Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam upaya mendukung percepatan transisi daya RI menuju Net Zero Emission 2060, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) terus mengembangkan biometanol di Indonesia.
Baru-baru ini Pertamina NRE telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan CRecTech Pte. Ltd Singapura untuk pengembangan akomodasi percontohan konversi biogas menjadi biometanol di KEK Sei Mangkei, Sumatra Utara.
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis mengatakan langkah ini menjadi bagian dari strategi menjangkau pasar biometanol nan sangat besar dengan memanfaatkan besarnya kesiapan limbah perkebunan (waste plantation) dari industri minyak sawit (crude palm oil) berupa Palm Oil Mill Effluent (POME).
Langkah ini selain bisa mengolah limbah industri namun juga bisa mengembangkan daya hijau nan dapat mendukung ketahanan daya nasional. Saat ini telah dilakukan penelitian di laboratorium dan bersiap untuk dilakukan uji coba produksi Biometanol menggunakan POME nan dihasilkan oleh biogas power plants (PLTBg) milik PNRE di Sei Mangkei.
PNRE menargetkan pada akhir tahun 2026 alias awal tahun 2027, Biometanol dari POME sudah bisa diproduksi sekitar 50 ton per tahun. Lalu seperti apa rencana pengembangan Biometanol PNRE? Selengkapnya simak perbincangan Syarifah Rahma dengan Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Selasa, 21/04/2026)
Add
source on Google
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·