Ilustrasi.(Magnific)
SITUASI kesehatan di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kian mengkhawatirkan setelah jumlah kasus ebola nan terkonfirmasi melonjak menjadi 544 kasus. Badan perlindungan kesehatan Amerika Serikat (CDC) memperingatkan bahwa pandemi ini berpotensi menjadi salah satu nan terbesar dalam sejarah jika tidak segera ditangani dengan isolasi nan cepat.
Pusat pandemi berada di Provinsi Ituri, letak Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) melaporkan terdapat 515 kasus terkonfirmasi dari total keseluruhan di negara tersebut. Hingga saat ini, sedikitnya 91 orang dinyatakan meninggal bumi di RD Kongo, sementara negara tetangga, Uganda, mencatat 19 kasus dengan 2 kematian.
Ancaman Strain Bundibugyo tanpa Vaksin
Berbeda dengan pandemi besar di Afrika Barat pada 2014-2016 nan menewaskan 11.000 orang, krisis kali ini disebabkan oleh virus strain Bundibugyo. Tantangan utamanya adalah belum ada vaksin berlisensi untuk strain ini, berbeda dengan strain Zaire nan lebih umum dan sudah mempunyai vaksin pencegah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status darurat kesehatan internasional sejak 17 Mei lalu. CDC memproyeksikan skenario terburuk bahwa kasus bisa membengkak hingga 20.000 alias lebih, tergantung pada efektivitas isolasi pasien nan terinfeksi.
Hambatan Konflik dan Pemotongan Dana Bantuan
Upaya penanggulangan di lapangan menghadapi hambatan berat. WHO melaporkan bahwa pencarian kontak dan investigasi kasus tersendat oleh bentrok bersenjata, ketidakamanan wilayah, perpindahan penduduk, serta akses nan lemah. Di tengah situasi kritis ini, pendanaan internasional justru mengalami tekanan.
Inggris, misalnya, baru menjanjikan support sebesar £21 juta, nomor nan jauh lebih mini dibandingkan £427 juta saat merespons pandemi Afrika Barat. Hal ini terjadi seiring kebijakan pemotongan anggaran support luar negeri Inggris dari 0,5 persen menjadi 0,3 persen dari Pendapatan Nasional Bruto (GNI) untuk dialihkan ke sektor pertahanan.
Kondisi serupa terjadi pada Amerika Serikat. Bantuan luar negeri merosot tajam setelah pembubaran United States Agency for International Development (USAID) oleh pemerintahan sebelumnya yang selama ini mendanai jaringan laboratorium dan surveilans penyakit di Afrika.
Bahaya Misinformasi: Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa misinformasi nyaris sama berbahayanya dengan virus itu sendiri. Fasilitas kesehatan di Kongo Timur dilaporkan menjadi sasaran pembakaran akibat teori persekongkolan nan menyebut pandemi ini sebagai hoaks alias senjata biologis.
Respons Global nan belum Memadai
WHO dan Africa CDC meluncurkan rencana respons berbareng senilai US$518 juta. Namun, para mahir memperingatkan bahwa respons internasional saat ini tetap tertinggal dibandingkan kecepatan transmisi virus di komunitas.
Baroness Chapman, saat berjamu ke Kinshasa, mengakui ada kekhawatiran mengenai kesiapan global. "Saya tidak percaya kita sudah cukup siap dan saat ini respons kita tetap di bawah standar, tetapi ini kudu berubah," tegasnya dalam wawancara dengan BBC World Service.
Dengan jumlah kasus nan nyaris berlipat dobel dalam satu minggu, bumi sekarang berpacu dengan waktu untuk mencegah tragedi kemanusiaan nan lebih luas di wilayah Afrika Tengah. (The Independent/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·