Wall Street Rebound, tetapi Saham AS Tetap Melemah Sepekan

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (21/8). Namun, penguatan tersebut belum bisa membawa Wall Street keluar dari area merah secara mingguan.

S&P 500 dan Nasdaq nan banyak dihuni saham teknologi mengakhiri tren kenaikan selama tiga pekan beruntun. Sementara itu, Dow Jones mencatat penurunan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut.

Dikutip dari Reuters, Senin (24/8), pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 517,80 poin alias 0,98 persen ke 53.277,01. S&P 500 bertambah 33,21 poin alias 0,43 persen menjadi 7.674,37, sedangkan Nasdaq Composite menguat 113,29 poin alias 0,44 persen ke 26.180,46.

Pergerakan pasar sepanjang pekan tetap dipengaruhi arah imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kenaikan yield nan berpotensi mendorong biaya pinjaman lebih tinggi membikin penanammodal condong mengurangi minat terhadap aset berisiko.

Pada Kamis, saham-saham AS melemah ketika yield obligasi meningkat. Sebaliknya, pasar menguat sehari sebelumnya saat yield turun.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis mengatakan pemerintah dapat kembali meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury. Pernyataan itu muncul setelah pemerintah pada Rabu mengumumkan rencana mengalokasikan biaya untuk buyback obligasi hingga dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Setelah perdagangan nan naik turun sepanjang pekan, Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management di Charlotte, North Carolina, menilai kondisi pasar pada Jumat relatif lebih tenang.

“Di pertengahan pekan, penanammodal saham cemas imbal hasil obligasi bakal terus naik tanpa henti. Dengan pengumuman dari Departemen Keuangan, penanammodal sekarang tidak terlalu cemas lagi,” ujarnya.

Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari info ekonomi AS. Pertumbuhan sektor jasa pada Agustus menjadi nan terkuat dalam nyaris dua tahun, sehingga aktivitas upaya secara keseluruhan meningkat tajam.

Kondisi tersebut bisa mengimbangi perlambatan di sektor manufaktur nan tertekan oleh berkurangnya penumpukan persediaan serta gangguan pasokan akibat perang Iran.

Di sisi lain, UBS Global Wealth Management meningkatkan sasaran akhir tahun untuk indeks S&P 500 menjadi 8.100. Kenaikan sasaran tersebut didukung ekspektasi terhadap untung nan lebih kuat dan pertumbuhan untung perusahaan nan solid.

Meski demikian, kekhawatiran inflasi kembali muncul seiring nilai perjanjian berjangka minyak nan mencatat kenaikan selama enam hari berturut-turut.

Kondisi itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menakut-nakuti menjatuhkan hukuman ekonomi kepada mitra jual beli Iran. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasokan minyak bakal semakin ketat.

Sepanjang pekan, perjanjian berjangka Brent naik 6,39 persen, sementara minyak mentah AS menguat 5,66 persen.

Pekerja memandang pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP

Secara mingguan, S&P 500 turun 1,43 persen, Nasdaq terkoreksi 2,05 persen, dan Dow Jones melemah 0,85 persen. Indeks saham berkapitalisasi mini Russell 2000 juga turun 1,65 persen, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak pekan nan dimulai pada 1 Juni.

Dari 11 sektor utama S&P 500, kebanyakan menguat pada Jumat. Sektor material menjadi nan berkinerja paling baik dengan kenaikan 2,2 persen, disusul sektor kesehatan nan naik 1,3 persen dan sektor finansial sebesar 1 persen.

Sementara itu, sektor utilitas menjadi nan berkinerja paling jelek setelah turun 2,3 persen. Sektor daya juga melemah 0,2 persen.

Pada perdagangan saham individual, Ross Stores ditutup menguat 4,4 persen. Kenaikan terjadi setelah perusahaan ritel tersebut meningkatkan proyeksi untung tahunan dan mencatat keahlian kuartalan di atas ekspektasi.

Saham Robinhood melonjak 13,7 persen, Coinbase Global naik 8,2 persen, sedangkan Strategy menguat 6 persen. Pergerakan positif saham-saham tersebut terjadi berbarengan dengan lonjakan nilai Bitcoin sebesar 6,4 persen ke level tertinggi sejak pertengahan Mei.

Pada pekan depan, perhatian penanammodal bakal tertuju pada laporan finansial kuartalan Nvidia. Selain perusahaan chip AI tersebut, sejumlah perusahaan teknologi seperti Intuit, Salesforce, dan CrowdStrike juga dijadwalkan merilis laporan keuangan.

Investor juga menanti info Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Juli. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi nan paling diperhatikan Federal Reserve AS.

Data inflasi konsumen dan produsen untuk Juli nan sebelumnya menunjukkan kenaikan terbatas telah meredam spekulasi mengenai potensi kenaikan suku kembang The Fed dalam waktu dekat.

Pasar juga bakal mencermati pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada akhir pekan depan.

Di New York Stock Exchange (NYSE), saham nan menguat mengungguli saham nan turun dengan rasio 1,68 banding 1. Sebanyak 214 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 118 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 3.186 saham naik dan 1.725 saham turun. Dengan demikian, rasio saham nan menguat terhadap saham nan melemah mencapai 1,85 banding 1.

S&P 500 mencatat 13 saham nan mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham nan mencatat level terendah baru. Di Nasdaq Composite, terdapat 91 saham nan menyentuh level tertinggi baru dan 76 saham mencatat level terendah baru.

Berdasarkan info LSEG, volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 14,91 miliar saham. Angka tersebut tetap di bawah rata-rata 16,62 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.

Dengan demikian, meski Wall Street sukses rebound pada perdagangan Jumat, pasar saham AS tetap mencatat keahlian mingguan nan negatif. Investor tetap mencermati pergerakan yield obligasi, inflasi, nilai minyak, perkembangan Timur Tengah, serta arah kebijakan The Fed.

Pekan ini menjadi periode krusial lantaran pasar bakal mendapatkan laporan finansial Nvidia dan info inflasi PCE.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan