak mendapat jatah MBG, termasuk madrasah. Kita terus berkomunikasi dengan kepala BGN nan baru. Kita berambisi tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren nan tidak mendapat faedah makan cuma-cuma dari MBG," katanya.
Sebelumnya ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah pada area Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi MBG.
Mereka mengalami indikasi mual, muntah hingga pusing setelah mengonsumsi menu MBG nan diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, berupa nasi putih, orak arik telur, tempe ramuan bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel, pada Selasa (1/9) siang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat, jumlah korban keracunan MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah pada area Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo mencapai 748 orang hingga Kamis (4/9).
Sebanyak 20 orang tetap menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 728 sisanya sudah boleh pulang dan rawat jalan
(frd/fra)
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·