Video: Kurangi "Candu" Impor Minyak, DPR Dorong Percepat Investasi EBT

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia- Di tengah rencana kesepakatan tenteram Iran dengan Amerika Serikat, Harga daya bumi disebut Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto tetap dibayangi dengan ketidakpastian.

Dimana akibat gejolak Harga daya bumi tidak lepas dari kondisi anjloknya produksi minyak negara OPEC di Timur Tengah hingga 8 juta barel per hari imbas perang AS-Iran. Selain itu juga tetap diwaspadai adalah kondisi persediaan minyak aktual di setiap negara, dimana unik Indonesia, persediaan geologis minyak mentah hanya sebesar 2,4 miliar barel.

Bagi Indonesia, gejolak Harga minyak mentah bumi kudu diperhatikan lantaran di 2026 dugaan nilai minyak mentah Indonesia alias Indonesian Crude Price (ICP) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 berada di kisaran USD 70 per barel dengan Rupiah di kisaran Rp 16.500 per Dolar AS.

Saat ICP sudah melonjak di atas USD 70 per barel dan Rupiah melemah menembus Rp 18.200 per Dolar AS kudu diperhatikan lantaran bakal berakibat pada lonjakan subsidi BBM, Listrik dan LPG nan bakal membebani BUMN daya maupun APBN.

DPR RI mendorong upaya pemerintah meningkatkan produksi migas dalam negeri nan diikuti dengan percepatan transisi daya menuju daya baru dan terbarukan (EBT) melalui insentif sector EBT.

Seperti apa Langkah DPR RI mewaspadai akibat gejolak Harga daya ke RI? Selengkapnya simak perbincangan Shania Alatas dan Commodity Expert CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta dengan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Rabu, 17/06/2026)


Add logo_svg as a preferred
source on Google
Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News