Waka MPR Harap Lonjakan Kasus Campak Jadi Alarm Kesadaran Hidup Sehat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong agar merebaknya kasus balang jadi sirine bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera membangun kesadaran kolektif mewujudkan pola hidup sehat. Hal ini bisa dilakukan mulai dari lingkup family sebagai bagian mewujudkan sistem kesehatan nasional nan kuat.

"Merebaknya kasus balang sejak awal tahun ini kudu menjadi momentum bagi kita untuk membangun kesadaran berbareng dalam merealisasikan pola hidup sehat masyarakat Indonesia," ujar Lestari dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Hal ini dia ungkapkan saat membuka obrolan daring bertema Bahaya Penyakit Campak di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya nan digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (8/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Lestari, upaya membangun pola hidup sehat masyarakat merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan bagi setiap penduduk negara melalui aspek nan mendasar, seperti kesehatan.

Catatan Kementerian Kesehatan RI menyebut bahwa saat ini terjadi herd immunity (<95%) alias penurunan kekebalan tubuh nan memicu peningkatan kasus balang secara drastis. Hal itu antara lain disebabkan penurunan cakupan imunisasi Campak-Rubella (MR) di Indonesia nan dipicu sejumlah penyebab antara lain misinformasi/hoaks antivaksin, gangguan jasa selama pandemi COVID-19, dan rendahnya penerimaan masyarakat.

Rerie, sapaan berkawan Lestari, beranggapan bahwa keseluruhan info tersebut kudu bisa dimanfaatkan sebagai dasar untuk menentukan perbaikan arah kebijakan mengenai upaya pencegahan sejumlah penyakit dan memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional.

"Kesadaran kolektif untuk hidup sehat kudu konsisten dibangun mulai dari lingkup family dalam memperkuat sistem kesehatan nasional," ujar Rerie nan juga personil Komisi X DPR RI.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar para pemangku kepentingan bisa membenahi sistem kesehatan nasional secara esensial agar aspek perlindungan melalui pemenuhan kewenangan kesehatan setiap penduduk negara dapat betul-betul direalisasikan.

Upaya Mengatasi Kasus Campak

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan pemerintah mempunyai sistem monitoring kewaspadaan awal terhadap penyebaran suatu penyakit.

Menurut Siti, sebenarnya peningkatan kasus balang dan suspek balang sudah mulai terlihat sejak akhir tahun 2025 dan mencapai catatan tertinggi pada pekan pertama 2026 dengan suspek balang 2.932 dan 2.220 kasus balang nan terkonfirmasi secara klinis.

Siti menjelaskan bahwa kasus balang baru menunjukkan penurunan kasus balang pada pekan kedua Maret 2026. Ia mengungkapkan sejumlah provinsi di Tanah Air nan mengalami peningkatan kasus balang tercatat mempunyai capaian imunisasi balang nan rendah.

Lebih lanjut, Siti juga mengungkapkan sejumlah upaya untuk mengatasi kondisi tersebut, ialah outbreak response immunization dengan pemberian imunisasi tambahan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Selain itu, tambah dia, juga dilakukan pemberian imunisasi untuk melengkapi status imunisasi pada bayi dan balita.

Untuk mencegah paparan penyakit balang pada tenaga medis, jelas Siti, Kementerian Kesehatan juga telah menerbitkan Surat Kewaspadaan Terhadap Penyakit Campak bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan nomor HK. 02.02/C/1602/2026 sebagai referensi kewaspadaan bagi seluruh akomodasi jasa kesehatan.

Campak Bukan Penyakit Baru

Selain itu, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan persoalan balang mengemuka di Tanah Air lantaran terjadi peningkatan kasus. Terdapat kasus master nan meninggal akibat balang dan ada laporan kasus balang di Australia nan datang dari orang dari Jakarta.

Tjandra menjelaskan bahwa balang bukan penyakit baru lantaran termasuk ke dalam 10 pandemi penyakit nan terjadi pada abad ke-9 SM. Namun, selama 25 tahun terakhir ini, terbukti bahwa melalui vaksinasi balang nan baik dapat menyelamatkan 57 juta masyarakat dari kematian.

"Dampak vaksinasi terhadap penurunan penularan kasus balang sangat besar," tegas Tjandra.

Tjandra menyarankan untuk menekan nomor kasus balang saat ini perlu peningkatan pemberian vaksinasi balang pada orang dewasa, selain vaksinasi terhadap anak dan balita nan sudah terjadwal.

Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene menilai saat ini pemerintah menghadapi kasus balang nan signifikan dengan kejadian luar biasa nan tersebar di sejumlah daerah.

Upaya imunisasi, jelas Felly, merupakan program wajib dari pemerintah pusat nan pelaksanaannya oleh pemerintah daerah. Kondisi saat ini kudu menjadi perhatian serius secara bersama, mengingat balang merupakan penyakit nan dapat dicegah dengan imunisasi.

Felly berambisi sejumlah program imunisasi dan pencegahan nan telah direncanakan dapat direalisasikan dengan sebaik-baiknya bagi setiap penduduk negara.

Perkuat Layanan Kesehatan Primer

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso beranggapan sudah saatnya pemerintah memperkuat jasa kesehatan primer dalam corak upaya promotif preventif, seperti cakupan imunisasi.

Piprim menjelaskan ketika negara bergeser konsentrasi ke upaya kuratif dalam menghadapi pandemi kedodoran lantaran jasa kesehatan primernya lemah. Menurut Piprim, kehadiran posyandu merupakan dasar nan kuat bagi jasa promotif dan preventif nan diperlukan.

Sebagai informasi, obrolan tersebut dimoderatori oleh Eva Kusuma Sundari (Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI) dan menghadirkan Felly Estelita Runtuwene (Ketua Komisi IX DPR RI), Siti Nadia Tarmizi (Direktur Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI), Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama (Direktur Pascasarjana Universitas YARSI - Direktur World Health Organization South East Asia Regional Office/WHO SEARO periode 2018-2020), dan Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) (Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia /IDAI) sebagai narasumber.

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News