Wamen Stella: Pendidikan Inklusif Bukan Sekadar Hak, tetapi Kebutuhan Negara

Sedang Trending 4 jam yang lalu
 Pendidikan Inklusif Bukan Sekadar Hak, tetapi Kebutuhan Negara Ilustrasi(Dok Istimewa)

AKSESIBILITAS pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas di Indonesia selama ini kerap terjebak dalam paradigma moralitas dan belas kasih (charity). Pendidikan inklusif kerap diposisikan semata-mata sebagai tanggungjawab negara untuk memenuhi kewenangan asasi penduduk negara.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan bahwa paradigma itu sudah semestinya berubah, menurutnya penyediaan akomodasi dan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas adalah sebuah kebutuhan logis bagi negara.

“Saya memandang disabilitas di perguruan tinggi itu jauh lebih dari kewenangan setiap perseorangan dan tanggungjawab negara untuk memenuhinya. Pada hakikatnya, saya sebagai intelektual memandang disabilitas di perguruan tinggi, kesempatan, akses bagi disabilitas itu bukanlah sekadar kewenangan dan kewajiban, tetapi kebutuhan. nan butuh bukan penyandang disabilitasnya, nan butuh negaranya,” kata Stella pada aktivitas Sarasehan dan Sosialisasi pembentukan ULD Perguruan Tinggi di Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Selasa (20/10).

Stella menjelaskan sumber daya manusia nan berbobot menjadi aspek krusial dalam perkembangan perekonomian negara nan lebih baik, dan itu terbukti pada negara-negara seperti Singapura, Tiongkok hingga Korea Selatan. Karenanya, pendidikan nan inklusif bagi penyandang disabilitas menjadi sebuah keharusan.

”Jika penyandang disabilitas tidak berdikari dan berbobot melainkan bergantung, itu bakal melemahkan ekonomi kita. Namun jika mereka berdaya, mereka bakal memberi kontribusi nyata bagi ekonomi bangsa," tegas Stella.

Berkaca dari Kasus Stephen Hawking

Memperkuat argumennya, intelektual kognitif lulusan Harvard University ini mencontohkan fisikawan legendaris dunia, Stephen Hawking. Stella memaparkan bahwa saat Hawking lumpuh total dan kehilangan keahlian bicaranya akibat penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), Universitas Cambridge dan organisasi sains bumi tidak menelantarkannya. 

“Kalau saja bumi pada waktu itu, khususnya Cambridge University, post-graduate-nya Stephen Hawking tidak memberikan fasilitas-fasilitas, bumi dipastikan bakal kehilangan pemikiran. Kita bakal ketinggalan berpuluh-puluh tahun pengetahuan mengenai alam semesta,” sebut Stella.

Alih-alih menelantarkan Hawking, Stella menyebut Universitas Cambridge justru meriset dan mengembangkan teknologi canggih mulai dari bangku roda pandai (smart wheelchair), sensor otot pipi inframerah, hingga sistem prediksi kata (predictive text) agar Hawking tetap bisa berkarya.

“Investasi pada manusia adalah kunci kemajuan ekonomi. Negara seperti Singapura dan Korea Selatan tidak punya sumber daya alam, tetapi maju lantaran investasi modal manusianya sangat tinggi. Indonesia tidak boleh menyia-nyiakan satu pun potensi manusianya jika mau menjadi negara maju,” jelasnya.

Pembentukan ULD Perguruan Tinggi

Berdasarkan info Komisi Nasional Disabilitas (KND), Setelah Permendikbudristek nomor 48 tahun 2023 dan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 tentang Unit Layanan Disabilitas dikeluarkan, faktanya sampai tahun ini (2026) baru 200-an dari lebih dari 4.000 perguruan tinggi di Indonesia resmi mempunyai ULD.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III, Henry Tambunan, menilai membangun kampus inklusif adalah investasi peradaban. Perguruan tinggi tidak boleh terjebak hanya menjadi pabrik pencetak piagam dan tenaga kerja pintar, tetapi kandas melahirkan masyarakat nan setara dan beradab.

”Membangun kampus inklusif adalah investasi peradaban. Kampus tidak hanya mencetak lulusan pintar, tetapi juga kudu memastikan akses setara bagi seluruh anak bangsa," ucap Henry.

Karena itu, dia menegaskan bahwa kehadiran ULD di setiap kampus menjadi salah satu tolok ukur integritas bumi pendidikan di Indonesia. Ia mendorong seluruh ketua perguruan tinggi untuk membentuk ULD nan bermaksud menghapus diskriminasi, serta memastikan akses pendidikan tinggi nan inklusif.

Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) jadi salah satu perguruan tinggi nan menunjukkan komitmen nyata dalam menciptakan kampus ramah disabilitas melalui pembentukan ULD. Tidak hanya menyediaan akomodasi fisik, melainkan menyentuh ranah akademik, salah satu mengintegrasikan mata kuliah bahasa isyarat secara resmi ke dalam kurikulum di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK).

“Ternyata dalam membangun kampus nan inklusif bukan hanya kita nan memberi support kepada mahasiswa penyandang disabilitas, kita pun belajar dari mereka. Dan saya kira inilah semangat inklusivitas nan sesungguhnya, bukan sekadar menyediakan layanan, tetapi membangun lingkungan nan saling menghargai, belajar, dan memberdayakan,” tegas Wakil Rektor I Ukrida, Oki Sunardi. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑