USS Gerald R. Ford saat berlayar di Laut Mediterania Timur pada 22 Maret 2026.(US Navy)
KAPAL induk terbaru dan terbesar milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, dijadwalkan kembali ke pelabuhan di Virginia pada Sabtu (16/5) waktu setempat. Kepulangan ini menandai berakhirnya penugasan operasional selama nyaris satu tahun nan penuh dengan misi militer strategis sekaligus tantangan teknis di atas kapal.
Pelayaran ini bakal tercatat dalam sejarah sebagai penugasan operasional terlama oleh kapal induk AS sejak berakhirnya Perang Vietnam. Selama nyaris 12 bulan, kapal senilai US$13 miliar (sekitar Rp208 triliun) ini menjadi ujung tombak beragam tujuan militer Presiden Donald Trump di luar negeri.
Misi Strategis di Venezuela dan Iran
Pejabat militer saat ini maupun mantan pejabat menyatakan bahwa USS Gerald R. Ford memainkan peran krusial dalam operasi militer AS di Iran dan Venezuela. Di Venezuela, kapal ini meluncurkan pesawat nan berperan-serta dalam misi penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro pada Januari lalu.
Sementara itu, dalam bentrok di Timur Tengah, kapal ini berfaedah sebagai platform utama untuk mengirimkan gelombang jet tempur dalam operasi perang Iran. Keunggulan utama kapal ini terletak pada sistem ketapel elektroniknya nan bisa meluncurkan beragam jenis armada, mulai dari drone mini hingga pesawat tempur besar. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh 10 kapal induk AS lain.
Catatan Perjalanan USS Gerald R. Ford:
- Juni: Bertolak dari Virginia menuju Atlantik Utara dan Norwegia.
- Januari: Dialihkan ke Karibia untuk operasi penangkapan Nicolás Maduro.
- Februari-April: Dikerahkan ke Timur Tengah untuk operasi perang Iran.
- Mei: Memasuki Atlantik dari Laut Mediterania untuk perjalanan pulang.
Tantangan Teknis dan Insiden Kebakaran
Meski canggih, perjalanan ini tidak luput dari hambatan serius. Pada Maret lalu, kebakaran dahsyat melanda area binatu (laundry) kapal. Kru memerlukan waktu sekitar 30 jam untuk memadamkan api, membersihkan lokasi, dan memastikan api tidak muncul kembali.
Akibat kejadian tersebut, sekitar 600 pelaut kehilangan akses ke tempat tidur mereka lantaran kerusakan infrastruktur. Selain itu, kapal sempat mengalami masalah pada sistem toilet nan menyebabkan pemadaman parsial berkala, sehingga mengharuskan kapal bersandar di pelabuhan untuk perbaikan darurat.
Kepulangan nan Dinantikan Keluarga
Bagi family kru, kepulangan ini merupakan akhir dari penantian panjang nan menegangkan. Amini Osias, ayah dari seorang teknisi listrik penerbangan di USS Gerald R. Ford, mengungkapkan rasa leganya kepada CNN.
"Sekarang saya betul-betul bisa santai, bernapas lega, dan kembali ke pola tidur normal," ujar Osias. Ia mengaku sempat merasa khawatir, terutama saat mendengar berita kebakaran di atas kapal, meskipun kapal tersebut dikenal sebagai nan paling mutakhir di armada Angkatan Laut AS.
Kini, setelah melewati beragam area bentrok dan tantangan teknis, ribuan pelaut di atas USS Gerald R. Ford bersiap untuk kembali berkumpul dengan family mereka di Virginia. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·