Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Christina Aryani bicara soal salah satu program prioritasnya, ialah SMK Go Global. Program ini mendorong penduduk negara untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Ia menjelaskan program ini lahir dari dua aspek pendorong: pertama, Indonesia tengah berada dalam masa bingkisan demografi dengan 183 juta jiwa masyarakat usia produktif saat ini, nan diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2045 dengan 207 juta jiwa. Kedua, di sisi lain banyak negara maju justru mengalami aging population, ialah kondisi ketika jumlah dan proporsi masyarakat lanjut usia meningkat signifikan dibandingkan golongan usia produktif.
Menurut Christina, kondisi tersebut menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri nan tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat negara-negara tersebut.
"Indonesia di satu sisi punya bingkisan demografi, banyak sekali negara-negara di luar negeri mengalami nan kita sebut kejadian aging population. Ini tentunya menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengisi potensi-potensi kesempatan kerja di luar negeri nan tidak sanggup disuplai oleh pekerja dari negara itu sendiri," ujar Christina dalam konvensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (02/09).
Untuk memetakan kesempatan kerja tersebut, Kementerian P2MI mempunyai sistem berjulukan Sisko P2MI, nan memuat seluruh lowongan kerja luar negeri nan telah terverifikasi oleh perwakilan Indonesia di masing-masing negara.
Christina mengungkapkan, per 30 Agustus 2025, tercatat ada 289.938 lowongan kerja luar negeri nan tersedia di beragam sektor, mulai dari kesehatan, manufaktur, hospitality, pengelasan (welder), konstruksi, hingga anak buah kapal (ABK). Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 20 persen nan sukses terisi.
"Sehingga tetap ada 74% lebih nan belum kita isi," ungkap Christina.
Ia menyebut, celah antara jumlah lowongan nan tersedia dengan nan baru terisi inilah nan mau "dikawinkan" pemerintah melalui program SMK Go Global.
Christina merinci, negara dengan jumlah lowongan terbanyak saat ini adalah Taiwan dengan 124.000 lowongan, disusul Malaysia 27.000, Hong Kong 21.000, dan Singapura 15.000. Sejumlah negara Eropa Timur seperti Bulgaria dan Slovakia juga turut membuka peluang, seiring negara-negara tersebut mengalami kondisi serupa, ialah masyarakat usia produktifnya lebih memilih bekerja ke Eropa Barat.
Program SMK Go Global sendiri menargetkan penempatan 500 ribu pekerja migran secara berjenjang dari 2026 hingga 2029, dengan rincian 300 ribu berasal dari lulusan SMK/SMA dan 200 ribu dari masyarakat umum. Khusus tahun 2026, sasaran penempatan ditetapkan sebanyak 40 ribu orang.
Secara umum, dalam konvensi pers tersebut Christina turut memaparkan sejumlah perihal lain mengenai program SMK Go Global, di antaranya kerangka besar program nan disebut Asta Mandala (terdiri dari lima "panca sukses" dan "tri dampak"), hasil kick-off program pada 26 Agustus lampau nan sukses melatih 3.340 dari 14.523 pendaftar gelombang pertama, alur dan syarat pendaftaran peserta, hingga upaya perlindungan pekerja migran melalui unit patroli siber nan telah menemukan sekitar 7.807 tautan lowongan kerja fiktif sepanjang Januari - Agustus 2025.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·