Waisak di Borobudur: Destinasi Spiritual dan Budaya Penggerak Ekonomi

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta -

Setiap seremoni Waisak, umat Buddha dari beragam penjuru bumi datang ke Borobudur untuk menjalani perjalanan spiritual nan penuh makna. Melalui kirab, pradaksina, hingga angan nan dipanjatkan di puncak candi, setiap langkah menjadi bagian dari refleksi dan penghayatan aliran Buddha.

Sejalan dengan itu, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) terus mentransformasi Borobudur sebagai destinasi spiritual dan kunjungan (spiritual and pilgrimage destination) kelas dunia.

Borobudur tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai ruang spiritual nan mempunyai makna mendalam bagi para peziarah dan pencari ketenangan dari beragam bagian dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi umat Buddha, Borobudur bukan sekadar gedung bersejarah. Tempat ini merupakan ruang spiritual tempat doa, perenungan, dan perjalanan jiwa dijalani. Di sinilah ribuan angan dipanjatkan, melampaui pemisah negara, bahasa, dan budaya.

Salah satu perjalanan spiritual nan menjadi bagian dari seremoni Waisak adalah Indonesia Walk for Peace nan merupakan bagian dari rangkaian #WaisakdiBorobudur. Para bhikkhu dari beragam negara melangkah kaki menuju Borobudur sebagai corak penghormatan sekaligus praktik Dharma.

"Para bhante dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia melakukan perjalanan spiritual dengan melangkah kaki dari Bali menuju Borobudur untuk memberikan penghormatan dan menjalankan praktik Dharma dalam rangka Hari Raya Waisak Internasional," ujar Bhante Phra Phanarin Sumetho, dikutip dari IG 20detik, Rabu (10/6/2026).

Menurut Bhante Phra, tujuan utama perjalanan tersebut adalah menghadirkan kebahagiaan, ketenangan, dan perdamaian melalui setiap langkah nan ditempuh. Ia juga mengaku terkesan dengan sambutan hangat masyarakat Indonesia selama perjalanan berlangsung.

"Indonesia merupakan negara nan kebanyakan penduduknya berakidah Islam, sementara orang Buddha hanya sebagian mini dari populasi. Namun kami merasakan kebaikan nan luar biasa dari umat Islam, Hindu, maupun Kristen," tutur Bhante Phra.

"Hal itu membikin kami merasa bahwa tujuan dari perjalanan tenteram ini betul-betul telah tercapai. Tanpa memandang perbedaan agama, mereka bersama-sama memberikan support kepada kami," sambungnya.

Ketika Ribuan Lampion Menerangi Langit Borobudur

Saat malam Waisak tiba, suasana Borobudur berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan lampion perlahan terbang ke langit malam, membawa doa, harapan, dan pesan perdamaian dari beragam penjuru dunia.

Tradisi pelepasan lampion telah menjadi salah satu momen nan paling dinantikan dalam seremoni Waisak. Cahaya nan mengudara melambangkan kebijaksanaan, harapan, dan perjalanan menuju kehidupan nan lebih baik.

Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, momen ini juga menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat dari beragam latar belakang. Mereka berkumpul dalam suasana penuh kedamaian untuk menyaksikan salah satu peristiwa paling ikonik di Borobudur.

"Pas banget di Indonesia ada event-nya. Aku pengen banget lihat lampion diterbangkan," ujar salah satu visitor #WaisakdiBorobudur Wendy.

"Dan rupanya suasananya lebih bagus daripada nan saya bayangkan. Pokoknya 100/100 best recommended," sambungnya.

Kesan serupa juga dirasakan visitor mancanegara, Joline. Menurut Joline, sinar nan terpancar dari lampion sangat indah.

"Kami pernah mengunjungi Borobudur pada siang hari, tetapi menyaksikan seremoni Waisak secara langsung memberikan pengalaman nan sangat berbeda. It's amazing to see all the people here and how everyone's enjoying this time," ujar Joline.

"I'm really grateful that we comberan to experience this," lanjutnya.

Bagi sebagian pengunjung, pengalaman tersebut apalagi melampaui ekspektasi mereka. Salah satunya, Rafiq nan mengaku pengalaman perdana seremoni #WaisakdiBorobudur cukup berkesan baginya.

"Karena ini pertama kali, jadi betul-betul di luar ekspektasi. Saya tidak menyangka bakal seramai ini," ujar Rafiq.

"Kami kudu melangkah cukup jauh, tetapi semuanya terbayar ketika memandang suasananya secara langsung," imbuhnya.

Pengunjung lainnya, Nabila, menilai Waisak di Borobudur menjadi pengingat bakal pentingnya toleransi dan kebersamaan.

"Kita berasal dari latar belakang nan berbeda-beda. Ada nan Islam, Buddha, dan Hindu. Tapi di sini kita bisa berkumpul bersama, saling menghargai, dan ikut merasakan kebahagiaan dalam seremoni Waisak," kata Nabila.

Malam itu, masyarakat dari beragam latar belakang menikmati ribuan sinar nan terbang membawa satu angan nan sama: perdamaian untuk semua.

Menjaga Keseimbangan Spiritualitas, Pariwisata, dan Kehidupan Lokal

CEO InJourney Maya Watono mengatakan seremoni Waisak menjadi momentum untuk memperkenalkan transformasi Borobudur kepada bumi sebagai destinasi nan tidak hanya berfokus pada pariwisata, tetapi juga budaya, spiritualitas, dan ziarah.

"Hari ini kita menyambut pesan nan datang dari seluruh dunia. Mereka datang untuk memandang keelokan Borobudur sekaligus menyaksikan transformasi nan kami lakukan untuk menjadikan Borobudur sebagai destinasi berbasis budaya, spiritual, dan pilgrimage nan inklusif bagi semua kalangan," ujar Maya.

Menurut Maya , transformasi tersebut merupakan bagian dari visi besar untuk menjadikan Borobudur sebagai warisan bumi nan dicintai masyarakat dunia tanpa meninggalkan nilai-nilai nan dimilikinya.

"Kami mau pelancong internasional, pelancong domestik, dan terutama pelancong internasional, datang dan menikmati Borobudur. Pada akhirnya, tujuan turisme adalah membawa akibat ekonomi ke negara," kata Maya.

"Dan itu adalah branding negara untuk Indonesia, tetapi juga akibat ekonomi bagi area Magelang, dan juga Jawa Tengah, dan juga Indonesia secara keseluruhan," sambungnya.

Maya berambisi momentum Waisak dapat menjadi arena untuk menunjukkan keberagaman, persatuan, dan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

"Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan Indonesia dalam jenis terbaiknya. Jika transformasi ini dijalankan secara konsisten dengan visi nan jelas, kami optimistis bakal memberikan faedah bagi Borobudur dan Indonesia secara keseluruhan," kata Maya.

Transformasi Borobudur tidak hanya berfokus pada peningkatan pengalaman wisata, tetapi juga menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Berbagai upaya dilakukan, mulai dari penataan kawasan, peningkatan fasilitas, hingga pengembangan Kampung Seni Borobudur. Semua dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah dan spiritual nan melekat pada area tersebut.

Direktur Utama (Dirut) InJourney Destination Management, Febrina Intan mengatakan Borobudur sedang dikembangkan sebagai destinasi spiritual nan inklusif bagi siapa saja.

"Kita mau menjadikan Borobudur sebagai destinasi spiritual. Tidak hanya menjadi tempat beragama bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi ruang nan inklusif bagi siapa pun nan datang untuk mencari ketenangan, pengalaman budaya, maupun pengalaman spiritual," ujar Febrina.

Menurut Febrina, transformasi nan dilakukan tidak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga transformasi spiritual nan menjadikan Borobudur sebagai sebuah sanctuary alias ruang nan memberikan ketenangan bagi semua orang.

Oleh lantaran itu, pengelolaan area dirancang agar beragam aktivitas dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Umat nan mau beragama tetap mempunyai ruang nan khusyuk, sementara visitor dapat menikmati pengalaman berjamu dengan nyaman.

"Jadi, no matter apapun argumen mereka untuk datang ke Borobudur, every bit of Borobudur itu kudu ada buat siapapun. Itu nan sedang kita kembangkan, tapi tidak boleh saling mengganggu ya," kata Febrina.

"Kan masalahnya di situ kan, jadi mereka nan mau beragama juga punya ruang. Jadi sekarang, jika datang ke Borobudur, banyak orang nan juga melakukan pradaksina," sambungnya.

Selain menjaga nilai spiritual dan budaya, pengembangan Borobudur juga diarahkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Melalui beragam program pemberdayaan, termasuk kurasi produk lokal dan pendampingan pelaku usaha, masyarakat diharapkan dapat tumbuh berbareng perkembangan destinasi.

"Cita-cita kami adalah membawa Borobudur ke dunia. Tidak hanya dikenal dan dikunjungi visitor mancanegara, tetapi betul-betul menjadi salah satu destinasi unggulan dunia," ujar Febrina.

Selama bertahun-tahun, Borobudur dikenal sebagai warisan budaya dunia. Kini, melalui beragam transformasi nan dilakukan, Borobudur terus melangkah menjadi destinasi spiritual kelas bumi nan tetap berakar kuat pada budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di puncak Borobudur, ribuan angan kembali dipanjatkan. Dan dari tempat nan sama, angan bakal perdamaian terus diterbangkan ke langit, menyatukan manusia dari beragam penjuru bumi dalam satu sinar nan sama.

Bangkitkan Perekonomian Lokal

Saat ribuan orang datang ke Borobudur untuk merayakan Waisak, bukan hanya angan nan hidup, tetapi juga angan masyarakat di sekitarnya. Dari tahun ke tahun, jumlah visitor Waisak di Borobudur terus meningkat, menjadi bukti Borobudur terus tumbuh sebagai destinasi spiritual dan budaya dunia.

Data kunjungan menunjukkan tren nan terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada 2022, jumlah visitor Waisak di Borobudur mencapai sekitar 15.000 orang. Angka tersebut melonjak menjadi 45.991 visitor pada 2023, meningkat lagi menjadi 75.000 visitor pada 2024, dan menembus 100.000 visitor pada 2025.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap seremoni Waisak di Borobudur, tetapi juga menghadirkan akibat ekonomi nan dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Pemilik Homestay Efata, Ika mengatakan momentum Waisak memberikan faedah besar bagi pelaku upaya penginapan di area Borobudur. Ia pun menyebut homestay miliknya ramai saat seremoni Waisak.

"Tentu dampaknya positif dari sisi ekonomi. Kalau hari biasa, tentu kami perjuangannya lebih berat," ujar Ika.

"Kalau ada event seperti ini, lebih mudah. Demand-nya banyak sekali," sambungnya.

Menurutnya, faedah nan dirasakan tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga dari hubungan dengan para tamu nan datang dari beragam wilayah dan negara. Sebab, penunggu Homestay Efata kerap memberikan nilai dan masukan baru bagi Ika.

"Dan itu bagi kami seperti recharge," katanya.

Hal serupa disampaikan pemilik Shinta Homestay, Shinta. Menurutnya, seremoni Waisak di Borobudur bisa menarik perhatian masyarakat lintas agama. Apalagi, visitor #WaisakdiBorobudur banyak nan mau memandang pelepasan lampion.

"Merayakan Waisak dari beragam kepercayaan lain. Tidak hanya nan mau aktivitas Waisak saja," ujar Shinta.

"Jadi semuanya itu ikut antusias, mau memandang lampion," sambungnya.

Dampak positif juga dirasakan para pelaku upaya kuliner. Penjual sate klatak di area Borobudur, Asti, mengaku penjualannya meningkat selama rangkaian seremoni Waisak berlangsung.

"Alhamdulillah dengan adanya Waisak dengan lampion, penjualannya bisa meningkat," kata Asti.

Sementara itu, pengrajin dari Anggrek Craft, Slamet Isromi, berambisi semakin banyak visitor nan datang ke Borobudur pada tahun-tahun mendatang. Tentunya, seremoni Waisak membawa berkah bagi para pengrajin lokal.

"Dari adanya lampion, kita pedagang itu berambisi visitor semakin ramai. Dan juga indahnya, dagangan kita ikut laku," ujar Slamet.

Cerita para pelaku upaya tersebut menunjukkan bahwa Waisak di Borobudur bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat nan tumbuh berbareng destinasi ini. Kehadiran para peziarah dan visitor membawa faedah nan dirasakan hingga ke homestay, warung makan, toko kerajinan, dan beragam upaya lokal lainnya.

(hnu/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News