Usung Redesain Tebe Modern, 4 Mahasiswa Bali Raih Gold dan Spesial Medal di Ajang WYIE 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Usung Redesain Tebe Modern, 4 Mahasiswa Bali Raih Gold dan Spesial Medal di Ajang WYIE 2026 Ilustrasi(Dok Istimewa)

EMPAT mahasiswa asal Bali sukses menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Mereka sukses menyabet Gold Medal sekaligus penghargaan bergengsi Special Award dari World Invention Intellectual Property Association (WIIPA) dalam arena World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026.

Kompetisi penemuan tingkat Asia ini merupakan bagian dari The International Invention, Innovation & Technology Competition and Exhibition (ITEX 2026) nan berjalan pada 18–20 Mei 2026 di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia.

Tim kerjasama lintas kampus ini beranggotakan Kadek Widiari Dwi Anjani dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa, Ni Kadek Sintya Pradnyani Putri dari Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, serta Kadek Wisnu Nara Pratama dan Bagus Nyoman Windu Segara Putra nan keduanya berasal dari Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Ketua tim mahasiswa, Kadek Widiari Dwi Anjani, menjelaskan bahwa penemuan nan mereka usung berakar dari keprihatinan terhadap masalah lingkungan di tanah kelahirannya. Mereka mengembangkan SWATEBA, sebuah konsep redesain teba (pekarangan belakang rumah tradisional Bali) menjadi lebih modern dan berbasis teknologi.

"Kami mengangkat rumor 'teba' lantaran memandang persoalan pengelolaan sampah organik di Bali nan semakin serius seiring berkurangnya lahan untuk sistem teba tradisional. Banyak sampah organik nan akhirnya hanya menumpuk tanpa pengelolaan nan baik sehingga menimbulkan pencemaran dan gas metana," ujar Widiari saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis (21/5).

Melalui SWATEBA, sistem tradisional ini dimodifikasi agar lebih efektif dan ramah lingkungan, namun tetap mempertahankan nilai kearifan lokal Bali. Widiari berambisi penemuan ini tidak berakhir sebagai prototipe perlombaan saja, melainkan dapat diterapkan secara nyata di desa-desa sebagai solusi pengelolaan sampah berkelanjutan.

Dosen pembimbing tim, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., menyatakan kebanggaannya atas capaian luar biasa ini. Ia menegaskan bahwa penemuan tersebut merupakan corak kontribusi nyata dari menara gading akademis terhadap persoalan sampah nan sedang dihadapi Bali.

Muliarta memberikan catatan kritis mengenai sistem nan selama ini berjalan. Menurutnya, konsep teba modern nan ada selama ini sebenarnya tetap menerapkan metode open dumping (pembuangan terbuka). Pada sistem tersebut, dekomposisi sampah terjadi secara alami dan tidak terkontrol, sehingga hasilnya tidak dapat diklaim sebagai kompos nan berkualitas.

Oleh lantaran itu, redesain berbasis IOT nan dilakukan oleh para mahasiswa ini membawa perubahan krusial. Pembaruan dilakukan dengan menambahkan sistem aerasi serta perangkat pendeteksi suhu, pH, dan kelembaban. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat mengontrol proses pembusukan secara optimal, mengurangi timbulnya gas metana nan merusak atmosfer, sekaligus memastikan produk akhir nan dihasilkan berupa kompos matang nan siap pakai. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia