Wali Kota Samarinda Sampaikan Jurnalisme Kenabian di Halalbihalal PWI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

, SAMARINDA, – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, memberikan tausiyah mengenai konsep Jurnalisme Kenabian di aktivitas Halalbihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur, nan diadakan di Gedung PWI Kaltim, Sabtu. Dalam kesempatan ini, Andi Harun membujuk insan pers untuk meneladani nilai-nilai kenabian dalam pekerjaan jurnalistik mereka.

Dalam sambutannya, Andi Harun mengulas asal-usul tradisi halalbihalal di Indonesia nan merupakan inisiatif Bung Karno untuk menyatukan perbedaan pandangan politik pasca-kemerdekaan. "Menjelang Idul Fitri di masa awal kemerdekaan, Bung Karno menginisiasi pertemuan tokoh bangsa untuk duduk bersama. Dari sanalah halalbihalal lahir menjadi simbol penyatuan perbedaan," ujarnya.

Mengaitkan tradisi tersebut dengan nilai spiritual, Andi Harun mengutip Surah Ar-Rum ayat 30, menekankan bahwa manusia lahir dengan fitrah kebaikan nan perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan jurnalistik. Ia juga membahas etika info dengan merujuk pada Surah Al-Hujurat ayat 12, menyoroti tiga larangan besar ialah berprasangka jelek (Suudzon), mencari kesalahan (Tajassus), dan menggunjing (Ghibah).

Namun, Andi Harun menegaskan bahwa selama pemberitaan bermaksud untuk kepentingan publik dan melalui proses verifikasi nan ketat, karya jurnalistik tersebut tidak termasuk dalam kategori prasangka jelek maupun tajassus.

Pentingnya Jurnalisme Kenabian

Ketua PWI Kaltim, Abdurrahman Amin, menjelaskan bahwa tema Jurnalisme Kenabian diangkat agar wartawan dapat merefleksikan kembali peran mereka sebagai pembawa misi kebenaran. Sosok Andi Harun dipilih sebagai pembicara lantaran rekam jejaknya nan panjang di bumi politik dan kedekatannya dengan bumi pers.

"Jurnalisme kenabian adalah paradigma nan berdasarkan nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Tujuannya jelas: mendorong perubahan sosial nan lebih baik," kata Rahman. Ia membujuk para wartawan di Kaltim untuk meneladani empat sifat rasul dalam bekerja, ialah Sidiq (menyampaikan kebenaran), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan info edukatif), dan Fathonah (menggunakan kepintaran dalam analisis).

Acara ini ditutup dengan angan agar semangat Idul Fitri dan nilai-nilai kewartawanan kenabian dapat memperkuat sinergi antara pers dan pemerintah. Rahman berambisi wartawan terus berkedudukan aktif sebagai kontrol sosial nan pandai sekaligus mitra strategis dalam mengawal pembangunan di Kalimantan Timur.

"Semoga momentum ini membawa daya positif bagi kita semua untuk terus menjaga harmoni dan integritas di ruang publik," jelas Rahman.

Konten ini diolah dengan support AI.

sumber : antara

Selengkapnya
Sumber Republika Nasional
Republika Nasional