Jakarta - Video pernyataan Amien Rais mengenai kedekatan Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya nan sempat viral, sekarang telah lenyap dari kanal YouTube Amien Rais Official. Awalnya, video tersebut beredar luas di beragam media sosial.
detikcom kemudian melakukan penelusuran terhadap video tersebut. Setelah ditelusuri, rupanya berasal dari akun YouTube Amien Rais Official.
Kemudian detikcom mau mengunduh video tersebut tetapi gagal. Ada keterangan nan menyebut jika video tersebut tidak lagi tersedia, lantaran adanya keberatan resmi nan disampaikan oleh pemerintah. Per pukul 13.51 WIB Sabtu (2/5/2026), video tersebut sudah tak ada lagi di kanal YouToube Amien Rais Official.
Berkenaan dengan perihal tersebut, detikcom sudah berupaya menghubungi Kemkomdigi tetapi belum direspons. Namun, Menkomdigi sebelumnya, menyatakan bahwa apa nan disampaikan Amien Rais itu merupakan tuduhan dan ujaran kebencian.
Meski sumber video awal sudah tak ada, namun video tersebut tetap menjadi perbincangan hangat di media sosial. Potongan-potongan videonya pun telah disebarkan di media sosial.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid angkat bicara soal video nan diunggah Amien Rais di kanal Youtube-nya mengenai kedekatan Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Meutya menyebut video tersebut merupakan pembunuhan karakter.
"Kementerian Komunikasi dan mengidentifikasi sebaran video nan memuat narasi fitnah, Digital (Komdigi) telah pembunuhan karakter dan serangan individual nan ditujukan kepada Presiden RI. Video tersebut diunggah oleh Ketua Majelis Syura Partai Ummat," ujar Meutya dalam postingan IG @kemkomdigi, Sabtu (2/5/2026).
Meutya menyebut pernyataan Amien Rais mengandung ujaran kebencian. Dia menilai pernyataannya bisa berpotensi memecah belah bangsa.
"Komdigi menegaskan bahwa isi video tersebut adalah Hoaks, Fitnah serta mengandung Ujaran Kebencian. Narasi nan dibangun merupakan upaya merendahkan martabat Pimpinan Tertinggi Negara, tidak mempunyai dasar kebenaran serta bagian upaya provokasi untuk menciptakan kegaduhan publik. Hal ini berpotensi memecah belah bangsa," katanya. (amw/dhn)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·