Waka Komisi III DPR Apresiasi BNN Bongkar Penyelundupan 1,3 Ton Ketamin

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Rano Alfath mengapresiasi Badan Narkotika Nasional (BNN) RI berbareng tim campuran nan sukses menggagalkan penyelundupan nyaris 1,3 ton ketamin di perairan Kepulauan Riau. Rano menilai pengungkapan tersebut menunjukkan kesungguhan negara dalam upaya mempersempit ruang mobilitas jaringan peredaran gelap narkotika.

"Saya memberikan apresiasi nan tinggi kepada Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto dan seluruh jejeran BNN, serta Bareskrim Polri, Bea Cukai, dan TNI AL nan terlibat dalam operasi ini. Pengungkapan nyaris 1,3 ton ketamin tentu bukan perkara kecil. Ini menunjukkan bahwa sinergi antarlembaga melangkah dan negara datang secara konkret untuk melindungi masyarakat dari ancaman peredaran unsur berbahaya," kata Rano di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan keberhasilan itu tak semestinya hanya dilihat dari besarnya peralatan bukti nan diamankan. Rano menyebut aspek terpenting dari operasi tersebut adalah potensi kerusakan sosial nan sukses dicegah.

Diketahui, BNN memperkirakan pengungkapan tersebut berpotensi menyelamatkan sekitar 6,49 juta jiwa. Sementara itu, nilai ekonomis peralatan bukti nan diamankan ditaksir kurang lebih Rp 2,1 triliun.

"Jadi jangan hanya memandang 1,3 ton alias nilai ekonominya nan nyaris Rp 2,1 triliun. Di kembali nomor itu ada jutaan masyarakat, khususnya generasi muda, nan berpotensi menjadi korban. Ketika BNN menyebut sekitar 6,49 juta jiwa dapat terselamatkan, kita bisa memandang sungguh besar akibat preventif dari pengungkapan ini," ujarnya.

Politikus PKB ini juga menyoroti perkembangan modus penyalahgunaan ketamin nan semakin kompleks. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan kejahatan mengenai narkotika dan unsur rawan terus beradaptasi.

"Ini nan kudu kita waspadai. Sindikat selalu mencari langkah baru, termasuk memanfaatkan perkembangan style hidup dan produk nan dekat dengan generasi muda. Karena itu, metode pengawasan kita juga tidak boleh statis. Kemampuan intelijen, penemuan dini, pemeriksaan di pintu masuk, pengawasan jalur laut, sampai kapabilitas laboratorium kudu terus diperkuat," tegasnya.

Kapal MV King Sun pengangkut 1,3 ton ketamin disergap di perairan Bintan, Sabtu (8/8/2026).Kapal MV King Sun pengangkut 1,3 ton ketamin disergap di perairan Bintan, Sabtu (8/8/2026). Foto: dok. Istimewa

Lebih lanjut, Rano ikut memberi perhatian terhadap status norma ketamin di Indonesia. Saat ini, ketamin belum termasuk dalam golongan narkotika dan tetap dikategorikan sebagai obat keras alias Obat-Obat Tertentu (OOT) nan peredaran dan penggunaannya berada dalam pengawasan ketat.

Diketahui, BNN telah mengusulkan agar ketamin dimasukkan ke dalam golongan narkotika. Rano pun mendukung langkah BNN. Menurutnya, usulan itu perlu dikaji secara serius dan komprehensif.

"Regulasi kudu bisa mengikuti perkembangan modus kejahatan. Saya mendukung usulan BNN mengenai penggolongan ketamin untuk dikaji secara serius, komprehensif, dan berbasis bukti ilmiah. Jangan sampai terdapat celah izin nan justru dimanfaatkan jaringan kejahatan untuk memperdagangkan unsur rawan dalam skala besar," kata Rano.

Rano mengatakan Komisi III DPR RI mempunyai kepentingan untuk memastikan abdi negara penegak norma mempunyai instrumen norma dan support kelembagaan nan memadai. Khususnya, dalam menghadapi perkembangan kejahatan narkotika, terutama nan melibatkan jaringan lintas negara.

Terlebih, dalam kasus tersebut petugas mengamankan delapan penduduk negara asing nan terdiri atas satu penduduk negara Taiwan dan tujuh penduduk negara Myanmar. Kondisi itu, kata Rano, memperlihatkan kuatnya dimensi kejahatan transnasional dalam peredaran unsur berbahaya.

"Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah perairan nan sangat luas. Ini menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, sinergi BNN, Polri, Bea Cukai, TNI AL, dan seluruh pemangku kepentingan kudu terus diperkuat, termasuk kerja sama intelijen dengan negara lain untuk memetakan jaringan lintas batas," ujarnya.

Selain itu, Rano juga meminta abdi negara tak berakhir pada penangkapan delapan awak kapal. Dia mendorong untuk mengusut tokoh utama dan keseluruhan jaringan nan berada di kembali pengiriman ketamin tersebut.

Menurutnya, abdi negara perlu menelusuri sumber barang, pemilik dan pemodal, jalur distribusi, hingga pihak nan menjadi penerima akhir. Dia mengatakan penelusuran aliran biaya juga krusial untuk memutus keahlian finansial jaringan.

"Jangan berakhir di awak kapal alias kurir. Harus dikembangkan sampai ketemu siapa pemilik barangnya, siapa nan membiayai, dari mana peralatan berasal, ke mana bakal didistribusikan, dan siapa penerima akhirnya. Pendekatan follow the money juga kudu berjalan. Kita mau bukan hanya barangnya nan disita, tetapi seluruh ekosistem kejahatannya dibongkar dan keahlian ekonominya dilumpuhkan," tegas Rano.

Menurutnya, pengungkapan tersebut juga menjadi bukti krusial konsistensi kebijakan pemberantasan narkoba nan tak semata berorientasi pada jumlah penindakan, tetapi juga terhadap perlindungan masyarakat.

Rano pun mengapresiasi pendekatan War on Drugs for Humanity nan dilakukan BNN. Dia menilai pendekatan itu menempatkan pemberantasan narkoba dalam perspektif nan lebih luas.

"Saya mengapresiasi kepemimpinan Komjen Suyudi Ario Seto dan seluruh jejeran BNN nan terus menunjukkan kerja nyata. Semangat War on Drugs for Humanity kudu kita dukung, lantaran pada akhirnya pemberantasan narkoba bukan hanya persoalan menangkap pelaku dan menyita peralatan bukti, tetapi gimana negara menyelamatkan manusia dan menjaga masa depan generasi Indonesia," pungkas Rano.

Sebelumnya, pengungkapan oleh tim campuran ini berjalan pada Jumat (7/8). Dalam operasi ini, petugas mengamankan delapan orang anak buah kapal (ABK) nan terdiri dari satu penduduk negara Taiwan berinisial TSM (43) dan tujuh penduduk negara Myanmar, ialah KH (29), MML (36), ML (55), PL (27), TA (51), ZO (38), serta MML (44).

Para pelaku menyembunyikan peralatan haram di dalam kompartemen tersembunyi dekat anjungan kapal. Petugas mengamankan 65 karung berisi 1.300 balut teh cina dengan berat total sekitar 1,3 ton. Hasil uji menggunakan perangkat Rigaku mengonfirmasi seluruh sampel positif mengandung ketamin.

(amw/isa)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News