Beberapa hari terakhir, saya cukup banyak berinteraksi dengan manusia—dengan mereka nan seusia, nan lebih tua, apalagi nan lebih muda. Dari banyak percakapan dan pertemuan itu, saya kembali menyadari satu hal: manusia adalah makhluk nan paling rumit untuk dipahami, tetapi juga paling menarik untuk diamati.
Setiap orang datang dengan wajah, langkah bicara, dan karakter nan berbeda. Ada nan tampak sederhana, tetapi rupanya sangat dalam langkah berpikirnya. Ada nan terlihat tenang, tetapi menyimpan banyak perihal di dalam dirinya. Ada pula nan tampak penuh wibawa ketika berbicara, tetapi realitas hidupnya tidak selalu sejalan dengan apa nan dia tampilkan.
Di titik itu saya mulai memahami, bahwa bumi hari ini sedang dipenuhi manusia nan pandai membangun kesan, tetapi tidak semuanya selesai dengan dirinya sendiri.
Saya pernah berjumpa seorang senior nan retorikanya luar biasa. Cara bicaranya rapi, penuh keyakinan, dan sangat meyakinkan. Ketika dia berbicara, orang mudah kagum. Namun semakin lama saya memperhatikan, saya menyadari bahwa tidak semua nan terdengar bagus betul-betul hidup di dalam dirinya. Kadang manusia memang pandai menyusun kata, tetapi belum tentu bisa menyusun dirinya sendiri.
Namun di sisi lain, ada juga seorang kawan nan beberapa kali berinteraksi dan berbagi cerita dengan saya. Kami tidak terlalu dekat sebenarnya, tetapi ada momen-momen tertentu ketika saya merasa kurang nyaman. Ia cukup sering mengomentari hal-hal pribadi tentang saya, mulai dari corak tubuh, perubahan diri, hingga kehidupan nan saya jalani, padahal saya sendiri tidak pernah meminta penilaian tersebut.
Lucunya, dia juga sering bercerita tentang sungguh sibuk dan berat hidupnya, seolah bumi sedang paling keras kepadanya. Padahal, sedikit banyak saya tahu proses awalnya, apalagi saya termasuk orang nan pertama memberikan info dan membantu dalam beberapa urusan nan dia butuhkan. Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai berbincang seakan-akan dialah nan paling memahami semuanya.
Saya hanya bisa tersenyum kecil. Hidup memang kadang seperti itu—ada orang nan lupa siapa nan pernah menemani langkah awalnya.
Ia juga sering mengatakan bahwa dirinya “aman” karena mempunyai banyak relasi, family di beragam tempat, dan orang-orang nan bisa mem-backup apa pun nan dia lakukan. Seolah hubungan adalah agunan utama dalam hidup.
Namun terus terang, langkah pandang seperti itu tidak terlalu sejalan dengan saya. Saya lebih bangga ketika bisa berdiri dengan keahlian sendiri. Saya lebih menghargai proses nan lahir dari kualitas diri, kerja keras, dan kapabilitas nan betul-betul dibangun, bukan lantaran siapa nan berada di belakang kita.
Sebab bagi saya, ada perbedaan besar antara dihargai lantaran keahlian dan dipertahankan lantaran koneksi.
Dalam hati saya sering bergumam, “Hidup saya juga ribet. Ruwet. Bahkan mungkin lebih kusut dari benang kusut sekalipun. Namun, saya tidak merasa perlu menjadikannya cerita ke semua orang.”
Dari situ saya mulai memahami satu perihal penting: tidak semua orang nan banyak bercerita adalah nan paling berat hidupnya. Dalam ilmu jiwa manusia, ada kebutuhan untuk divalidasi—untuk merasa diakui, didengar, dan dianggap berjuang. Maka tidak jarang seseorang terlalu sering menceritakan kesulitannya bukan lantaran mau solusi, melainkan lantaran mau diakui keberadaannya.
Sebaliknya, ada orang-orang nan memilih tak bersuara bukan lantaran hidupnya mudah, tetapi lantaran mereka sedang sibuk memperkuat tanpa perlu menjadikan lukanya sebagai konsumsi publik. Mereka sudah berada pada fase ketika tidak semua perihal perlu diumbar, tidak semua proses perlu diumumkan, dan tidak semua kesedihan perlu dipertontonkan.
Dari situ saya terkenang nasihat Buya Hamka:
“Hidup ini banyak-banyak becermin. Jika pandai becermin, selamat hidupmu.”
Dan saya merasa nasihat itu semakin relevan hari ini. Kita hidup di era ketika orang begitu mudah mengomentari hidup orang lain, tetapi sangat susah mengoreksi dirinya sendiri. Kita sibuk menilai, tetapi jarang memahami.
Saya terkenang dari sebuah kitab nan pernah saya baca berjudul Being and Time karya Martin Heidegger. Heidegger menjelaskan bahwa manusia sering hidup dalam keadaan das Man—kehidupan nan terlalu mengikuti bunyi orang banyak, hingga kehilangan dirinya sendiri. Manusia akhirnya tidak lagi hidup secara otentik, tetapi hidup berasas gimana dia mau dilihat oleh orang lain.
Mungkin itu sebabnya hari ini kita lebih sering memandang orang sibuk membangun gambaran daripada membangun isi dirinya. Dunia dipenuhi orang nan mau terlihat baik, terlihat sibuk, terlihat sukses, apalagi terlihat paling menderita.
Itulah pentingnya belajar wisdom dalam hidup. Belajar untuk tidak terlalu sibuk merasa diri paling baik. Tidak perlu berlebihan dalam menunjukkan kebaikan, seolah kita paling benar, paling peduli, alias paling bijak. Karena sering kali, manusia nan paling banyak berbincang tentang kebaikan justru lupa memperbaiki dirinya sendiri.
Belajar untuk tak bersuara dan berbincang seperlunya itu penting. Tidak semua pencapaian perlu diumbar, tidak semua proses perlu dipamerkan. Pencapaian kita dan pencapaian orang lain adalah dua perihal nan berbeda. Jalan hidup manusia tidak pernah sama.
Tidak ada argumen untuk merasa berlebihan atas apa nan kita capai. Sebab bisa jadi, apa nan kita anggap besar hari ini adalah perihal biasa bagi orang lain nan sudah lebih dulu melewatinya. Dan bisa jadi, apa nan kita banggakan, bagi sebagian orang hanyalah bagian mini dari perjalanan panjang mereka.
Kadang manusia terlalu sibuk memperlihatkan pencapaiannya lantaran takut dianggap biasa saja. Padahal, ketenangan justru lahir ketika seseorang tidak lagi merasa perlu membuktikan dirinya kepada dunia. Ada fase ketika manusia mulai sadar bahwa pengesahan paling krusial bukan dari tepuk tangan orang lain, melainkan dari dirinya sendiri nan tahu bahwa dia terus bertumbuh.
Pada akhirnya, saya belajar bahwa setiap manusia mempunyai perjalanan hidup nan berbeda. Ada nan terlihat kuat tetapi sedang lelah. Ada nan tampak biasa saja tetapi sedang berjuang keras mempertahankan dirinya. Ada pula nan terlihat tenang, padahal sedang berbaikan dengan banyak perihal di dalam hidupnya.
Maka mungkin benar, bahwa hidup bukan tentang siapa nan paling sempurna di mata manusia, melainkan siapa nan paling bisa becermin sebelum menilai orang lain. Sebab, bumi hari ini tidak kekurangan orang nan pandai berbicara—yang kurang adalah manusia nan cukup tenang untuk memahami bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·